“Siapa Ayah bayimu?” tanya Diego, dengan tatapan yang syarat akan rasa kecewa, membuatku hatiku mencelos seketika. Kasihan. Aku pasti sudah sangat mengecewakannya. “Suamiku,” jawabku mencoba tetap tegar, meski dengan kejujuran ini aku mungkin akan kehilangan mereka. “Are you married?” Kali ini Miranda yang bertanya penuh penasaran. “Yes, I’m,” lirihku sambil menunduk penuh rasa bersalah. Demi Tuhan, aku tidak sanggup menatap bola mata dua insan di depanku, yang penuh rasa kecewa. “Kapan?” “Kenapa kau tak pernah cerita?” Mereka bertanya kompak tanpa sadar. Membuat aku hanya bisa mendesah berat mendengarnya. Haruskah aku jujur? “Satu tahun yang lalu. Tepatnya saat aku cuti berkabung atas meninggalnya Papiku.” “Kau menikah di pusara Papimu, huh?!” sarkas Miranda. Tidak apa-apa. Aku

