“Jadi gini, berkaitan dengan kasus yang terjadi baru-baru ini, CEO sampai turun tangan. Kalian tahu apa artinya? Tabrani Fashion jadi salah satu brand yang penting bagi perusahaan.”
Kalimat pembuka dari Pak Donnie pada Fla dan Ian. Borgesian Prapto atau Ian adalah perwakilan divisi IT yang mencari tahu tentang pelaku plagiat tersebut. Ia mengumpulkan bukti-bukti yang diperoleh secara online. Walaupun kebenaran memihak pada mereka, tapi jalur hukum tetap harus ditempuh demi nama baik perusahaan. Seumur-umur kerja di ENantan, baru kali ini Fla melihat cowok itu. Sepertinya ia tak pernah muncul ke permukaan. Bahkan Abram yang punya banyak kenalan di divisi IT tak pernah membicarakan orang bernama Ian.
“Oleh karena itu, dibutuhkan pengacara untuk membantu kalian. Ini sih masalah receh, tapi tetap saja harus dilakukan sesuai prosedur.”lanjutnya dengan kewibawaan.
“Untuk bukti-bukti tidak ada masalah pak. Saya sudah kumpulkan.”balas Ian. Cowok berkacamata itu terlalu fokus pada Pak Donnie. Ia tak menoleh pada Fla sedikitpun. Fla sedikit terusik dengan sikapnya. Baru kali ini ia bertemu cowok yang bahkan tak mau melihatnya. Aneh bukan? Fla itu seorang primadona yang tak bisa lepas dari pandangan para lelaki. Ah, kenapa ia jadi terusik.
“Kamu gimana Flavine?”tanya Pak Donnie.
“Oke pak, saya tidak ada masalah. Apakah saya boleh menyarankan pengacaranya?”
“Tidak bisa. CEO sudah memilih pengacara dari Suwardi Law Firm. Kamu kenapa tiba-tiba antusias sekali?”
“Ah tidak, saya hanya sedang mengincar ikan segar di lautan pak.”
“Hah?”
“Lupakan pak. Jadi siapa orangnya?”
“Ahh, sebentar.”ucapnya sambil membuka ponselnya. Ia mencoba mencari-cari sesuatu di sana. Ian beralih ke ponselnya karena terlalu lama menunggu reaksi Pak Donnie. Namanya orang tua, dimengerti saja.
Berbeda dengan Ian yang masa bodoh, Fla sedang berdoa sekuat tenaga. Semoga saja Pengacara Jo adalah orang yang dimaksud oleh CEO. Ia sangat berharap. Sudah sangat lama ia tidak berdoa, hanya karena seorang Jo, ia kembali berdoa.
“Aduh pak, kenapa lama sekali?”
“Sabar. Ini saya sedang mencari SMSnya. Inbox saya ditumpuk oleh SMS dari cucu.”ucapnya dengan mata menyipit.
“Sini pak, biar saya yang cari.”
“Oh ya sudah.”balas Pak Donnie sambil memberikan ponselnya pada Fla. “Bapak ngasih namanya apa?”
“Nama siapa?”
“Nama orang yang nyaranin pengacara itu lah pak.”
“Ohhh, kalau gak salah namanya Pak Suwardi CEO.”
Fla langsung mencarinya. Ketemu. Dengan jantung yang berdegup kencang ia membukanya. Di sana tertulis nama Joustian Hadinata, dari Suwardi Law Firm. Fla langsung melonjak penuh kebahagiaan. Bertemu untuk bersama, tak ada pertemuan yang tak berarti. Ini seakan menunjukkan bahwa dunia setuju pada suara hati Fla.
“Kamu kenapa gembira gitu?”tanya Pak Donnie heran. Ian ikut menatapnya heran.
“Ikan segar yang tadi saya maksud siap ditangkap.”
“Ikan segar apaan sih? Pokoknya gitu dah. Nanti saya infokan berita acara selanjutnya.”
“Baik Pak Donnie, terima kasih.”balas Fla dengan suara semangat. Ia dan Ian bergegas ke luar ruang meeting.
“Ian!”panggil Fla saat cowok itu hendak masuk ke ruang IT yang sudah di depan mata. Cowok itu menoleh.
“Lo kenal Abram gak?”
“Kenal.”
“Hmm, bisa gak lo jangan cerita ke dia kalau pengacara yang ngurusin hal ini adalah Pengacara Jo.”
“Gue gak sedekat itu sama dia. Tenang aja.”
“Thanks ya. Gue cuma mau jaga-jaga.”
“Hmm, emang kenapa dengan pengacara itu?”
“Ohh, ga papa. Gue duluan ya.”
Fla langsung beranjak. Ia terlalu takut Ian bertanya banyak hal. Akan jadi masalah jika Abram tahu tentang hal ini. Fla akan coba menyembunyikannya sampai waktu yang tidak ditentukan. Kalau Abram tahu, cowok itu bisa saja menggantikan Fla untuk jadi klien Jo. Oh, tidak bisa. Ini kesempatan emas yang tak bisa dilewatkan.
*****
Ivy kaget sekali saat tahu Sito mengajaknya bicara. Sebelumnya, cowok itu tak pernah mengajaknya bicara. Mau tahu alasannya? Ia pernah dikhianati oleh mantan pacarnya yang adalah seorang Staff Legal di Suwardi Law Firm. Cewek itu pindah karena ketahuan selingkuh dengan suami seorang pejabat daerah. Sito yang masih trauma berusaha menjauh dari wanita yang berkaitan dengan jabatan Staff Legal.
“Gak ada maksud apa-apa kok. Teman saya cuma mau berteman.”ucap Ivy dengan pandangan yang tak jelas arahnya.
“Awas aja ya, Jo itu sudah punya istri.”
“Iya, saya tahu.”
“Kalau kamu tahu, harusnya bilang sama teman kamu.”
“Saya sudah bilang.”
“Lalu, apa jawabannya?”
“Katanya tidak masalah, masih ada jari yang lain.”
“Dia sudah gila?”
“Ya, memang. Tapi tenang saja, saya tak akan biarkan dia jadi makin gila. Saya jamin dia tidak akan begitu lagi.”ucap Ivy menjelaskan. Sito diam karena kaget. Masih ada jari yang lain? Jadi cewek itu rela jadi yang kedua? Kurang ajar. Jelas Sito iri. Hanya demi seorang Joustian, cewek-cewek rela jadi orang kedua? Sialan sekali dirimu Jo.
“Kalau begitu saya duluan.”ucap Ivy dengan wajah tertunduk. Sito yang masih kaget tak menggubris. Ia masih kepikiran tentang cewek itu.
“Tunggu dulu.”ucapnya sebelum Ivy benar-benar pergi. “Siapa nama temanmu itu?”
Mati. Ini sangat berbahaya. Mereka bisa saja mencari tahu tentang Fla. Terlebih mereka pengacara yang mudah memutar balikkan fakta. Itu sudah jadi kebiasaan mereka bukan? Ya, walaupun tidak semuanya. Intinya, Ivy bingung mau jawab apa.
“Jangan bohongi saya. Saya tak bisa dibohongi.”
Ivy langsung mendekat. Dengan wajah memelas, ia coba meminta belas kasihan. Bahkan ia memegang tangan Sito untuk mendukung aktingnya yang luar biasa. “Sa,,, saya mohon, jangan menyebar aib tentang teman saya.”
“Apa-apaan sih, saya cuma nanya. Saya gak sejahat itu kali.”
“Terus kenapa harus nanya nama teman saya?”
“Saya cuma ingin tahu. Saya janji tidak akan cerita aneh-aneh. Emangnya saya lambe turah?”
“Serius nih?”
“Iya.”
“Ya udah. Saya gak jadi bilang.”
“Heh, loh, kenapa?”
“Karena tujuannya hanya ingin tahu, saya gak jadi bilang.”ucap Ivy sambil bergegas dan meninggalkannya dengan wajah cengo. Ia sudah tak bisa lagi menahan langkah kaki cewek itu. Lift terbuka dan banyak orang yang berhamburan masuk. Ia menyerah dan memutuskan untuk pergi ke ruangannya.
“Ah sialan!”batinnya kesal.
Saat ia hendak ke ruangannya, ia melihat Jo yang sibuk mengurusi persidangan berikutnya. Dalam hatinya ia sedih melihat temannya itu. Jo yang malang.
CATATAN PENULIS :
Cerita ini pindah ke f***o ya guys. Baca aja, free kok. Judulnya : Mengincar Suami Orang By Udang Kece.
Terima kasih pernah singgah di cerita ini. Love You