Begitu melihat udang yang ditata begitu cantik dalam wadah putih polos itu, Kara tercengang. "Tapi ini sangat mahal." Sambil mengarahkan Kara agar kembali ke kursi, Frank berbisik, "Semahal apa pun itu, racun tetap racun. Cepatlah. Sebentar lagi, dia tiba." Selagi Kara sibuk menimbang-nimbang, Frank menyempal sesendok appetizer ke mulutnya. "Tuan? Bagaimana kalau calon istri Anda marah?" tanya Kara dengan mata bulat dan suara yang tak jelas. Sambil mengelap noda makanan di sudut bibir Kara, Frank tersenyum. "Cepat kunyah." Kara terpaksa menurut dengan alis berkerut. Setelah ia menelan, Frank menyempal dessert ke dalam mulutnya. "Tuan!" "Ayo, cepat. Menyeduh kopi itu tidak lama." Kara menepis tangan yang ingin mengusap bibirnya lagi. Ia tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman a

