Karan menggenggam setir dengan erat, konsentrasinya tertuju pada jalanan malam yang basah oleh rintik hujan. Lampu-lampu kota berkilauan seperti permukaan danau yang terganggu riak, tetapi keindahannya luput dari perhatiannya. Pikirannya masih berkecamuk di restoran, pada tatapan dingin Rainer dan bisikan penuh sindirannya.
“Bagaimana Om Adrian, Sayang?” tanya Sari dengan suara berharap, memecah kesunyian dalam mobil. “Ibu harap kamu suka padanya.”
Karan menarik napas dalam-dalam. Dia tidak bisa menyangkal bahwa Adrian terlihat seperti pria yang baik. “Om Adrian orangnya baik dan dewasa,” jawabnya singkat, suaranya datar. Itu adalah penilaian yang jujur, terlepas dari segala kekacauan yang dibawa oleh kehadiran anak lelakinya.
Sari menghela napas lega, senyum kecil mengembang di bibirnya. Dia menyandarkan kepala ke jok. “Ibu senang sekali atas respons kamu. Ibu tahu ini tiba-tiba, tapi—”
“Tapi Bu,” sela Karan, memotong dengan nada yang tegas. Matanya masih menatap lurus ke depan, menghindari pandangan ibunya. “Rainer. Itu... aku rasa kami nggak akan akur nanti.”
Sari terdiam sejenak, mencerna kata-kata putrinya. “Lho, kenapa? Tadi kalian kelihatan... sudah bisa mulai berbicara,” godanya lembut, mengingat momen saat Rainer membisikkan sesuatu kepada Karan.
Karan menggeleng pelan, rahangnya mengeras. “Itu bukan 'berbicara', Bu. Itu... peringatan.”
Dia akhirnya mencuri pandang sekilas ke arah ibunya, dan dalam cahaya remang-remang, Sari bisa melihat kerutan di dahi putrinya.
“Dia itu arogan, sok cool, dan judes. Aku sudah bisa merasakannya. Tinggal seatap dengan dia? Itu akan jadi mimpi buruk.”
Suaranya mengandung getar yang tidak biasa, campuran antara kecemasan dan sebuah keyakinan yang dalam bahwa hidupnya akan berubah menjadi lebih rumit.
Dia kembali menatap jalanan, mencoba menenangkan diri sambil membayangkan bagaimana caranya bertahan hidup di rumah yang akan segera dia bagi dengan musuh barunya.
“Rainer baik kok,” bantah Sari, mencoba meyakinkan putrinya. “Dia seorang manajer pemasaran digital di sebuah perusahaan startup bergengsi, brand strategist di sana. Ibu rasa nanti dia bisa membantu kerajaan kamu sebagai content creator dan illustrator, Sayang.”
Karan hanya bisa menatap kosong ke arah ibunya. Di dalam hatinya, gelombang protes bergemuruh. 'Ibu tidak mengerti. Dia bisa jadi dewa pemasaran sekalipun, tapi kepribadiannya seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan.'
Bagaimana cara menjelaskan pada ibunya yang sedang dibutakan oleh kebahagiaan ini, bahwa chemistry negatif yang dia rasakan dengan Rainer bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja?
Dia menarik napas dalam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Ibu, yang dia bantu nanti bukan aku. Yang dia bantu adalah angka, engagement, dan strategi. Bukan... aku-nya.” Suaranya terdengar hampir putus asa. “Aku nggak butuh ahli strategi di rumah. Aku butuh... seseorang yang nggak bikin darahku mendidih setiap kali kami bertukar pandang.”
Sari tetap tersenyum, menganggap ini hanya kekhawatiran berlebihan putrinya. “Kamu terlalu dramatis, Kar. Ibu yakin kalian bisa akur. Lihat saja nanti.”
Tapi Karan tahu. Ini bukan soal bisa atau tidak. Ini tentang dua kutub yang saling tolak-menolak, dan dia sudah bisa membayangkan betapa berantakannya kehidupan seatap mereka nanti.
Diam yang menyelimuti mobil itu terasa berat. Karan memandang lurus ke jalan yang diterangi lampu jalan, tetapi pikirannya sama berantakannya dengan lalu lintas yang mereka lalui. Setiap kali dia ingin membuka mulut untuk menyatakan penolakannya, pandangannya tertumbuk pada sosok ibunya di sampingnya.
Sari duduk dengan tenang, senyum kecil yang tulus masih mengambang di bibirnya. Namun, bagi Karan yang telah mengenal ibunya seumur hidup, ada sesuatu yang berbeda. Di balik senyum itu, dia melihat sebuah kelegaan, sebuah cahaya yang telah lama padam. Cahaya yang hilang sejak petaka itu datang menjemput ayahnya.
Karan ingat betul tahun-tahun yang panjang setelah kepergian ayahnya. Dia ingat kamar ibunya yang selalu senyap, meja makan yang terasa terlalu besar untuk mereka berdua, dan bagaimana senyuman ibunya selalu terasa seperti topeng yang dipaksakan.
Dia ingat bagaimana ibunya berusaha keras tegar untuknya, sementara diam-diam, Karan sering mendengar isak tangis yang tertahan dari balik pintu kamar di malam hari.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, cahaya itu kembali. Ada sebuah harapan baru, sebuah kebahagiaan yang nyata dalam diri Sari.
'Bagaimana mungkin aku bisa merampas itu? Bagaimana mungkin aku egois sampai ingin mengembalikannya ke dalam kesendirian dan kesedihan yang sudah menghantuinya selama bertahun-tahun?'
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Keputusannya telah dibuat.
“Baiklah, Bu,” ucap Karan akhirnya, suaranya lembut namun datar, menyerah. “Jika ini yang membuat Ibu bahagia... aku... aku akan mencoba menerimanya.”
Dia tidak mengatakan bahwa dia setuju. Dia hanya berjanji untuk mencoba. Itu adalah satu-satunya konsesi yang bisa dia berikan, baik untuk ibunya, dan untuk dirinya sendiri yang harus mempersiapkan hati untuk hidup berdampingan dengan Rainer Elard.
Senyum Sari mengembang, matanya berbinar-binar berkaca-kaca. Dia meraih tangan Karan yang sedang memegang setir sebentar, memberikan tekanan hangat yang penuh rasa syukur.
“Ibu janji, semuanya akan baik-baik saja,” terang Sari, suaranya bergetar penuh emosi. “Kita akan menjadi keluarga yang bahagia.”
Karan hanya bisa mengangguk pelan, membiarkan tangannya diremas oleh ibunya itu sejenak sebelum kembali fokus ke jalan. Dalam hatinya, ada perang antara harapan untuk kebahagiaan ibunya dan firasat buruk tentang kehidupan di bawah satu atap dengan Rainer.
“Kita tinggal beberapa blok lagi,” ujar Karan, mengalihkan topik sekaligus kenyataan yang harus dihadapinya.
Sari mengangguk, masih tersenyum, dan bersandar kembali ke kursinya, hanyut dalam mimpinya tentang masa depan. Sementara Karan mempersiapkan mentalnya untuk babak baru kehidupan yang dipastikannya akan penuh dengan gesekan dan kejutan.
*
Pintu kamar terkunci dengan bunyi ditutup yang lemah. Karan tak lagi sanggup menopang beban di pundaknya. Tubuhnya lunglai merosot, bersandar pada dinding dingin di samping pintu.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, namun yang tercium justru sisa wangi restoran mewah dan bayangan senyum simpul Rainer.
“Pernikahan Ibu...,” gumannya lirih, menyebutnya seolah sedang mencoba sebuah konsep asing.
Dalam benaknya, bayangan Sari yang bahagia bercampur dengan sosok Adrian yang ramah. Tapi di balik itu semua, bayangan Rainer dengan tatapan dingin dan senyum sinisnya menjadi bayangan yang paling dominan dan mengganggu.
Dia memejamkan mata. Rumah yang selama ini menjadi tempat pelariannya, benteng terakhirnya, sebentar lagi akan berubah total. Kedamaiannya akan dibagi dengan seorang pria yang dari pertama ketemu sudah bisa membuat darahnya mendidih. Sebuah erangan panjang akhirnya lepas. Ini akan menjadi babak baru yang... menantang.
Hiss! karan mengecak rambutnya frustasi.