Aku hanya bisa tertunduk, menatap jari jemariku yang saling bertaut sementara Mas Athar fokus menyetir. Aku tidak berani bertanya dia akan membawaku ke mana, sebab raut wajahnya sudah seperti singa yang sedang murka, tentu aku tak mau diterkam olehnya. Tak berselang lama, mobil berhenti sehingga aku pun mendongak. Mas Athar berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. “Kita mau ngapain di sini, Mas?” tanyaku yang sudah sangat penasaran. Mas Athar tak menjawab, dia keluar dari mobil lebih dulu, aku yang masih bingung tetap bergeming di tempat hingga Mas Athar membukakan pintu. Mau tak mau aku ikut keluar, lalu dua orang pria berjas hitam menyambut kedatangan Mas Athar, mereka membungkuk memberi hormat. Mas Athar memberikan kunci mobilnya pada salah satu pria itu lalu dia membawaku ma

