Hatiku adalah gambaran dari rasaku Dan kamu.. apa bisa jadi realisaai dari harapku? *** Sepanjang perjalanan Dipta masih mendiamkan Tiara. Padahal gadis itu sudah mencoba berusaha mencairkan suasana kembali dengan berbagai obrolan, yang ujungnya diabaikan oleh Dipta. Bahkan sampai mereka tiba kembali ke penginapan pun, Dipta enggan membalas kata-kata Tiara dalam bentuk apapun. Ia memilih bungkam sangking marahnya. Keduanya hampir masuk ke kamar masing-masing. Tapi Tiara benci diacuhkan seperti ini. Secepat kilat langkahnya mengikuti pria itu, tepat setelah pintu kamar Dipta terbuka, Tiara ikut memaksa masuk. Ia menahan tangan Dipta. Memaksa pria itu untuk mendengarkan ucapannya. "AKU BUKAN PEREMPUAN MURAHAN!" pekiknya lantang. "Kamu jijik denganku?!" Dipta menarik nafas pendek, g

