"Louis dan Emily belum menelepon juga?" tanya Frank lirih. Kara menoleh ke pintu pantry. Melihat sang CEO tersenyum sendu, alisnya semakin turun. "Belum. Sepertinya mereka marah padaku." Frank mengangguk-angguk. Sambil melangkah masuk, ia memeriksa makan siang sekretarisnya. Salad itu masih utuh. "Mau makan bersamaku? Aku sudah selesai bernegosiasi dengan klien." Kara menggeleng lesu. Melihat gestur yang tak bersemangat itu, hati Frank semakin pilu. "Kara ...." Ia menempatkan tangannya di pundak sang sekretaris. "Aku sangat menyesal telah menyeretmu ke dalam masalah ini. Anak-anak tidak seharusnya marah padamu." Kara membisu. Ia tidak bisa berbohong kalau hatinya tidak terobati oleh kata-kata itu. Lidah Frank pun semakin kelu. "Sepulang kerja, aku janji, aku akan mengurus kesalaha

