Siska terdiam, dia berusaha mencerna sebaik-baiknya apa yang baru diucapkan pria bewok yang dipanggilnya sebagai Kakak. "Abe hampir bunuh Kakak?" tanya Siska menatap bingung padanya. Pria itu menoleh dan menatapnya dalam. Terdengar helaan nafas yang begitu berat. Tangannya meraih cangkir berisi kopi dan menyeruputnya perlahan. Dengan sabar, Siska menunggu pria itu selesai dengan minumannya. "Benar. Dia hampir saja membunuhku dulu!" sahutnya pelan. "Tapi apa alasan Abe melakukan itu pada Kakak? Aku tak pernah dengar tentang ini juga!" oceh Siska yang bingung dan bercampur penasaran kini. Dia hanya terdiam dan memutar bola matanya lambat. "Kak Frans!" panggil Siska yang sudah tak sabar mendengar cerita tentang Abe. "Kami satu sekolah saat SMP. Dia anak jenius dan pendiam serta sulit did

