46. Menamatkan kisah

1515 Kata

Seperti vila kebanyakan, aku menemukan sebuah kursi kayu di belakang bangunan vila dalam pelarian ku. Di atas rumput yang basah karena hujan rintik yang sempat turun. Aku duduk di sana dengan ponsel yang tergenggam erat. Kata demi kata yang dikirimkan oleh Fattah kembali muncul di kepala ku. Tanganku lagi-lagi meremas pakaian di bagian d**a, berharap tindakan bodoh itu akan bisa mengurangi rasa sakitnya. Namun itu sia-sia saja. Siapa yang tidak akan patah hati sepatah-patahnya saat mendengar pria yang beberapa hari yang lalu masih menjadi calon suami, kini justru akan menikahi wanita lain. Terlebih, kebaya itu.. Aku menunduk dengan senyum pahit. Kebaya itu sudah membuat aku jatuh cinta saat pertama kali aku melihatnya. Aku langsung membayangkan diriku yang mengenakan kebaya itu di hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN