Pacar Pertama

1652 Kata
. . Setelah Rodja pacaran, gak mungkin gak ada yang berubah. . . *** Laura terlihat cemas. Langkahnya dan Rodja semakin dekat dengan parkiran mobil. Bagaimana ini? Dalam sejarah hidupku, aku belum pernah 'nembak' duluan. Padahal aku yakin dia suka aku! Ah sial! batin Laura. Laura tiba-tiba menggenggam tangan Rodja, membuat Rodja terkejut sekaligus bahagia setengah mati. “Rodja, aku suka kamu!” ucap Laura lantang. Dinginnya malam tak mampu mengusir hangat di wajah Rodja. “Aku suka kamu sejak pertama melihatmu. Kamu mau jadi pacarku?” imbuh Laura malu-malu. Rodja kegirangan bukan kepalang. Wajahnya semerah kepiting rebus. Perempuan paling cantik yang pernah dia lihat, memintanya jadi pacarnya! Rodja membalas genggaman tangan Laura. “Aku juga suka kamu,” jawabnya langsung tanpa berpikir. Keduanya tersenyum, berjalan bergandengan tangan. Rodja membukakan pintu mobil Laura, membuat Laura merasa diperlakukan bagai tuan puteri. “Sampai ketemu Senin di sekolah,” kata Laura sebelum memasuki mobilnya. "Sampai ketemu. Hati-hati nyetirnya," balas Rodja dengan pesan 'hati-hati di jalan' a la pasangan romantis. Mereka saling melambaikan tangan. Mobil Laura berlalu. Rodja masuk ke mobilnya, memasukkan kunci, lalu membenamkan wajah ke setir mobil. Berusaha meredam kasamaran yang meluap-luap. Dia baru saja resmi jadian dengan siswi tercantik di sekolahnya. Tepatnya, dia baru saja 'ditembak' oleh siswi tercantik di sekolahnya. Rodja memukul-mukul setir. Rasa bahagia membuatnya serasa ingin berguling di pasir pantai. Rodja membuka ponsel. Chat masuk dari Riko. Skor 2-2! Seri! Tapi total poin Arsenal tetep lebih besar dari New Castle. Tapi teteuub Chelsea peringkat 1, Ja :D :D Rodja tersenyum. Dia mengetik balasan. Liga Inggris masih panjang, bro! Peringkat masih bisa berubah :D Btw, besok kamu ada di rumah jam brp? Rodja kembali memasukkan ponsel ke kantung celana. Dia pikir, Riko tidak akan membalas sekarang. Sebagaimana remaja normal, Riko mungkin sudah tidur. Rodja menyalakan mesin mobil dan mengarah ke rumah. Sekitar setengah jam kemudian, Rodja tiba di rumah. Setelah memarkir mobil, Rodja berjalan perlahan memasuki ruang tengah. Ketika akan menaiki tangga, terdengar suara tepuk tangan. Plok! plok! plok! Rodja menoleh. Papanya yang bertepuk tangan, sedang duduk di kursi ruang tengah. “Bravo, Rodja! Papa akan catat rekor kamu hari ini. Nyaris jam tiga! Selamat!” nyinyir Joni papanya yang tersenyum meledek. Rodja menundukkan kepala. “Ah ... maaf, Pa. Tadi ada temanku yang mabok, jadi aku antar dia pulang dulu,” kilahnya memberi alasan. Joni berdiri dan berjalan mendekati putra tunggalnya. “Kamu masih berteman dengan teman-temanmu yang suka mabok?” tanya pria gagah yang dagunya berewokan tipis itu. “Eh ... iya, tapi aku tidak minum sama sekali kok,” kata Rodja. Joni mendekat ke wajah Rodja dan mengendus-endus. Tak ada bau alkohol sama sekali. Joni menghela napas. “Rodja, Papa memang kasih kamu kebebasan, tapi bukan berarti kamu bisa pulang nyaris jam tiga pagi.” “Maaf, Pa. Aku gak akan pulang selarut ini lagi,” ucap Rodja menundukkan kepala. “Sana cepat tidur. Nanti Papa bangunin kamu salat Subuh,” titah Joni. Rodja mengangguk patuh dan berjalan menaiki tangga. Joni menatap sosok putranya dari belakang. Sudah lumayan lama sejak terakhir Rodja pulang malam. Joni pikir, Rodja sudah kapok bergaul dengan teman-temannya yang urakan itu. Tapi setidaknya malam ini kelihatannya Rodja tidak minum alkohol. Itu sesuatu yang baik, setidaknya. Joni teringat pembicaraannya dengan seorang imam masjid tak jauh dari rumahnya. "Saya sarankan Bapak bertemu dengan Ustadz Yahya. Beliau adalah pewaris sebuah Pondok Pesantren di pinggiran Jakarta. Di Pondok itu ada beberapa anak yang memiliki kasus serupa seperti putra Bapak. Insyaallah Ustadz Yahya bisa membantu." Joni sudah memiliki alamat Ustadz Yahya, tapi dia belum sempat ke sana. Mungkin nanti, pikirnya. Tanpa Joni tahu, bahaya pergaulan liar macam apa yang sedang mengancam putranya. *** Rodja baru saja ganti baju, ketika ponselnya bergetar. Pesan balasan dari Riko. Kamu blm tidur, Ja? Atau jgn2 blm pulang? Sudah salat Isya? Mendadak alarm ponselnya berbunyi. Jam tiga tepat. Dengan tambahan sebuah reminder 'SALAT TAHAJUD!' Rodja menghela napas. Bagaimana mau salat Tahajud, kalau tidur saja belum? batinnya. Rodja mematikan alarm dan membalas chat dari Riko. Udh salat Isya sblm brkt td. Baru nyampe rmh. Capek, tapi bahagia :D Ha ha. Bsk aku ke rumahmu, ya! Riko membalas. Wah parah ni anak. Jam 3 ini Ja. Tidur gih buruan! Rodja bersiap tidur. Lampu kamar dimatikan. Dia menatap putaran kipas angin di langit-langit. Keheningan ini serupa dengan keheningan di rumah Ray. Rodja sebenarnya ingin bicara sesuatu untuk menghibur Ray, tapi pada akhirnya tak ada sepatah kata pun yang keluar. Rasa-rasanya kalimat 'uang tidak bisa membeli kebahagiaan' terdengar begitu picisan di telinga kebanyakan orang, sampai Rodja mengalami dan menyaksikannya sendiri. *** Esoknya, Rodja ke rumah Ray. Sesuai janji, dia menjemput Ray untuk mengambil mobilnya di parkiran basement club SC. Setelahnya, Ray langsung pergi ke sebuah mall, janjian ketemuan dengan seorang perempuan, kenalan barunya katanya. Dia mengajak Rodja, tapi Rodja menjawab sudah terlanjur ada acara lain. Hari itu Ray sama sekali tidak membahas ayahnya, seolah pembicaraan serius semalam hanyalah racauannya di kala mabuk. Sorenya, Rodja tiba di rumah Riko. Riko baru datang dari pekerjaan paruh waktu, membantu Omnya mengurus sound system di sebuah pesta pernikahan. Rodja dan Riko mengobrol di kamar. Seharian Rodja sudah kebelet ingin menceritakan kisah cinta dadakannya kemarin. “KAMU JADIAN SAMA LAURA???” pekik Riko spontan. “Sssttt!! Gak perlu teriak, kan?” protes Rodja seraya menempelkan telunjuk di bibirnya. Riko menutup mulut. “Maaf. Aku kaget banget. Maksudku, apa itu gak terlalu cepat? Kalian 'kan baru ketemu tadi malam. Kamu bahkan belum ngobrol lama sama dia, belum tahu sifat dan karakternya,” tanya Riko. Baginya, wajar saja Laura naksir Rodja. Secara fisik, Rodja menarik kaum hawa normal manapun. “Mm ... sebenarnya iya. Tapi yaa … nanti aku bakal tahu karakter Laura seiring waktu. Ya, 'kan?” jawab Rodja enteng sambil nyengir kuda. “Soalnya, kapan lagi bisa punya pacar perempuan secantik dia? Kecantikan Laura bahkan bisa di sejajarkan dengan Wynonna Ryder, Kiera Knightley dan Demi Moore. Hhh ... ,” ucap Rodja sebelum menutup muka dengan bantal. "Wih. Kalau buat perbandingan, pilih artis yang se-generasi sama kita, kenapa?" sahut Riko geleng-geleng. “Emangnya kamu gak ikut seneng, Ko?” tanya Rodja manyun. “Jangan gagal paham, ya. Aku bukannya iri. Cuma khawatir aja, soalnya kamu pacaran sama dia kayaknya murni karena alasan fisik,” jelas Riko, terdengar seperti calon psikolog. “Iya emang. Yang kelihatan 'kan baru fisiknya aja,” jawab Rodja tanpa pikir panjang. “Oke baeklah. Kalau kamu senang, aku ikut senang,” kata Riko mengangkat bahu. “Thanks, bro. Don't worry. Gak bakal ada yang berubah. Meski pacaran sama Laura, aku tetap bebas temenan sama siapapun,” ucap Rodja yakin. Riko mencibir. "Mana mungkin sama? Pasti beda, lah. Yang ngomong sama, pasti belom pernah pacaran." "Emangnya kamu udah pernah pacaran?" tanya Rodja dengan ekspresi malu. Laura memang pacar pertamanya. Sementara anak-anak lain sebayanya sudah gonta-ganti pacar, Rodja baru pacaran sekarang, di semester terakhir SMA-nya. Untuk ukuran remaja SMA pada umumnya, kondisi ini mungkin agak memalukan. "Belom," jawab Riko cengengesan, dibalas dengan tatapan kesal oleh Rodja. *** “Makan bareng, yuk.” Ajakan dengan suara manja itu datang dari Laura, sambil mengapit mesra lengan Rodja. Mereka sedang berada di koridor kelas, setelah baru saja jam istirahat siang berbunyi. Masih ramai anak-anak berseliweran di sana. Beberapa anak nampak curi pandang ke arah mereka, beberapa di antaranya saling berbisik. “Malu, Laura. Banyak orang, lho ini,” ucap Rodja terlihat salah tingkah. “Gak apa-apa, 'kan? Kita 'kan pacaran. Biar saja semuanya tahu,” sahut Laura tetap melekat pada Rodja bagai materai. “Aku harus salat Zuhur dulu. Nanti aku gak dapet jamaah. Aku salat dulu ya, sama Riko. Nanti kalo makannya bareng Riko gak apa-apa, 'kan?” tanya Rodja. “Yaahh. Aku penginnya kita barengan ke kantin. Makan siangnya berduaan aja, yuk. Riko juga pasti ngerti. Kita 'kan baru jadian, perlu banyak waktu buat saling kenal. Ya, 'kan?" pinta Laura. Rodja terdiam gamang. “Makannya sekarang aja, yuk. Salatnya nanti bisa, 'kan? Ya? Ya, sayang?” rengek Laura berdempetan dengan Rodja pacar barunya. Wajah Rodja merah padam, campuran malu dan bahagia. Kalau yang merengek se-cantik Laura, siapa yang bisa menolak? “Uh ... oke,” jawab Rodja mengalah. Laura merangkul Rodja, melambungkan hati pemuda kasmaran itu. *** Riko sedang makan siang di kantin. Rata-rata teman-temannya sudah makan lebih dulu. Dan sekarang ketika dia makan, biasanya teman-teman sekelasnya sedang di masjid, kecuali beberapa anak yang sepanjang jam istirahat ada di kantin, di antaranya adalah mereka yang duduk di sana, dekat lapangan. Riko melirik ke arah Ray, Andre, Toni dan Laura. Rodja tidak ada di sana, berarti kemungkinan dia di masjid. Riko masih ingat perkataan Rodja kemarin di rumahnya. “Jangan khawatir, gak ada yang bakal berubah.” Riko melengos. Seharusnya pernyataan Rodja waktu itu direkam. Riko berhenti makan, dan mengeluarkan ponsel dan mengetik chat. Aku gak lihat kamu di masjid. Cuma mau ngingetin aja, jgn lupa salat, ya Ja. Riko kembali memasukkan ponsel ke kantung celana dan melanjutkan makan. Suara cekikikan geng GOSH*T di belakangnya terdengar. Riko tebak, mereka pasti sedang bergosip seperti biasanya. “Kalian dah denger? Rodja dan Laura pacaran!” “SERIUSS?” “IYES!! Tadi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Bukan mata kepala orang lain, dong. Mereka terlihat mesraaaa banget di koridor. Macam pasutri aja!” Suara tawa berderai. “Pecah telor, deh! Akhirnya siswa terganteng di sekolah kita, punya pacar juga. Ternyata seleranya Rodja tinggi banget. Tipe dia yang se-cantik Laura gitu. Pantesan Mia aja dulu ditolak.” “Gimana ceritanya? Siapa yang nembak duluan? Rodja atau Laura?” “Mmm ... kurang tahu juga.” “Ah payah nih nara sumbernya kurang lengkap informasinya!” Mereka masih membicarakan betapa Rodja dan Laura terlihat serasi. Tak lama, Riko menuntaskan makanannya dan kembali ke kelas. Ponselnya berbunyi. Balasan dari Rodja. Sori, Ko. Laura ngotot makan bareng berdua, dan ke kantin maunya bareng aku. Aku baru kelar salat di masjid. Thanks, Ko! Riko menghela napas lelah. Ya, 'kan? Setelah Rodja pacaran, gak mungkin gak ada yang berubah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN