Bab 18. Dejavu Anik

1100 Kata

“Cukup, Pak. Saya sudah selesai dan harus segera tidur. Bapak juga perlu istirahat, ‘kan?” ujar Anik menolak. Seno mengangguk. Anik bersiap-siap naik ke dasar kolam tapi tampaknya Seno belum puas bersamanya. Dia menahan tangan Anik yang memegang tiang tangga. “Nik.” Anik menoleh dan dia sedikit kikuk saat melihat wajah Seno yang agak berubah. Seno mendekatinya dan masih memegang tangan Anik. “Besok kamu nggak perlu bangun terlalu pagi,” ujarnya. “Saya masih ingin ngobrol denganmu.” Anik terdiam, tadinya dia senang bisa berkompetisi dengan Seno, tapi sekarang dia yang melemah. “Pak—” “Ibu Anna sedang tidak ada di rumah.” “Tapi—” “Saya penguasa rumah ini, dan kamu yang nggak perlu khawatir.” Anik menelan ludahnya, dan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Apalagi tubuh Seno sudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN