Pesawat yang kami naiki ini tiba-tiba terkena turbulensi yang sangat parah. Saking parahnya, aku dan Fera langsung terlempar dan membentur dinding kabin pesawat, mengakhiri ciuman yang tadi kami lakukan. Aku segera melompat dari satu titik ke titik lain untuk menangkap Fera. Pesawat ini terguncang sangat parah, sehingga hampir tidak memungkinkan bagi kami untuk mendapatkan pijakan yang stabil. Fera melepaskan diri dariku, sambil mengangguk. Ia mengisyaratkan kepadaku bahwa ia akan baik-baik saja. Aku pun mengangguk kearahnya. Aku berpindah-pindah dari tempat pijakanku yang sekarang, menuju tempat pijakan lain yang menurutku cukup stabil. Fera pun mengikutiku. Setelah melompat-lompat berkali-kali, akhirnya kami sampai didepan pintu kokpit. Aku pun membuka pintu kokpit, dan mendap

