Khianat?

1953 Kata
. . Dia tidak yakin, masih pantaskah Ray disebut sahabat? . . Siang itu, Rodja dan Riko hampir selesai makan dan baru akan kembali ke kelas. Namun mereka terhenti saat mendengar suara geng perempuan ceriwis di dekat gerobak mie pangsit. “RAY DAN LAURA??” “Psssttt! Jangan teriak, kenapa?” “Ah yang bener, nih?” “Iya! Yang ini mah bukan gosip! Aku lihat pake mata kepalaku sendiri, kemarin!” “Di mana?” “Di Gedung F yang udah jarang dipake. Paling dipake buat ruang ekskul atau lab dadakan kalau ruangan gedung lain udah penuh.” “Detail dong, sist! Gimana ceritanya? Mereka ngapain?” “Ya aku gak lihat pas ngapa-ngapainnya. Hi hi. Tapi aku lihat Ray dan Laura keluar dari salah satu ruangan kosong di sana. Dan dari gerak gerik mereka, aku yakin mereka habis melakukan sesuatu yang 'nakal' di sana!” Mereka tertawa cekikikan. “Lho? Tunggu dulu. Jadi, Laura udah putus sama Rodja?” Sesi tanya jawab mereka masih berlangsung, saat mata Rodja terbelalak dan mendadak berlari ke arah gedung F. Riko menyusul dari belakang. "Ja! Tunggu!" panggil Riko cemas, mengkhawatirkan yang hendak dilakukan sahabatnya. Sepanjang langkah lari Rodja di koridor, dadanya bergemuruh. Berbagai kilasan peristiwa melintas cepat di memorinya. Saat dia meminta Laura untuk menunggunya tiga bulan, siang itu di atap gedung sekolah. Saat perkenalan pertamanya dengan Annisa dan Ustaz Yahya. Saat perlahan hidup Rodja mulai terisi dengan terjaga di sepertiga malam, ibadah malamnya yang sempat terputus dua tahun lamanya. Lalu saat sikapnya berubah pada Laura. Ada rasa risi saat Laura menyentuhnya. Semenjak itu, sikap Laura berubah kikuk padanya. Karena itu kah? Karena itu, Laura dan -- tanya Rodja dalam batinnya, saat peluhnya menetes membasahi kening. Ingatannya terbang ke momen saat dirinya mengantar pulang Ray yang mabuk berat. Sesuai dugaan Rodja, ada hal berat yang menyebabkan Ray jadi seperti itu. Dan curhat Ray malam itu membuktikan bahwa dugaan Rodja benar. Saat itu mungkin untuk pertama kalinya Rodja merasa mereka berdua benar sahabat yang bisa saling memahami rasa sepi masing-masing. Sepi karena kekosongan dari kasih sayang keluarga. Rodja masih lebih beruntung ketimbang Ray, karena dia masih punya papanya yang mendukungnya sepenuh hati, senantiasa hadir untuknya, berusaha mengisi ketidakhadiran sosok seorang mama. Sementara Ray? Pasca perceraian orang tuanya, ibunya tidak pernah menanyakan kabarnya, dan sekarang ayahnya menikah lagi. Kemungkinan Ray akan semakin diabaikan. Setelah selama ini Rodja pikir Ray adalah temannya, apakah Ray tega mengkhianati Rodja di belakangnya? Rodja menggigit bibir. Tidak. Mungkin ini hanya gosip murahan bikinan geng tidak bermutu itu! pikir Rodja. Jika iya, maka ini adalah fitnah yang besar! Geng gosip itu telah berlaku melewati batas! Napas Rodja sudah ada di ujung koridor gedung F. Dia mengintip perlahan. Sepi, tak ada orang di koridor itu. Suara pintu terbuka mendadak terdengar dari salah satu ruangan. Rodja segera menyembunyikan tubuhnya. Seseorang keluar dari ruangan itu. Orang itu merapikan baju seragam atasannya yang berantakan, dan mengancingkan kemeja bagian atas. Rodja mengintip sedikit dan dadanya bergemuruh saat melihat bahwa siswa laki-laki itu adalah Ray. Rodja memejam dengan jantung berdegup kencang. Entah kelanjutan apa lagi yang akan dilihatnya setelah ini. Sebab firasatnya berkata, ini belum usai. Ray keluar dari ruangan kelas di gedung kosong, dengan baju seragam berantakan. Dia mungkin tidak sendiri. Mungkin ... Ray menoleh ke arah pintu kelas kosong yang terbuka. Dia memberi isyarat anggukan kepala, pada seseorang di dalam. Seorang siswi berambut terurai, muncul dari dalam ruangan. Perempuan itu merapikan seragamnya yang juga berantakan, dan menyentuh belakang roknya yang kusut. Hati Rodja terasa remuk, saat menyadari bahwa perempuan itu adalah Laura. Ray merangkul pinggang Laura, dan Laura bersandar pada Ray. Tidak ada orang di sekitar gedung itu kecuali mereka. Rodja keluar dari persembunyiannya, menatap pasangan itu dari belakang. Tubuhnya terasa lemas, tapi telapak tangannya mengepal dengan sendirinya. Dia sedang mempertimbangkan, apa dia perlu bereaksi terhadap apa yang dilihatnya ini. Dia bisa saja berlari mengejar mereka, dan menghajar Ray. Dia punya hak. Meski dia mengakui belakangan punya perasaan dengan Annisa, tapi yang dilakukan Laura ini sungguh tidak sebanding! Ini jelas-jelas perselingkuhan! Kaki Rodja gemetar menyadari dirinya menjadi korban pengkhianatan sahabatnya sendiri. Dia tidak yakin, masih pantaskah Ray disebut sahabat? Tapi masalahnya, Laura sama sekali tidak terlihat dipaksa. Dia mengkhianati Rodja dengan kemauannya sendiri. Riko datang dan berdiri di belakang Rodja. Walau dari belakang, Riko tahu bahwa Rodja pasti sedang hancur hatinya. Dia sedang berpikir hati-hati, kalimat penghiburan apa yang sebaiknya dia ucapkan. Bulir cair berkilau diterpa bias mentari siang, jatuh melewati sela kaki Rodja. “Ja,” panggil Riko iba. Rodja mengangkat sebelah tangannya, isyarat bahwa Riko tidak perlu mendekat. “Aku gak apa-apa. Jangan khawatir. Ini cuma karena, Laura pacar pertamaku. Maaf, Ko. Aku belum bisa ke kelas. Kamu duluan aja,” kata Rodja dengan suara bergetar. Riko gamang. “Enggak. Aku gak akan ninggalin kamu!” tegas Riko, mengejutkan Rodja. Rodja jadi teringat mimpinya. Dalam sebulan ini, mimpi anak perempuan mungil itu datang bertahap, berupa potongan-potongan kejadian. “Gak apa-apa, Rodja. Aku gak akan biarin kamu berdiri di sini sendirian,” ucap gadis itu dalam mimpi. Air mata Rodja masih berjatuhan. Rasanya aneh. Rodja merindukan gadis itu, yang dia yakini adalah bagian dari masa lalunya saat dia duduk di bangku SD. Bagaimana mungkin Rodja lupa namanya? Ada di mana dia sekarang? *** Hari berlalu ... Pintu kamar Rodja diketuk dua kali. “Assalamualaikum. Rodja, ini aku,” kata suara anak laki-laki yang dikenali Rodja. “Wa alaikum salam. Masuk, Ko,” sahut Rodja dengan suara sengau. Demam Rodja pasti cukup parah, batin Riko. Riko membuka pintu, dan menemukan Rodja berwajah pucat, kening dikompres, rambut berantakan dan bibir Rodja terlihat kering. Rodja memakai selimut, tapi sepertinya tetap kedinginan. Jelas jauh dari imej cool Rodja dalam keseharian normal di sekolah. Riko duduk di tepi kasur. “Gimana kondisimu, Ja?” tanya Riko dengan tas plastik ditentengnya. “Panasnya turun. Semalam tembus angka 40 derajat. Ini sudah 38,” jawab Rodja yang mukanya merah karena panas tinggi. “Syukurlah kalau temperaturnya turun. Ini kubawakan buah pir. Banyak kandungan airnya, Ja. Bagus buat panas dalam. Kutaruh di sini ya,” ucap Riko meletakkan kerajang buah dari dalam bungkusan dan diletakkan di meja nakas. “Makasih, Ko,” kata Rodja. “Pengajianmu gimana, Ja? Berarti libur dulu ya hari ini?” tanya Riko “Ya. Aku gak mau mereka ketularan aku. Papaku yang semalam telepon Pak Ustaz, ngabarin kalau aku sakit,” jawab Rodja. Pintu kamar Rodja diketuk. “Mas Rodja, ada tamu,” kata suara wanita di balik pintu. “Siapa, Bi?” sahut Rodja setengah berteriak parau. Pintu terbuka. Bibi berbisik di muka pintu, “Mbak Annisa dan Pak Ustaz. Ada di ruang tamu,” jawab wanita berambut cepol itu. Rodja melotot. “HAH! Mereka datang? Sekarang?” Rodja segera duduk. Kompresnya jatuh. Dia terlihat panik. “Riko, aku gak bisa kayak gini di depan Annisa,” kata Rodja terdengar bagai meracau. “Hah?” sahut Riko heran. “Cermin. Tolong ambilin cermin kecil, di atas meja itu, Ko! Buruan!” titah Rodja seraya menunjuk ke arah meja yang dimaksud. Riko ikut panik. Dia berlari mengambil cermin. Rodja segera merampas cermin itu, dan membenci apa yang dilihatnya saat berkaca. “Ya Ampun! Gak banget!” keluh Rodja pada dirinya sendiri. Riko memicingkan mata. “Riko, tolong ambilin sisir, sama krim dan toner pembersih muka! Semuanya di meja! Cepetan, Ko!” perintah Rodja lagi sambil tunjuk-tunjuk. “Bi, tolong minta mereka untuk tunggu sebentar,” pinta Rodja pada Bibi. Bibi cekikikan. “Iya, Mas Rodja,” kata wanita itu seraya menutup pintu. “Riko, sekalian pelembab mukaku juga!” Rodja mencium bajunya. “Oh bajuku bau keringet! Ko, sama kausku yang warna hitam di lemari baju! Sama parfum juga, Ko!” teriak Rodja terus-menerus memerintah, membuat urat emosi Riko akhirnya nampak di pelipisnya. “SATU-SATU, JAAA!!” bentak Riko jengkel. *** Pintu diketuk. “Assalamualaikum.” Kali ini suara seorang gadis yang lembut. Suara Annisa membuat jantung Rodja berdebar dibuatnya. “I-Iya. Wa alaikum salam. Silakan masuk,” sahut Rodja malu-malu. Dipikir-pikir, ini adalah momen bersejarah. Pertama kalinya Annisa akan masuk ke kamar tidurnya. Tentu saja mereka tidak berduaan saja. Pintu terbuka. Rodja sudah berganti baju, dan penampilannya sudah jauh lebih baik. Riko masih duduk di sampingnya dengan napas kembang-kempis setelah berlari ke sana kemari. “Oh ... lagi ada temanmu? Kami bisa masuk sekarang?” tanya Annisa ragu. “Iya iya. Masuk aja, gak apa-apa,” jawab Rodja terpana melihat Annisa. Jilbab motif bunga mawar yang dikenakan Annisa, membuat gadis itu nampak lebih cantik dari biasanya. Jantung Rodja makin kebat-kebit dibuatnya. Riko berdiri dan mendekapkan tangannya seraya menunduk sedikit, memberi salam pada Annisa. Annisa membalas salamnya. Riko kemudian mencium tangan Ustaz Yahya. “Pak Ustaz, saya sudah dengar banyak tentang Pak Ustaz. Saya Riko, temannya Rodja,” kata Riko memperkenalkan diri dengan sopan. Pak Ustaz menjabat tangan Riko erat. “Syukron sudah menjenguk Rodja,” kata beliau menepuk pundak Riko ramah. Annisa duduk di samping Rodja. “Gimana keadaanmu?” tanya Annisa lembut. Pipi Rodja merona, kali ini karena kegirangan dijenguk Annisa, bukan karena sakit panasnya. “Sudah membaik, alhamdulillah. Panasnya turun,” jawab Rodja malu. Annisa melihat lap kompres tergeletak di selimut. “Kenapa kamu gak pakai kompresmu?” kata Annisa gemas. Gadis itu mencelupkan lap kompres ke air dingin berisi es di nakas, dan meletakkan kompres dengan hati-hati di kening Rodja. Rona merah di muka Rodja bertambah. Dia melirik Riko yang bermata jahil. Sudah pasti ini akan jadi bahan bercandaannya besok di sekolah. “Maaf kami datang mendadak, Rodja. Saya sudah bilang pada Annisa, kalau mungkin kamu perlu istirahat, tapi Annisa mendesak saya untuk mengantar dia menjengukmu,” jelas Ustaz Yahya tiba-tiba, membuat Annisa berubah ekspresinya bagai kepergok. Annisa menoleh ke arah Ustaz Yahya. “Pak Ustaz!” rengeknya malu. Ustaz Yahya tertawa. Rodja tersenyum melihat tingkah Annisa. Dia merasa hatinya hangat dikelilingi oleh mereka. Annisa dan Ustaz Yahya hanya menjenguk sebentar. Annisa mengantar beberapa buah untuk Rodja, meletakkannya di atas meja. Sekitar sepuluh menitan, mereka pamit, dan Rodja kembali berdua saja dengan Riko. Rodja berbaring. Matanya menerawang melihat langit-langit kamar. “Ko, aku udah mikir semalam. Mungkin aku perlu ketemu sama mereka. Ray dan Laura," kata Rodja. Riko merengut mendengarnya. “Buat apa kamu ketemu mereka lagi? Apa kamu mau mengetes kesabaranku? Aku kesal sekali sama mereka! Aku masih gak terima sama yang mereka lakuin di belakangmu!” bentak Riko. Rodja menegakkan tubuhnya. Dia tidak menyangka Riko akan marah. “Riko, tenang dulu,” ucapnya. Agaknya Riko salah paham. “Apa kami belum cukup buatmu? Kamu punya Papamu, Annisa, Pak Ustaz, aku. Apa kami gak cukup jadi temanmu? Kamu gak perlu pura-pura di depan kami! Kami menerimamu apa adanya! Buat apa kamu masih menemui mereka??” omel Riko jengkel. Rodja membiarkan Riko menumpahkan semua kekesalannya. Riko mengatur nafas, dan Rodja tersenyum. “Kamu udah selesai?” tanya Rodja. “Aku ke sana bukan buat kembali bergaul sama mereka, tapi aku perlu menyelesaikan urusanku dengan mereka. Dan sekaligus, aku perlu meyakinkan diriku sendiri,” jelas Rodja. “Meyakinkan dirimu?” tanya Riko dengan alis berkerut. “Ya. Aku perlu tahu. Setelah apa yang diajarkan Pak Ustaz Yahya padaku, dan setelah aku mengenal Annisa, jika aku berada di antara mereka, apa aku bisa jadi orang dengan sikap yang berbeda, atau jangan-jangan aku masih Rodja yang dulu? Rodja yang perlu pengakuan dari mereka, yang katanya anak-anak gaul, populer, dan apalah itu namanya. Aku perlu tahu, dan untuk itu, aku harus berada di tengah mereka,” lanjut Rodja. “Kamu yakin bisa mengendalikan diri? Gimana kalau mereka berhasil pengaruhin kamu?” tanya Riko, jelas tak suka dengan ide itu. Tatapan Rodja tertunduk, lalu matanya mengarah ke cahaya dari jendela kamar. “Kalau mereka masih berhasil pengaruhi aku, itu artinya aku gak pantas jadi suami Annisa,” jawab Rodja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN