(Bagian 1: Aroma Rumah Sakit yang Berbeda)
Bau disinfektan di rumah sakit kali ini tidak terasa semencekam sebelumnya. Bimo sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP dengan penjagaan yang jauh lebih ketat—kali ini bukan hanya satpam gedung, tapi firma keamanan militer swasta yang disewa Adrian. Adikku itu sudah mulai bisa duduk dan meminta komik, meskipun wajahnya masih sedikit pucat.
Aku duduk di kursi samping tempat tidurnya, mengupas apel dengan tangan yang masih dibalut perban. Luka di pergelangan tanganku akibat kabel plastik itu mulai mengering, tapi trauma di kepalaku masih berdenyut setiap kali aku memejamkan mata.
"Kak Arini, kenapa tangan Kakak dibungkus?" tanya Bimo dengan suara kecilnya yang polos.
Aku tersenyum, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. "Hanya kecelakaan kecil saat Kakak memasak, Sayang. Yang penting sekarang Bimo harus cepat sembuh, ya?"
Aku tidak mungkin memberitahunya bahwa kakaknya baru saja bergulat dengan maut di sebuah gudang tua. Aku ingin dia tetap mengenal dunia sebagai tempat yang indah, bukan tempat di mana orang dewasa saling tikam demi tumpukan saham.
(Bagian 2: Kabar dari Ruang Interogasi)
Adrian masuk ke ruangan dengan wajah yang sulit dibaca. Dia mengenakan setelan jas baru, mencoba menutupi luka-luka di tubuhnya, namun jalannya yang sedikit pincang tidak bisa menipu mataku. Dia memberi isyarat agar aku ikut dengannya ke koridor luar.
"Herman Sudirja menolak bicara," ucap Adrian sambil bersandar di dinding koridor yang dingin. "Dia hanya tertawa saat pengacara kita menunjukkan bukti-bukti sabotase. Tapi ada yang lebih aneh, Arini."
"Apa maksudmu?" tanyaku, merasakan firasat buruk kembali muncul.
"Rekening yang digunakan Blackwood Corp untuk membayar tentara bayaran itu... dana tersebut tidak berasal dari aset pribadi Herman atau Clarissa. Dana itu masuk dari sebuah yayasan di Singapura yang bernama The Iron Rose Foundation."
Aku mengernyitkan dahi. "Iron Rose? Mawar Besi? Nama itu mirip dengan simbol ibu kandungku."
(Bagian 3: Bayangan yang Lebih Besar)
Adrian mengangguk, wajahnya tampak sangat serius. "Itulah yang membuatku khawatir. Sepertinya Adeline bukan hanya seorang putri pengurus kebun yang malang. Ada bagian dari hidupnya sebelum dia bertemu kakekku yang tidak pernah tercatat di dokumen mana pun. Dan sepertinya, yayasan ini sedang mencoba 'mengambil kembali' apa yang mereka anggap milik mereka melalui tangan Herman."
Duniaku yang baru saja tenang kini kembali berguncang. Aku pikir Herman adalah bos terakhirnya. Ternyata, dia hanyalah pion yang digunakan oleh kekuatan yang lebih besar.
"Jadi... musuh kita bukan lagi Clarissa?" bisikku.
"Clarissa hanyalah wanita penuh obsesi yang dimanfaatkan," jawab Adrian. "Dia sekarang berada di rumah sakit jiwa setelah mengalami serangan panik hebat di kantor polisi. Tapi The Iron Rose... mereka adalah hantu. Dan mereka baru saja mengirimkan surat resmi ke kantorku pagi ini."
(Bagian 4: Surat Tantangan)
Adrian menyerahkan sebuah amplop hitam dengan segel lilin berwarna perak. Di atasnya terdapat logo mawar yang terbuat dari jalinan duri besi. Aku membukanya dengan tangan gemetar.
“Untuk Arini Adeline, mawar yang tumbuh di tempat yang salah. Kembalikan apa yang menjadi milik kami, atau kami akan meratakan seluruh kebun Sanjaya hingga ke akarnya. Kami menunggu di pertemuan tahunan para kolektor di Macau.”
"Macau?" aku menatap Adrian dengan bingung. "Apa hubungannya dengan kolektor?"
"Adeline dulu adalah seorang kurator seni dan artefak kuno sebelum dia menghilang ke desa," Adrian menjelaskan sebuah fakta baru yang belum pernah kudengar. "Sepertinya dia membawa sesuatu yang sangat berharga milik yayasan tersebut. Sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar saham Sanjaya Group."
(Bagian 5: Keputusan yang Nekat)
Rasa lelah yang kurasakan tiba-tiba menghilang, digantikan oleh rasa haus akan jawaban. Siapa sebenarnya ibuku? Mengapa dia menyembunyikan identitas aslinya bahkan dari pria yang mencintainya?
"Kita harus pergi ke Macau, Adrian," ucapku tegas.
"Tidak, Arini. Itu jebakan yang sangat jelas," bantah Adrian. "Mereka ingin memancingmu keluar dari zona aman kita."
"Kita sudah mencoba zona aman, dan lihat apa yang terjadi pada Bimo!" suaraku meninggi, menarik perhatian beberapa perawat yang lewat. "Jika kita tidak menyerang balik ke pusatnya, mereka tidak akan pernah berhenti. Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan selamanya. Aku ingin tahu siapa ibuku yang sebenarnya."
(Bagian 6: Rahasia Ayah Angkat)
Malam itu, sebelum kami berangkat, aku kembali ke rumah lama ayah angkatku. Aku mencari di antara tumpukan buku tua yang belum sempat kubersihkan. Di sebuah kotak kayu tersembunyi di bawah lantai dapur, aku menemukan sebuah paspor lama.
Foto di dalamnya adalah foto ibuku, Adeline. Tapi namanya bukan Adeline Sanjaya. Di sana tertulis: Adeline von Rose. Paspor itu diterbitkan oleh otoritas Jerman.
Di selipan paspor tersebut, ada sebuah kunci kecil lainnya, berbeda dengan kunci singa dari Nyonya Victoria. Kunci ini memiliki ukiran mawar yang sama dengan logo The Iron Rose.
(Bagian 7: Keberangkatan yang Gelap)
Kami berangkat menuju Macau menggunakan jet pribadi di tengah malam yang hujan. Aku menatap keluar jendela, menatap kilat yang menyambar di kejauhan. Perjalanan ini terasa seperti perjalanan menuju kegelapan yang lebih dalam.
Adrian menggenggam tanganku. "Apapun yang kita temukan di sana, Arini... kau harus berjanji satu hal padaku."
"Apa itu?"
"Jangan pernah lepaskan tanganku. Di dunia seni dan artefak internasional, kebenaran adalah komoditas yang paling mahal. Mereka akan mencoba memisahkan kita menggunakan rahasia masa lalu."
Aku menatap matanya yang tulus. "Aku sudah kehilangan segalanya sekali, Adrian. Aku tidak akan membiarkan masa lalu mengambilmu dariku."
(Bagian 8: Selamat Datang di Kota Judi)
Saat pesawat kami mendarat di Macau, cahaya neon kasino yang gemerlap menyambut kami. Kota ini tampak seperti berlian yang berkilau di tengah kegelapan laut. Tapi aku tahu, di bawah kemewahan ini, ada jaringan bawah tanah yang sangat mematikan.
Seorang pria bersetelan jas putih sudah menunggu kami di terminal pribadi. Dia membungkuk sopan, namun matanya sedingin es.
"Selamat datang, Nona von Rose. Tuan Besar sudah menunggu Anda di Hotel Lisboa. Harap tinggalkan semua senjata dan alat komunikasi Anda di sini. Ini adalah pertemuan antar keluarga, bukan bisnis."
Aku menatap Adrian. Dia mengangguk pelan. Kami melangkah masuk ke dalam mobil limosin hitam yang sudah menunggu. Bab baru dalam hidupku baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar uang, tapi identitas dan sejarah darah yang telah terkubur selama tiga puluh tahun.