“Itu bukan anakku! Sampai mati aku tak sudi mengakuinya!” Dhuuaarrrr Seperti baru saja ada godam besar yang menghantam dan memporak-porandakan hatiku hingga benar-benar tak bersisa, saat mendengar pernyataan Kak Sean barusan. A-apa katanya? Sampai mati pun dia tidak mau mengakui bayiku? Lalu ... harus bagaimana aku sekarang? Oh, Tuhan. Malang sekali nasib bayiku. Belum sempat melihat dunia saja, sudah ditolak oleh papanya. Kejam sekali pria ini. Maaf, nak. Maafkan Mama karena membiarkan kamu mendengarkan pengakuan kejam itu. Maafkan Mama yang tidak bisa membuatmu diakui, dan .... Plak! “Sean, cukup!” seru Mama Sulis dengan murka, setelah menampar keras pipi anaknya. Tamparan itu bahkan sampai menggema di ruangan luas ini saking kerasnya. Namun sayangnya, aku terlalu shock untuk ikut

