. “Zakaffa sudah tahu kita bersama Vocksar,” ucap Angkasa. “Itu sudah pasti,” timpal Vozi. Buros duduk di kepala meja. Matanya terus memandangi satu titik fokus di meja itu dengan begitu serius. Amarahnya berangsur reda sekalipun belum sepenuhnya bersih. “Lebih baik kita menerima persyaratan mereka,” usul Angkasa. Vozi menyerangnya dengan mata menajam, tanda penolakan. “Soal siapa yang nanti memimpin, bisa kita atur lagi setelah Zakaffa berhasil kita dikuasai. Bukankah itu yang terpenting?” balas Angkasa lagi. “Tujuan kita meminta bantuan Vocksar adalah untuk menghancurkan Zakaffa. Soal siapa yang setelah itu mengambil alih kekuasaan, adalah rumusan masalah yang berbeda. Kalau kerja sama kita lancar, dan berhasil mendapatkan kepercayaan Vocksar, bu

