Sahabat

1922 Kata
. . Allah tidak akan menyia-nyiakan hati hamba-Nya yang tersiksa karena tak juga bisa dekat dengan-Nya. . . PLAKK!! Majalah itu dilempar Rodja di meja kantin, persis di hadapan Ray. Rodja sudah hapal, Ray dan lainnya pasti masih nongkrong di kantin jam segini setelah selesai sekolah. Toni berhenti menyeruput teh botolnya. Andre berhenti membaca komiknya. Ray sedang duduk dengan satu kaki dilipat naik ke bangku. Mereka bertiga bengong menatap majalah yang dilempar Rodja. Ray berusaha terlihat menyambut. “Wah Rodja! Welcome back! Gimana kabarmu?” “Tidak lucu, Ray. Kemarin aku sedang salat,” ucap Rodja dengan emosi diredam. Ray tersenyum tanpa merasa bersalah. “Jangan marah gitu, dong Ja. 'Kan cuma bercanda. Habis gimana dong? Chat gak dijawab, telpon gak diangkat. Tiap ke kelasmu, kamu di masjid atau lagi makan di luar. Jadi aku coba cari perhatian dikit doang. He he.” Rodja masih menatapnya kesal. “Aku berhasil 'kan? Buktinya kamu ke sini sekarang,” kata Ray tersenyum nyengir. “Duduk di sini, Ja. Jangan berdiri kayak manekin gitu,” imbuhnya ngasal. Masih tak ada senyum sedikit pun di wajah Rodja. “Aku ke sini bentar doang. Cuma mau balikin majalahmu. Kalau kamu ulang sekali lagi, aku bakal benar-benar marah.” Ray berdiri dari duduknya dan mencegat Rodja yang sudah berbalik badan. “Ja, kamu kenapa sih? Kenapa kamu menghindar? Apa ada sesuatu malam itu waktu kamu dan Vira ditinggal berdua?” Wajah Rodja berubah mendengar nama Vira disebut. Dia berusaha melupakan malam sial itu, dan sekarang Ray malah mengungkitnya lagi. Rodja menarik tangannya. “Gak ada apa-apa,” jawabnya sambil buru-buru pergi. Mereka bertiga melihat Rodja berjalan menjauh. “Kamu beneran taruh majalah ini di sajadah Rodja pas dia salat, Ray?” tanya Toni seraya memandang Ray tak percaya. Ray cuma menjawabnya dengan lirikan malas. Toni menggeleng-gelengkan kepala. “Kubilang juga apa. Marahnya orang pendiam itu seram, Ray,” komentar Andre sambil membuka-buka lembaran majalah dewasa milik Ray. Ray terdiam. Rodja benar-benar marah. Sepertinya sebaiknya dia menjaga jarak dulu sementara. Apa pun itu, jelas sesuatu terjadi pada malam itu di HR. Sebenarnya Ray sudah bisa menebak kemungkinan yang terjadi. Tentu saja Rodja tak akan menceritakannya. Dan lagi, Ray pikir, mungkin dia terlalu ceroboh, berusaha memaksa Rodja minum bir malam itu. Ray mengira, Rodja akan bersemangat karena ada perempuan cantik yang menemani mereka minum malam itu. Ternyata dia salah. Aku akan menunggu saat yang tepat untuk mendekati Rodja lagi, benak Ray membatin. Andre tiba-tiba memecah keheningan. “Ray, pinjam majalahmu, ya. Banyak yang bagus ini ... seksi-seksi ... haduuh.” Toni menyambar majalah itu. “Aku pinjam duluan ya Ray?” tanya Toni pada Ray. Mereka berdua lalu bertengkar memperebutkan siapa yang akan meminjam majalah itu duluan. Ray mengamati mereka dengan tatapan datar. Rodja harus segera kembali. Aku tidak tahan dengan dua i***t ini.   *** “Nasi campur di seberang itu rasanya lumayan lho, Ko,” kata Rodja mempromosikan makanan yang biasa disantapnya di luar sekolah. Riko biasanya selalu makan di kantin. Kadang bareng teman sekelas, kadang sendirian. “Oh ya? Aku belum pernah nyobain sih. Mau makan siang di sana?” tanya Riko bersemangat, dijawab anggukan oleh Rodja. Mereka menuruni tangga ke lantai dasar. Setelah sampai di bawah, Rodja langsung berbelok ke kiri, yang mengarah ke gerbang. Riko menahan tangannya. “Tunggu, Ja. Kamu mau ke mana?” “Lho? Kita mau makan di luar 'kan?” Riko tersenyum “Iya, tapi kita salat dulu yuk. Kalau kita makan duluan, nanti salat berjamaahnya keburu selesai.” Rodja terdiam. Benar juga, pikirnya. Itu yang terjadi selama ini, kenapa dia tidak pernah kedapatan salat jamaah. Mereka berbalik arah ke masjid. Sepanjang perjalanan, Rodja menyadari, inilah kali pertama dia berteman dengan seseorang yang mengajaknya salat berjamaah, tepat waktu.   *** Warung nasi campur itu penuh, tapi Rodja dan Riko masih kedapatan tempat duduk di ujung, yang posisinya terdekat dengan trotoar. “Gimana urusan dengan Ray?” tanya Riko hati-hati, masih teringat wajah kesal Rodja kemarin. "Sudah kukembalikan majalah itu. Jangan bahas dia, nanti nafsu makanku hilang,” jawab Rodja sebelum memasukkan suapan nasi ke mulutnya. Riko makan sambil sesekali menatap Rodja heran. “Ray teman nongkrongmu 'kan? Kupikir kalian deket banget." “Teman nongkrong, iya sih. Tapi gak dekat-dekat amat. Biasa saja,” jelas Rodja tak acuh. Riko berusaha mengubah topik pembicaraan Mereka meneruskan makan sambil mengobrol mengenai rencana kuliah masing-masing. Rodja jadi tahu, rupanya Riko berminat dengan jurusan Psikologi. Pembicaraan berbelok ke arah pertandingan sepak bola Liga Inggris yang akan berlangsung minggu depan. “Kamu dukung klub apa, Ja?” tanya Riko. “Arsenal, dong,” kata Rodja sambil tersenyum tipis. “Wah pas! Sabtu depan 'kan Arsenal lawan Chelsea! Aku pegang Chelsea, Ja! Nobar* yuk dirumahku, mau?” (*Nonton bareng) “Ayo!” sahut Rodja antusias. Dia sendiri belum pernah main ke rumah teman, kecuali dengan anak tetangga di sekitar rumahnya. Itu pun sudah jarang dilakukannya. “Gak nyangka kamu suka bola juga,” komentar Rodja. “Kenapa gitu?” tanya Riko dengan kernyitan di dahinya. “Kirain, kamu anak masjid,” jelas Rodja selepas meneguk teh botolnya sekejap. Istilah yang disebut Rodja membuat Riko terdiam sesaat sebelum tawanya pecah. “Anak masjid? Seumur hidup baru kali ini ada yang sebut aku anak masjid.” Rodja mengangkat pundaknya “Yah ... kamu tahulah maksudku. Anak masjid itu ... hmm ... yang sering terlibat kepanitiaan kalau ada hari raya atau maulid, .... ya begitulah,” jelas Rodja ragu. "Aku gak pernah jadi panitia masjid, tapi kadang kalau mereka perlu bantuanku, aku bantu dikit-dikitlah,” kata Riko nyengir. "Sama aja dong," ujar Rodja setelah memicingkan mata. Riko tertawa. "Beda dong." Riko mengelap bibirnya dengan tisu, lalu tersenyum. “Aku memang hobi berlama-lama di masjid. Energinya beda di masjid. Ada alasan kenapa masjid disebut 'rumah' Allah.” Rodja tercenung melihat ekspresi Riko berubah lebih serius. “Kamu juga pasti tahu itu. Ya 'kan?” tanya Riko dengan cengiran khasnya. Mengesankan seolah dia anak yang senang bercanda. Padahal begitu kenal lebih dekat, Riko anak yang serius saat membahas agamanya. Risih saat disebut 'anak masjid,' tapi tiap hari curi-curi waktu zikir setelah jamaah bubar. Bibir Rodja tersenyum mengembang. Ada rasa iri dalam hatinya, pada teman barunya ini. Iri dalam artian positif. “Dua tahun belakangan ... aku gak bisa khusyuk salat," ucap Rodja tiba-tiba. Hening di antara mereka. Riko menatap sorot mata Rodja yang serius. Kalimat barusan, adalah pengakuan penting bagi Rodja, Riko merasakannya. Tepukan pelan di bahu, membuat Rodja menoleh. Senyum dari sahabat barunya, membuat Rodja merasa tidak sendirian. Rasa yang tak didapatinya tiap berkumpul dengan geng Ray. "Ustadku bilang, iman seseorang itu naik turun. Itu wajar. Jangan khawatir. Allah tidak akan menyia-nyiakan hati hamba-Nya yang tersiksa karena tak juga bisa dekat dengan-Nya." Kalimat itu, entah bagaimana, menembus kalbu dan nyaris membuat tenggorokan Rodja merasa tercekat. "Thanks," ucap Rodja, bahkan tak yakin kata 'terima kasih' layak untuk disandingkan dengan kalimat penghiburan seindah itu. *** Sabtu sore itu, Riko membukakan gerbang rumahnya yang terbuat dari kayu, setelah Rodja mengayunkan bel kuningan yang tergantung di dekat gembok. Rumah Riko terlihat lebih sederhana dibanding rumahnya. Rumah satu tingkat itu terlihat mungil namun teduh, dengan atap teras yang dirambati oleh tanaman jalar, dan sebuah pohon belimbing di halaman depan. Rodja tertawa melihat Riko sudah siap mengenakan kaus Chelsea-nya. Sementara Rodja masih mengenakan kaus putih polos. Dia menyimpan kaus Arsenal-nya di tas. “Semangat bener. Masih lama pertandingannya jam sepuluh!” kata Rodja selepas tawanya. “Haish santai. Kita 'kan mau tanding PES dulu. Main bola beneran mah capek, jadi main game bola aja deh. Bisa sambil makan keripik,” ujar Riko nyengir sambil mengunci gerbang, dan mengarahkan Rodja ke pintu masuk. Ketika Riko membuka pintu, Rodja agak terkejut menemukan sepasang orang tua yang ditebaknya adalah ibu dan bapaknya Riko, sedang duduk di ruang depan . Rodja membungkuk hormat. “Assalamualaikum. Permisi, Om, Tante.” “Wa alaikum salam. Masuk, Dek,” sahut mereka berdua dengan senyum hangat. Kehangatan yang sedikit banyak berefek ke relung dadanya. “Bu, Pak ... ini Rodja, teman sekolah,” kata Riko. Rodja bersalaman mencium tangan mereka berdua. Mereka mengobrol sebentar dengan Rodja, menanyakan di mana rumahnya, apakah dia satu kelas dengan Riko, dan pertanyaan lainnya. Setelah itu barulah Riko mengajak Rodja ke kamarnya. Mereka berjalan melewati ruang tengah. Sebuah pintu geser terbuka, mengantarkan mereka ke sebuah koridor kecil beratap transparan. Cahaya matahari menerangi koridor dengan pintu-pintu kamar. Riko membuka salah satunya. Kamar Riko cukup rapi, dan memiliki jendela menghadap teras. Jendela itu dia buka, dan sebuah kipas angin di pojok ruangan dinyalakan. “Kamu datang pas banget, Ja,” kata Riko sembari menyalakan tombol power komputer PC-nya. “Pas banget kenapa?” tanya Rodja yang tengah duduk di tepi kasur sambil melihat-lihat poster-poster Chelsea yang ditempel di dinding. Bahkan bed cover-nya bermotif lambang Chelsea. Rodja menyadari, ternyata Riko benar-benar fans berat Chelsea. Di kamarnya tak ada pernak pernik Arsenal sebanyak ini. “Iya. Aku baru sampai rumah setengah jam yang lalu,” lanjut Riko sambil memasang game pad ke USB port. “Kamu habis jalan-jalan?” tanya Rodja dengan nada heran. Ngundang orang ke rumahnya, tapi dia sendiri malah jalan-jalan paginya. Antik benar temannya ini, pikir Rodja. “Aku baru pulang dari kerja sambilan,” jelas Riko sambil memutar kursi hitamnya ke arah Rodja. Rodja terkejut mendengarnya. “Kerja? Kerja apa?” “Cuma kerja sambilan. Kecil-kecilan, lumayanlah buat nambah uang jajan. Aku diminta Omku bantu-bantu angkat sound system untuk band. Biasanya Sabtu Minggu ada aja band yang manggung. Tadi aku baru balik dari SMA di daerah Pasar Minggu.” Rodja menatap Riko kagum. Walau keluarga Rodja pemilik usaha restoran, dia belum pernah sekali pun dilibatkan. Papanya ngotot tak memperbolehkannya terlibat sebelum lulus. Sementara Riko sudah menghasilkan uang sendiri sebelum lulus. Lagi-lagi, dia merasa kalah dari Riko. “Oi ... ngapain bengong, Ja?” Tangan Riko melambai di depan wajah Rodja. “Oh! Maaf. Gak ada apa-apa,” sahut Rodja tersenyum. “Jadi, kita mau main PES sekarang? Apa aku perlu ganti kaus Arsenal? Ha ha!” “Iya dong! Buruan ganti!” Rodja segera membuka tas ranselnya dan mengeluarkan kaus Arsenal berwarna merah hitam. “Kamu nginep 'kan?” tanya Riko. “Iya dong. Aku sudah bawa tiga kaus ganti, satu celana panjang, handuk, terus ada sikat gigi, sabun mandi, sabun wajah, parfum, krim wajah, ... ,” gumam Rodja seolah daftar barang-barangnya tak berujung. Riko bengong, baru sadar kalau tas Rodja terlihat besar. “Kamu cuma nginep satu malam, lho Ja,” kata Riko seolah mengingatkan, siapa tahu Rodja khilaf dan membawa perlengkapan menginap seminggu. Rodja melihat bingung ke arah Riko “Maksudmu? Aku memang biasa begini kalau nginap sehari.” “Ya ampun. Bawaanmu lebih heboh dari perempuan,” ceplos Riko tanpa disaring. Alis Rodja berkerut protes. “Riko ... Riko. Mencegah kulit kita kering, sangat krusial. Bahkan tiap nginap di hotel, aku selalu bawa krim sendiri. Kalau pakai krim hotel, suka gak cocok soalnya.” Rodja berdiri dengan kaus di genggaman tangannya. “Aku gantinya di toilet aja deh. Tiba-tiba kebelet.” "Tahu toilet di mana 'kan?" tanya Riko memastikan. "Tahu kok," jawab Rodja santai. Dia masih ingat tadi melihat kamar mandi di dekat ruang tengah. Rodja keluar dari pintu dan pintu kamar ditutup kembali. Riko diam terpaku di kursinya. Anak itu mengalihkan pandangannya ke tas Rodja, lalu menggelengkan kepala. Napasnya diembuskan. Masih lekat dalam ingatan, reaksi teman barunya itu saat melihat ibunya di ruang tamu. Rodja ... Rodja ... Ekspresi Rodja sangat jelas. Sahabat barunya itu mungkin lihai berlagak cool, setidaknya di depan teman-teman satu gengnya, namun agaknya bukan tipe yang bisa menyembunyikan kehilangan, terutama di depannya.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN