"Selesai!" Emily melompat sambil mengepalkan kedua tangan. Ia bangga melihat puncak istana yang ia buat menggunakan cone es krim. Wajah Louis tidak kalah berbinar. Jari kakinya tak henti-henti menggelitik tanah. "Karya seni ini harus difoto. Kita bisa menunjukkannya kepada Nenek nanti. Philip, apakah kamu membawa ponsel?" Pengawal muda itu menunjukkan saku celana pendeknya yang kosong. "Tidak, Tuan Kecil. Tunggu! Saya akan mengambilnya." Sementara Philip berlari sambil mengisyaratkan rekannya untuk mengantarkan ponsel, si Kembar sibuk mengagumi istana mereka. "Kamu memang arsitek hebat, Louis!" "Dan kamu adalah pembangun yang andal. Kalau saja tanganku tidak terluka, kita pasti sudah membuat istana yang lebih besar." Malangnya, tepat ketika Louis selesai bicara, sebuah bola melaya

