Gosip Tentang Laura

1869 Kata
. . “Jadi, Laura dikeluarin dari sekolah lamanya, gara-gara dia ********??" . . *** Rodja dan Annisa duduk di sofa, terpisah dari Ustaz Yahya di ruang makan. Namun Ustaz Yahya masih bisa mengamati sepasang remaja itu, dari posisi duduknya. Sesi perkenalan mereka yang biasanya. Annisa mengamati Rodja diam-diam. Dilihatnya Rodja sejak tadi diam tertunduk. "Kamu sakit?” tanya Annisa. "Hah?" sahut Rodja heran dengan pertanyaan itu. Annisa sedang tersenyum hangat padanya. Aneh, pikir Rodja, Annisa cantik, tapi berbeda dengan Laura yang menatapnya seolah menggelorakan darah, Annisa berbeda. Gadis di hadapannya ini membuat hatinya tenang saat menatapnya. "Enggak, kok. Aku gak sakit," jawab Rodja melihat ke arah lain. “Syukurlah. Matamu agak merah soalnya. Kukira kamu sakit,” ucap Annisa. Rodja menatapnya lagi. Ekspresi lega Annisa nampak tulus dan tak dibuat-buat. Mata Rodja agak merah lantaran tadi habis menangis. Annisa tak melihatnya untungnya, karena sengaja diminta Ustaz Yahya membantu Bibi di dapur, hanya supaya Rodja bisa menumpahkan uneg-unegnya. Keheningan kembali kental di antara keduanya. "Papaku bilang, kamu kasih satu syarat untuk yang bakal dijodohin sama kamu, yaitu harus seorang qari. Benar begitu?" tanya Rodja. Pertanyaan itu membuat muka Annisa memerah malu. "I-Iya," jawabnya menundukkan pandangan. "Kenapa syaratnya bukan harus hapal qur'an atau minimal hapal sekian juz? Kenapa qari?" tanya Rodja lagi, mulai terdengar seperti sedang mewawancarai Annisa. "I-Itu ... soalnya ... aku suka aja, sama yang bisa baca qur'an dengan indah. Yang suaranya bisa menggetarkan hati pendengarnya," jawab Annisa malu-malu. Rasa malu itu kini dirasa juga oleh Rodja. Menggetarkan hati pendengarnya, kata Annisa. Berarti, menggetarkan hati Annisa juga? Tiba-tiba bayangan akan ekspresi terpana Annisa setelah mendengar dirinya membaca qur'an kemarin, muncul di benak Rodja. Rodja membuang muka. "Kudengar kamu sudah sempat dijodohin sama beberapa laki-laki sebelumnya?" tanya Rodja tiba-tiba. "Iya," jawab Annisa salah tingkah. Rodja menoleh ke arah Annisa. "Kata Papaku, kamu cuma mau ketemu lebih dari sekali pertemuan, sama satu atau dua orang aja?" Kali ini Annisa hanya menjawabnya dengan anggukan. "Kenapa hari ini masih mau ketemu sama aku?" tanya Rodja, pertanyaan yang membuat Annisa merah padam wajahnya. Suasana hening membuat keduanya canggung. “Kamu punya kakak atau adik?” tanya Rodja berusaha mengalihkan pembicaraan. “Aku anak paling bungsu. Punya satu kakak perempuan dan yang tertua ada satu kakak laki-laki. Mereka sudah menikah dan masing-masing punya satu anak. Kakak perempuanku dan keluarganya masih tinggal di rumah bersamaku,” jawab Annisa tanpa melihat langsung ke arah yang bertanya. Rodja mengangguk. “Pasti senang ada di rumah yang ramai, ya?” kata Rodja. Annisa menoleh dan menemukan ekspresi sedih di wajah Rodja, meski samar. Dia tahu Rodja anak tunggal. “Biasa saja. Gak terlalu ramai juga. Banyak aktivitas di luar rumah, jadi rumah sering sepi juga," kata Annisa seolah menghibur Rodja. Mereka kembali saling diam karena masih juga canggung. Ustaz Yahya tahu-tahu sudah berdiri di dekat mereka. “Maaf ganggu kalian. Rodja, apa di dekat sini ada masjid?” “Ada, Pak Ustaz. Gak jauh dari sini. Kita mau salat Magrib di masjid? Biar saya antar,” kata Rodja menawarkan dirinya menjadi supir dadakan. “Ya kurasa sebaiknya kita jamaah di masjid saja. Gimana kalau kita berangkat sekarang?” usul Ustadz Yahya. Rodja manut. Mereka berdiri bersiap-siap. Rodja mengantar Ustaz Yahya dan Annisa dengan mobilnya. Setelah wudu, Rodja berdiri di belakang Ustaz Yahya, yang sedang meletakkan benda di dalam kantung bajunya, ke ujung sajadah. Rodja sudah melihatnya saat mereka pertama kali salat berjamaah di rumahnya. Dia sempat berpikir, benda yang selalu dipegang Ustaz Yahya adalah kunci brankas atau benda penting semacamnya. Tapi benda itu adalah sebuah tasbih. Rodja merasa takjub, bagaimana mungkin zikir dan bicara bisa dilakukan bersamaan? Beliau bukan orang kebanyakan sepertinya, batin Rodja. "Kamu mau kuantar pulang?" tanya Rodja pada Annisa selepas salat. "E-Eh ... syukron, tapi aku biasa ke mana-mana sendiri. Naik angkot dekat kok dari sini," kata Annisa menolak dengan rona di pipinya. Gadis itu pamit pulang lebih dulu. Ustaz Yahya yang berdiri di samping Rodja, melirik Rodja dengan tatapan penuh arti. Rodja salah tingkah. Apa ada yang salah dari sikapnya barusan? Mestinya dia tidak menawarkan mengantar Annisa pulang, kah? pikirnya. Ustaz Yahya tersenyum. "Lain kali kalau mau antar Annisa pulang, saya juga harus ikut. Saya kenal sama Abinya Annisa. Atau biar sekalian kamu mampir kenalan sama keluarga Annisa?" "E-Enggak, Ustaz. Maaf," ucap Rodja tertunduk malu. Ustaz Yahya terkekeh. *** Rodja sedang makan siang di kantin bersama Riko. Rodja yang makan dengan kecepatan tinggi. “Ko, aku duluan ya,” ujar Rodja setelah selesai makan. “Lho? Ke mana buru-buru, Ja?” tanya Riko heran. “Ke ruang guru. Urusan sama guru kesenian belum selesai,” jelas Rodja bersiap pergi. “Ha? Bukannya kemarin udah --?” “Ah iya. Kemarin ada ... hm ... hambatan. Jadi aku cuma sempat sebentar di ruang guru. Sudah keburu bel,” kata Rodja dengan ekspresi malu. Teringat kelakuannya kemarin saat dicegat Laura. Rodja pamit dan pergi setengah berlari ke ruang guru. Riko melanjutkan makan. Mendadak terdengar suara berisik dari arah genk GoSh*t. “SERIUS!!???” pekik salah satu dari mereka “IYA! Ih kok gak percaya? Masa aku nyebarin berita HOAX?” “Jadi, Laura dikeluarin dari sekolah lamanya, gara-gara dia kepergok mesra-mesraan sama guru muda di sana??” “Bukan cuma itu! Gosipnya, istri guru itu tahu hubungan mereka, dan datang melapor ke Kepala Sekolah!!” “Wah! Gila bener nih gosipnya! Informannya terpercaya gak, nih?” “Gak diragukan lagi! Informanku di sana adalah orang yang dengar langsung pas istri guru itu marah-marah di ruang Kepala Sekolah, minta supaya Laura dikeluarkan, dan suaminya dipecat! Dan akhirnya guru itu beneran dipecat!” “Pihak sekolah berusaha nutup-nutupin alasan pemecatan itu, tapi gosip itu menyebar di kalangan tertentu aja. Anak-anak OSIS yang dekat sama guru-guru, dan orang seperti informanku itu, yang kebetulan pas lewat di dekat ruang Kepsek!” Mereka masih sibuk dengan gosip yang menghebohkan itu, sementara Riko menepuk dadanya, nyaris tersedak minuman teh botolnya. Wah gawat ini! Apa aku perlu cerita ke Rodja? pikir Riko ragu. Riko berusaha mengabaikannya. Toh itu baru gosip, belum tentu benar. Sekalipun gosip itu benar, Riko tidak tega menyampaikannya ke Rodja. Bagaimanapun, Laura adalah pacar pertama Rodja. *** Malam itu Rodja kembali memimpikan anak perempuan itu. Anak perempuan berseragam SD. Kali ini, mimpi itu berlangsung di sebuah ruang kelas. Rodja yang tadinya berdiri sendirian di depan kelas, tiba-tiba ditemani seorang anak perempuan di sampingnya. “Kenapa kamu mau begini?” tanya Rodja. “Gak apa-apa, Rodja,” sahut bocah perempuan itu tersenyum. Rambut kuncir duanya yang dipita merah dan senyumnya yang membuat matanya menyipit, membuat bocah itu nampak menggemaskan. “Jangan khawatir, Rodja. Aku gak akan biarin kamu berdiri disetrap di sini sendirian,” imbuh gadis cilik itu. Rodja terbangun. Kamarnya gelap, seperti biasa dia memang selalu mematikan lampu kamar sebelum tidur. Kipas angin masih berputar pelan. Dia melihat jam weker. Jam tiga. Rodja segera ke kamar mandi mengambil air wudu. Salat Tahajud. Kali ini dia menambah rakaat salatnya. *** Ray sedang berada di atap gedung A. Angin bertiup kencang, membuat rambutnya berantakan. Matanya menerawang melihat orang-orang lalu lalang di bawah gedung. Setelah seminggu di Kalimantan menghadiri pesta pernikahan ayahnya, dia akhirnya kembali ke Jakarta. Dan persis seperti yang diduganya, ayahnya sekarang sibuk dengan istri barunya. Ray merogoh ponselnya di kantung celana. Tidak ada telepon, SMS atau chat dari ayahnya. Tidak sejak dia berangkat ke bandara. Ayahnya bahkan tidak bertanya jam berapa penerbangannya. Apakah dia perlu diantar ke bandara? Ayahnya hanya menugaskan supir untuk mengantarnya ke bandara. Sama sekali tidak bertanya, apakah dia sudah tiba di Jakarta dengan selamat. Perasaan apa yang bisa menggambarkan emosinya saat ini, dia tidak yakin. Seperti ada batu berat di dalam dadanya. Amarah yang nyaris tak bisa ditahannya. Kemarin lusa setelah tiba di Jakarta, Ray langsung menghubungi Andre dan Toni, mengajak mereka ke club dan minum lebih banyak dari biasanya. Tadinya dia ingin mengajak Rodja, tapi tentu saja Rodja tidak bisa diajak minum. Berharap dengan minum lebih banyak, perasaan gundah ini hilang, tapi tidak. Kegundahan itu tetap ada di sana. Apa yang harus dilakukannya? Dia perlu sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang bisa membuatnya lupa. Sesuatu yang bisa menghilangkan jenuhnya. Sesuatu ... entahlah. Apa saja. Apa saja selama dia bisa sedikit 'waras' karenanya. Ray menundukkan wajahnya memandangi lantai beton. “Anak-anak bilang, kamu di sini, Ray. Lagi ngapain?” tanya suara seorang perempuan. Ray menoleh ke belakang. ternyata Laura yang bertanya. “Lagi bosan aja, jadi aku nongkrong di sini,” jawab Ray malas-malasan. Laura berdiri di samping Ray. “Sama. Aku juga lagi bosan,” kata Laura dengan helaan napas. “Ngapain kamu di sini? Bukannya pacaran sama Rodja,” komentar Ray dengan ekspresi heran. Laura meliriknya tajam. “Kamu udah lama pergi, jadi gak tahu apa yang udah terjadi di sini!” keluh Laura. “Emangnya ada apa?” tanya Ray dengan mata menyipit. Laura menjelaskan kondisi antara dia dan Rodja. Seperti tebakan Laura, Ray terkaget-kaget. “HAHHH??? KAMU SERIUS?” kata Ray nyaris menjerit. Laura mengangguk lemas. “Rodja dijodohkan? Eh -- dia akan menikahi perempuan berhijab itu?” tanya Ray tidak yakin. Laura memukul lengan Ray hingga Ray berteriak kesakitan sambil mengelus tangannya sendiri. “Dia bilang tidak akan menikahinya! Dia memintaku menunggu tiga bulan! Dia cuma menuhin syarat dari Papanya, untuk jaga jarak denganku selama tiga bulan ini!” kata Laura dengan nada kesal. “Terus, kamu mau?” tanya Ray dengan tatapan tak percaya. Dari yang dikenalnya, Laura mana mau disuruh menunggu tiga bulan? “Awalnya aku gak mau. Tapi Rodja ngejar aku dan minta aku nunggu, jadi aku iya-in aja,” ujar Laura dengan ekspresi berubah sedih. Ray bersiul. “Waw! Aku baru pergi seminggu, udah ada perkembangan menarik kayak gini!” kata Ray dengan tawa di akhir kalimatnya. Laura terlihat makin kesal. “Jangan ketawa, Ray! Ini gak lucu! Sejak Rodja ikut pengajian itu, aku ngerasa dia berubah,” ucap Laura dengan muka seperti akan menangis. “Berubah jadi gimana?” tanya Ray memastikan. “Dia … seperti agak risih kalau kusentuh,” kata Laura menyentuh lengannya sendiri. Ray mulai memasang wajah serius. “Terus kamu mikir apa? Mau putus sama dia?” tanya Ray penasaran. Laura diam saja dengan ekspresi ragu. Tiba-tiba wajah Ray berubah nakal. “Laura, kita 'kan lagi sama-sama bosan. Gimana kalau kita buat permainan? Pura-pura aja, biar kita bisa saling hibur. Mau?" tawar Ray dengan lirikan mata. “Maksudmu?” tanya Laura mengangkat alisnya. “Yah ... kayak yang kita lakuin dulu. Pacaran 'kan cuma status. Emangnya waktu kita SMP dulu, kita pacaran? Enggak, 'kan? Tapi waktu itu kita 'kan ... dekat,” ucap Ray dengan jemari mengelus lembut pipi Laura. Kelopak mata Laura sempat melebar terkejut, seperti tidak yakin dengan ide Ray. Tapi lalu dia terlihat mempertimbangkannya. Ray melangkah mendekatkan ke arah Laura. “Nanti malam kamu ada acara? Udah lama kamu gak 'main' ke rumahku. 'Main', yuk,” ajak Ray dengan suara menggoda. Laura diam sejenak. “Aku gak murah, Ray. Kamu tahu 'kan aku gak murah?” tanya Laura dengan tatapan tajam. “Tahu dong. Kalau gitu, sebelum ke rumahku, kita mampir dulu ke mall. Kamu mau kubeliin apa? Baju? Perhiasan? HP baru? Hm? Sebut aja semua yang kamu mau,” ucap Ray menyentuh dagu Laura. Ide belanja semaunya itu membuat Laura tersenyum lebar. Dia membiarkan Ray memagut bibirnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN