Anik menghela napas pendek. “Saya tau, Bu. Tapi kali ini berbeda, mental dan fisik pak Seno jauh lebih kuat dan dia yang sangat tenang.” “Jadi kamu dan pak Seno sudah dekat?” “Kami sangat dekat, tapi … saya hanya ingin memberinya ketenangan, belum ada ucapan khusus mengenai hubungan ini. Saya juga masih berharap mereka tidak sampai bercerai, dan pak Seno yang memaafkan istrinya. Kasihan anak-anak.” Anik sudah menjelaskan keadaan rumah tangga Seno yang juga tidak harmonis seperti rumah tangga mendiang suaminya. “Danika, ini demi masa depanmu. Jika pak Seno menawarkan sebuah pernikahan kepadamu, kamu harus memastikan dia bercerai secara resmi. Jangan lagi jadi istri kedua.” “Saya nggak berpikir sejauh itu, Bu.” Tyas menghela napas panjang. “Kamu mencintai pak Seno?” tanyanya pelan.

