“Itu yang sebenarnya terjadi, Bim,” Reno mengakhiri ceritanya, sembari mengambil singkong goreng yang baru saja diantar oleh Bi Imah. “Selama ini kebencian lo ke Wulan adalah suatu kesalahan,” Bimo terdiam. “Berapa kali Wulan berteriak di depan muka lo, hanya untuk sekedar bilang kalau dia nggak bersalah. Tapi apa? Lo nggak peduliin itu semua.” Reno menghela napas, menanti reaksi dari Bimo setelah mengetahui kebenaran tentang kematian Vanya. Namun, tak ada rekasi dari Bimo. Dia bergeming, tatapannya kosong menatap lantai di bawahnya. Reno mencebik kesal, ditenggaknya es sirup buatan Bi Imah hingga tandas tak bersisa. “Jujur Bim, gue nggak ngerti apa yang bikin lo segitu cintanya sama Vanya, sampai lo korbanin persahabatan lo sama Wulan?” Bimo mengangkat bahunya, dirinya juga tidak paha

