Bab 35. Mau Lebih?

718 Kata

Anik mengangguk pelan. “Tidak pernah disentuh?” tanya Seno lagi. Anik mengangguk lagi, dan kali ini lebih mantap. “Siapapun?” tanya Seno memastikan. “Saya nggak pernah, Pak.” “Jadi kamu dan Ronan—" Anik menghela napas panjang, mengenang mendiang suaminya. “Dia … nggak pernah. Kami hanya berciuman bibir, tapi dia tidak menghisap atau melumat seperti yang Bapak lakukan tadi. Dia bilang ingin jaga saya dan dia menyadari fisiknya yang tidak kuat. Saya juga mengkhawatirkan keadaannya.” Perasaan Seno menghangat saat tahu Anik yang ternyata belum tersentuh, ada kebahagiaan yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya. “Anik,” desahnya pelan, memandang wajah Anik dari samping. “Apa kamu menyukainya?” tanyanya. Anik menoleh ke Seno dan mengangguk. “Saya menyukainya,” ujarnya tegas. Jawaban ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN