"Selama mengenalmu, baru dua kali aku mendengar kepanikanmu. Saat kekasihmu sakit dan saat ini," terang Wela, setengah meledek. Rahang Frank kembali mengeras. Ia sempat mengira kalau Wela mempunyai informasi yang berharga. Ternyata tidak? "Aku tidak panik." "Kau panik di dalam hatimu, Franky. Sekarang, daripada menyangkal, kau sebaiknya menjelaskan kondisi kekasihmu kepadaku." Frank mengepalkan tangan. Ia bisa merasakan dingin pada telapaknya. "Bukan Kara yang sakit, tapi keluarganya." "Oh, dia melarangmu untuk ikut campur? Karena itu, kau memintaku untuk memeriksanya?" Frank merengut, tetapi tidak bisa menyangkal. "Ya. Bisakah kau menanganinya secara langsung? Aku tidak mau ada orang lain yang tahu." Tiba-tiba, tawa kecil Wela menggema. "Franky-ku, kau akhirnya menjadi pria dewa

