.
.
'Umpan' telah dilemparkan dan dilahap oleh sang ikan.
Tepat sasaran.
.
.
***
Rodja dan Riko baru usai salat Zuhur. Riko menyadari Rodja hendak mengarah ke gerbang. Riko menahan tangan Rodja.
"Ja, tunggu!" seru Riko.
"Kenapa?"
"Kenapa kita harus makan di luar? Kenapa gak di kantin?" tanya Riko yang sebenarnya merasa agak aneh jika mereka terus-terusan makan di luar.
"Ya ... gak apa-apa, sih. Makanan di luar lumayan enak, 'kan?" kilah Rodja tersenyum.
"Apa ada yang kamu hindari di kantin?"
Rodja memalingkan wajahnya.
"Ray, 'kan? Ray dan gank-nya?" tebak Riko langsung.
"Kamu takut apa sih, Ja?" tanya Riko lagi.
Rodja bergeming menatap temannya.
Apa yang aku takutkan?
Entahlah. Aku juga tidak yakin. Mungkin aku takut mereka akan berhasil mengajakku kembali pada mereka, lalu aku akan melakukan kesalahan-kesalahan itu lagi.
Sebagai dampaknya, aku akan 'mundur' lagi.
Jika aku cukup beruntung, aku mungkin bisa bangkit dan memulai lagi dari awal.
Itu jika aku cukup beruntung.
Tanpa kata, Riko seolah memahami kegetiran Rodja.
"Kamu gak sendirian di kantin, Ja. Gak perlu takut." Riko terdengar yakin saat mengatakannya.
Rodja menghela napas. "Oke. Ayo kita makan di kantin."
***
Gerombolan anak-anak perempuan di meja belakang kantin dekat mi pangsit, sibuk mengunyah makanan sambil komat-kamit berceloteh.
"Kalian udah denger gosip yang paling HOT?"
"Ada banyak gosip HOT. Mau bahas yang mana, nih?"
"Hari ini, ada anak baru di kelas 3-3. Pindahan dari SMA di daerah Blok S. Cantiiiiiiiikkk pake banget!"
"Oh ya?? Namanya siapa? Cantik mana sama Mia?"
"Wahh! Jelass cantikan yang ini! Parah ini mah! Namanya Laura!"
Perempuan yang duduk di ujung menimpali, "Oooh! Yang rambutnya ikal mirip barbie, ya??"
"Yak! Anda benar! Apa dia model, ya? Cantik kok keliwatan gitu? Kalau lihat yang kayak dia, aku suka penasaran, makan apa dia? Makan nasi kayak kita, atau makan beling?"
Tawa berderai di antara mereka.
"E bentar. Kenapa dia pindah menjelang akhir semester?"
"Aku belum dapat info soal itu. Nanti coba kukorek dari intelku."
Komentar itu disambut tawa oleh yang lain, lalu mereka lanjut membahas gosip berikutnya.
Rodja dan Riko yang tengah makan selisih dua baris dari meja mereka, bisa mendengar percakapan barusan, dengan cukup jelas.
Riko berbisik, "Anak-anak perempuan di kelasku punya julukan untuk mereka."
"Julukan apa?" tanya Rodja meneguk teh botol.
"Gank GOSIT!" seru Riko berbisik seraya menyembunyikan mulutnya dengan tangan. Ia sendiri kini tingkahnya mirip tukang gosip.
"Apa itu?" tanya Rodja penasaran. Orang Indonesia memang hobinya bikin singkatan, batinnya.
"Geng Tukang Gosip di dekat Mi Pangsit."
Rodja terkikik geli.
Riko menambahkan, "tapi ada juga beberapa yang tidak suka dengan mereka, lalu menambahkan huruf H ke tengah singkatan itu."
Alis Rodja berkerut.
Riko berbisik lagi, "Gank GOSHIT!"
Mereka berdua menahan tawa.
"Riko, kamu baru saja menggosipkan tukang gosip," komentar Rodja dengan sisa tawa.
"AH iya! Astaghfirullah." Riko mengelus d**a.
Mereka melanjutkan makan. Rodja tak sengaja bertemu pandang dengan Ray, yang sedang duduk di meja dekat lapangan. Rodja membuang muka ke arah yang lain. Ingin rasanya bisa tetap bersikap biasa pada mereka, tapi setelah malam sial di tempat hiburan itu, Rodja berat melakukannya, pura-pura baik-baik saja di depan mereka.
"Rodja lagi makan sama siapa, itu?" tanya Ray pada Toni.
Toni melihat ke arah yang dituju Ray. "Oh ... anak itu ... duh aku lupa namanya."
Toni mencolek Andre yang sedang melahap nasi kuning. "Ndre, anak itu namanya siapa ya?"
Andre melongok ke arah yang dimaksud. "Riko, seangkatan kita. Waktu itu dia pernah bantu supply penyewaan sound system. Kalau gak salah, di acara pentas seni pas kita nge-band, Ton."
"Nah, iya! Namanya Riko!" kata Toni membenarkan jawaban Andre.
Ray diam memperhatikan interaksi Riko dan Rodja yang sedang makan bersama.
Riko mengaduk es kopi s**u dengan sedotan. "Kamu udah lihat yang namanya Laura?" tanyanya pada Rodja.
"Belum," jawab Rodja datar sambil mengelap bibir dengan tisu.
"Memang persis seperti apa yang mereka bilang. Anaknya luar biasa cantik. Subhanallah. Aku belum pernah lihat yang seperti itu. Dia seperti kaum hawa yang muncul dari ... dunia lain," jelas Riko sambil menjelaskan dengan gerakan tangan dan sorot mata mengawang-awang.
Rodja memicingkan mata. Riko selalu punya cara yang aneh dan nyeleneh untuk mendeskripsikan sesuatu.
"Maksudku, dia seperti boneka porselen hidup. Kamu akan paham kalau melihatnya sendiri," imbuh Riko.
Riko mendadak berhenti menyeruput minumannya. Mulutnya ternganga ke arah lapangan. "Panjang umur! Itu dia, Ja! Itu yang namanya Laura!" kata Riko antusias sambil menunjuk dengan jarinya.
Rodja menoleh ke arah lapangan. Perempuan itu bertubuh semampai. Saat lebih dekat, barulah Rodja bisa memandangi parasnya dengan jelas. Napas Rodja tertahan. Ternyata Riko benar! Perempuan bernama Laura ini mirip boneka porselen hidup! Rodja sudah melihat banyak perempuan cantik dari club ke club, tapi yang ini berbeda!
Kecantikan Laura bak karya pahatan patung dewi Yunani. Rambutnya bergelombang indah. Dia mengenakan bandana beludru hitam, dengan manik permata kecil di pinggirannya, mirip mahkota. Matanya besar dan bulu matanya lentik. Nampak keceriaan dan semangat hidup di sorot matanya. Kulitnya putih cerah, tanpa sedikit pun noda. Bibirnya tipis seksi, dipulas lipgloss merah muda.
Detak jantung Rodja makin cepat. Darahnya terasa bergejolak. Dia segera berbalik arah, dan kembali meneguk minuman.
"Kenapa mukamu merah?" Riko melihat perubahan ekspresi yang cukup drastis pada wajah Rodja.
"Enggak. Udaranya lebih panas siang ini," jawab Rodja berlagak mengibas-ngibas kerah baju seragamnya.
"Oh? Ternyata Laura dan Ray saling kenal ya?" komentar Riko saat menyadari Laura duduk semeja dengan Ray cs.
Rodja berhenti minum. Dilihat dari bahasa tubuh mereka, agaknya Laura kenalan dekat Ray.
Riko memperhatikan cara Rodja mengamati Laura, yang bagai penembak jitu tengah mengamati buruannya.
***
Beberapa hari setelahnya, Riko menyadari perubahan pada diri Rodja. Rodja sering tidak fokus, seperti ada yang sedang dipikirkannya. Ditanya apa, jawabnya lain. Ditanya "mau makan apa?", jawabnya "pe er matematika sudah beres." 'Kan gak nyambung blas itu.
Siang itu, Riko tidak bertemu Rodja di koridor kelas. Riko menghampiri kelas Rodja.
"Rodja sudah keluar?" tanya Riko pada seorang teman sekelas Rodja.
"Iya. Tadi begitu bel bunyi, dia langsung ngibrit gak tahu ke mana."
Riko berpikir, mungkin Rodja langsung ke masjid.
***
Di halaman dekat gedung lama, beberapa anak perempuan berpakaian seragam cheerleader sedang berlatih formasi. Salah satunya adalah si anak baru, Laura. Meski masih baru, dia langsung diterima di tim cheerleader, rupanya itu karena di sekolah lamanya, Laura memang seorang anggota tim cheerleader senior.
Rodja mengamati Laura dari balik pepohonan semak. Ini pertama kalinya Rodja melihat Laura mengenakan seragam cheerleader. Seragam itu membuat lekuk tubuh Laura lebih jelas. Rambut Laura yang kini di kuncir ke samping, bergelombang menjuntai sedada. Senyum manis Laura sontak membuat detak jantung Rodja makin tidak keruan.
Sudah beberapa hari ini hatinya tidak tenang. Dia tidak bisa fokus hampir di semua hal yang dikerjakannya. Pikirannya dipenuhi Laura. Sejak kali pertama melihat Laura, hati Rodja sebenarnya sudah menetapkan. Dia menginginkan Laura! Titik.
Masalahnya, dia tidak tahu bagaimana cara mendekati Laura. Rodja terlalu gengsi untuk duluan berkenalan dengannya. Bisa-bisa rusak image-nya sebagai lelaki cool. Selain itu, dia merasa terganggu melihat kedekatan Laura dengan Ray.
Bagaimana ceritanya Ray bisa mengenal Laura?
Apakah mereka punya hubungan khusus?
Tapi Rodja tidak mendengar gosip apa pun tentang hubungan mereka. Mungkin mereka hanya teman biasa. Entahlah.
"Ja, lagi ngapain di sini?"
Pertanyaan itu membuat Rodja kaget setengah mati. Ternyata karena sejak tadi sibuk komat-kamit dengan pikirannya sendiri, sampai tak sadar ada Ray di belakangnya.
Rodja segera memasang ekspresi tenang. "Oh, kamu, Ray. Pulpenku sepertinya terlempar ke semak di sini, tapi kucari gak ketemu," jawab Rodja cengengesan.
Ray tersenyum tipis. Rodja sangat payah dalam berbohong. Ray tidak perlu bertanya, sebenarnya. Jelas-jelas dia tahu Rodja sedang mengamati Laura.
"Ja, udah lama banget nih kamu gak jalan sama kita-kita. Jalan, yuk ke club SC di Kemang," ajak Ray.
"Emm ... aku ... ," gumam Rodja bimbang. Dia berpikir, apakah ini kesempatan bagus, untuk menanyakan langsung pada Ray, mengenai hubungan antara Ray dan Laura?
"Nanti ada Laura juga di sana, lho," pancing Ray dengan lirikan mata.
Rodja tidak bisa menyembunyikan ekspresi senang di matanya, dan Ray otomatis menyadarinya.
"Oh ... oke. Hari apa?" tanya Rodja dengan muka berseri.
"Sabtu jam 11. Dateng ya, Ja." Ray tersenyum menang.
'Umpan' telah dilemparkan dan dilahap oleh sang ikan. Tepat sasaran.
***
"Kemarin kamu ke mana, Ja?" tanya Riko saat mereka makan di kantin.
"Kemarin aku ada urusan sebentar. Maaf aku lupa kasih tahu kamu," jawab Rodja tanpa menatap mata Riko.
Riko sebenarnya menunggu penjelasan yang lebih rinci, tapi sepertinya Rodja memang tidak ingin cerita. Riko tidak bertanya.
Mereka berdua diam agak lama, lalu Riko berusaha mencairkan suasana.
"Oh iya, Ja! Sabtu ini Arsenal lawan New Castle, lho! Mau nobar, gak?" ajak Riko semangat.
"Nobar? Jam berapa?" Saking padatnya otak Rodja dengan Laura, hingga mengalahkan keinginan mengecek jadwal pertandingan bola.
"Jam 11!" jawab Riko antusias.
Rodja menundukkan wajahnya. "Aku ... gak bisa Sabtu ini. Ada ... acara."
"Oh, gitu? Wah sayang kamu lagi sibuk," sahut Riko yang tak bisa menyembunyikan kekecewaannya meski memaksa dirinya tersenyum.
"Mm ... iya. Aku diajak jalan sama Ray."
Riko terkejut, tapi kemudian dia kembali tersenyum. "Kalian sudah baikan? Syukurlah kalau begitu."
Rodja membalas senyumnya kaku. Sebenarnya dia ingin menceritakan banyak hal pada Riko. Tapi jika dia melakukan itu, sama saja dengan membuka aibnya, dan aib teman-temannya.
Sejujurnya, janji ketemuan dengan Ray cs, membuat Rodja mengkhawatirkan dirinya sendiri.
Tidak. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Aku tidak akan meminum minuman keras setetes pun!
***