Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, Alb masih terjaga di atas ranjangnya. Dia masih memegang selembar kertas yang harus segera ia tanda tangani. Dalam diam, ingatannya kembali ke masa lampau dimana ia dan Gladys bersepakat untuk berpisah, pada waktu yang telah ditentukan. Inilah resiko yang harus ia tanggung, karena telah mengambil kesepakatan ini. Tangannya meraba nakas dan menarik lacinya, mencari pulpen atau bollpoint di sana. Beberapa saat menyeluk, dia akhirnya mendapatkan bollpoint dengan tinta hitam itu. Ia letakkan kertas itu di atas nakas, dan beberapa saat diam sebelum akhirnya membuat goresan yang membentuk tanda tangannya di atas selembar kertas putih itu. Ia kembali merebahkan diri di atas kasur empuknya dan kembali berusaha memejamkan matanya, meski jelas-jelas saja ia

