8. Paranoid

2846 Kata
Bibi Na tersentak diiringi perasaan takut kala pintu yang dia kunci dari dalam berusaha dibuka oleh seseorang, sementara Sunny yang masih berada di walk in closet belum juga selesai dengan urusannya. Tak mau ambil resiko, Bibi Na pun langsung masuk menyusul Sunny. Merebut ponsel miliknya yang berada di dalam genggaman gadis itu tanpa permisi kemudian menyimpannya di saku celemek. Tindakan tak terduga dari Bibi Na tentu saja membuat Sunny terkejut. Namun suara ketukan pintu yang semakin keras dan terdengar tak sabaran, membuatnya mengerti situasi tanpa banyak bertanya. "Ma-maaf, Nona. Ada yang datang. Saya takut kalau itu Nyonya," kata Bibi Na panik. Mendengar penjelasan dari Bibi Na, senyum tipis di bibir Sunny mengembang dan dia menganggukkan kepala sebagai isyarat kalau tindakan impulsif yang dilakukan oleh Bibi Na tidak membuatnya tersinggung. Justru Sunny-lah yang merasa bersalah karena sudah menyusahkan Bibi Na sampai-sampai wajahnya terlihat pucat karena cemas. Maka dari itu, Sunny buru-buru kembali ke tempat tidur sambil menarik tangan Bibi Na lalu menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut putih sampai batas pinggang. "Bi, cepat buka pintunya," bisik Sunny lirih, "kalau ditanya kenapa lama sekali, bilang saja aku sakit." "Baik, Nona." Bibi Na lantas bergegas membukakan pintu. Dan sesuai dugaan, hal pertama yang menyambutnya adalah wajah garang dari Ilana yang membuat wanita berumur lima puluh tahun itu beringsut ke belakang, sama sekali tidak berani mengangkat wajah. Kedua mata Ilana menyipit melihat Bibi Na yang terlihat canggung dan gemetar. Sambil menyilangkan tangan di depan tubuh, dia bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan di dalam? Kenapa pintunya sampai dikunci?" Tatapan Ilana yang tajam saat dia memindahkan pusat atensinya ke Sunny cukup menjelaskan betapa dia mencurigai mereka berdua sekarang. Sunny jelas tahu kalau dia dan Bibi Na tidak boleh salah bicara. Karena jika mereka berdua ketahuan bersekongkol membohongi Ilana, itu sama saja seperti menyulut api menjadi kobaran yang lebih besar. "Ibu, tadi Bibi Na—" "Aku tidak bertanya kepadamu!" Suara Ilana yang tiba-tiba menggelegar mengejutkan Sunny dan Bibi Na. Dalam keheningan, atmosfer ketegangan di sana terasa begitu kental. Terlebih tatapan mengintimidasi dari Ilana yang kini ditujukan kepada wanita paruh baya itu, tak ubahnya seperti hujan berduri sebelum datangnya badai petir. Sunny yang kasihan melihat Bibi Na pun segera turun dari ranjang lalu mendekat ke arah Ilana. "Ibu, tolong jangan marahi Bibi. Dia tidak salah apa-apa. Dia hanya membantuku ke kamar mandi karena tiba-tiba saja aku merasa mual." Ilana mengernyitkan dahi. "Apa benar begitu?" tanya Ilana kepada Bibi Na yang sedari diam saja sambil menundukkan kepala. "Benar, Nyonya. Tadi Nona Sunny terlihat pucat sekali. Jadi saya memijat tengkuknya di kamar mandi waktu Nona muntah-muntah." "Lalu kenapa kau mengunci pintunya?" "Itu... saya lupa, Nyonya. Benar-benar lupa. Maaf." "Kau tahu akibatnya bukan kalau ketahuan berbohong?" "I-iya, Nyonya. Saya tidak berani berbohong. Saya hanya membantu Nona saja tadi." "Ya sudah. Cepat keluar dari sini." Ilana akhirnya melepaskan Bibi Na setelah puas memindai wajah sang asisten dengan tatapan penuh selidik, hal yang sedikit melegakan bagi Sunny karena Bibi Na tidak harus menanggung hukuman karena sudah membantunya. Sepeninggal Bibi Na, Ilana dan Sunny sama-sama tidak bicara. Berbeda dengan Sunny yang menunggu ibunya mengutarakan maksud kedatangannya terlebih dahulu, Ilana terlihat fokus memikirkan sesuatu. "Apa kau hamil?" "Hamil?" Pertanyaan Ilana tak ayal membuat kedua mata Sunny membulat. Awalnya gadis itu tidak mengerti kenapa ibunya bertanya demikian. Namun di detik selanjutnya, barulah Sunny paham hal apa yang mendasari timbulnya dugaan tersebut. "Katamu kau mual dan muntah-muntah. Bisa saja 'kan kau sedang mengandung? Katakan, apa Sejun yang menghamilimu?" "Tidak!" Sunny buru-buru menyangkal asumsi dari sang ibu. "Aku memang berkata begitu. Tapi... ini tidak seperti yang Ibu pikirkan. Aku hanya masuk angin saja." "Akan lebih baik kalau kau hanya masuk angin. Karena jika dugaan Ibu benar, kau harus menggugurkan janin itu." Sunny tampak menegang setelah Ilana berkata demikian. Meski janin yang ibunya maksud tidak pernah ada di rahimnya, membayangkan kalau dia harus melenyapkan buah hatinya sendiri hanya karena mereka tidak menyukainya, benar-benar membuat Sunny merasa terluka. Jika dulu Sunny dibuang oleh kedua orangtuanya karena keberadaannya tidak diinginkan, maka hal itu tidak akan terjadi kepada anak-anaknya kelak. Sunny akan memastikan dengan seluruh jiwa raganya bahwa anak-anaknya nanti akan hidup dengan baik tanpa harus menanggung beban seperti yang selama ini dia pikul. Dan langkah yang Sunny pikir harus dia lakukan pertama kali adalah pergi dari rumah ini tanpa setitik pun penyesalan. Mungkin saja menikah akan menjadi titik terang yang membawanya kepada kehidupan baru. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau menikah justru akan mengantarkan penderitaan dan penyesalan lain di kemudian hari. Dua kemungkinan yang sama besar itu berjalan beriringan di dalam benak gadis itu. Menarik Sunny ke dalam lamunan sesaat sebelum suara terkejut Alexa yang kini tengah berdiri di ambang pintu membawanya kembali menapak tanah. "Apa? Hamil? Siapa yang hamil?" Alexa berderap masuk, berdiri di antara Sunny dan ibunya dengan semua kemarahan yang dia hujamkan kepada Sunny lewat sorot mata tajam penuh kebencian. "Kau sungguhan sedang hamil?" "Tidak ada yang hamil. Ini hanya salah paham," jawab Sunny tegas. "Jangan bilang kalau Oh Sejun yang menghamilimu!" Sunny mengembuskan napas kasar, mengepalkan tangan karena emosi. "Aku sudah bilang kalau aku tidak hamil! Aku hanya masuk angin biasa. Tolong jangan dibesar-besarkan." "Kau tidak menyentuh Sejun, bukan?" "Apa maksudmu, Alexa?" "Kalian tidak pernah tidur bersama, bukan?" Suara Alexa yang diliputi perasaan cemburu, marah, dan takut membuat Sunny merasa terganggu. Meski dirinya tidak pernah melakukan hubungan semacam itu dengan Sejun, Alexa sama sekali tidak memiliki wewenang untuk melarangnya memadu cinta dengan kekasihnya sendiri. "Ada apa denganmu? Jangan berpikiran terlalu jauh! Lagi pula, jika aku dan Sejun ingin melakukan kegiatan apa pun seperti yang ada di dalam pikiranmu, kau tidak bisa melarang kami." "Beraninya kau!" Alexa merasakan tubuhnya memanas seiring dengan embus napasnya. Sikap posesif yang tidak pada tempatnya telah mengalirkan bara kemarahan hingga nuraninya berlubang dan logikanya berkarat. Seperti kecanduan halusinasinya sendiri, Alexa sudah menganggap Sejun sebagai kekasihnya alih-alih calon kekasihnya hanya karena pernah berada dalam satu mobil dengan pria itu sambil berbincang santai. Tak bisa mengendalikan amarah yang terlanjur mendidih, tangan Alexa menjulur ke depan. Berusaha menjangkau Sunny dengan maksud mencakar wajahnya, menarik rambutnya, serta melakukan berbagai bentuk penyiksaan fisik lain kepada sang kakak hingga dirinya merasa puas. Beruntung sebelum Alexa melakukan tindakan yang lebih tidak terkendali, Ilana segera melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Alexa lalu menariknya menjauh dari Sunny. ... "Alexa kendalikan dirimu!" bentak Ilana sambil menghempas tangan Alexa setelah membawa putrinya keluar dari kamar Sunny. "Dia tidak boleh hamil, Ibu!" bentak Alexa, kemarahan yang diikuti rasa panik masih meliputi dirinya tanpa terkecuali. "Kalau Sunny hamil, pernikahannya dengan Tuan Park bisa batal. Lalu Sejun... dia pasti akan bertanggungjawab dengan menikahi Sunny. Kalau itu terjadi, bagaimana denganku?" Alexa berpaling membelakangi ibunya. Suasana hati yang buruk serta pemikiran-pemikiran yang berkecamuk dalam satu waktu, membuatnya merasa sedang berada dalam kondisi tidak aman hingga dia memeluk tubuhnya yang gemetar dengan sikap defensif sambil menggigiti kuku-kuku jarinya. Seiring meningkatnya kegelisahan yang dia rasakan, Alexa semakin kesulitan untuk fokus. Dan ketika ledakan emosi itu terjadi, Alexa mulai histeris sambil menariki rambutnya sendiri. "Aku tidak mau hal itu terjadi, Ibu! Aku tidak mau! Aku menyukai Oh Sejun, jadi harus aku yang menikah dengannya! Pokoknya Sunny harus menikah dengan Tuan Park sebelum Sejun kembali ke Korea!" "Alexa tenang dulu!" seru Ilana, tangannya mencengkeram erat lengan Alexa. "Tentu saja Sunny tidak boleh hamil! Lagi pula dia tidak terlihat sedang berbohong. Jadi kau tidak perlu sekhawatir itu." "Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Jika pernikahan ini batal bukankah kita akan kehilangan investor penting?" "Itu memang benar. Dengar, Alexa. Tuan Park baru saja menghubungi Ibu. Dia meminta pernikahannya dengan Sunny dipercepat sehingga Ibu berencana membawanya ke butik untuk memilih gaun pengantin. Meski kau marah kepadanya, kau tidak boleh membuat wajahnya terluka! Jangan bersikap berlebihan. Mengerti?" Alexa membuang napas kasar. Perasaan tidak sukanya kepada Sunny semakin menjadi-jadi tatkala otaknya menghadirkan visualisasi atas asumsinya sendiri mengenai Sunny dan Sejun yang sudah melakukan hal-hal dewasa hingga sang kakak hamil. Tak peduli berapa kali Ilana memintanya untuk tenang, telinganya seperti tidak mendengar kata-kata sang ibu sehingga Alexa masih kesulitan melepaskan angkara yang membakar hati dan kepala kendatipun dugaannya tidak diperkuat oleh fakta. Alexa duduk dengan gusar di tepi ranjang, menarik laci meja rias mencari obat anti depresan yang dia simpan di sana. Setelah menelan obat tersebut, Alexa pun berangsur-angsur tenang dan dia mulai bisa mengendalikan kemarahannya yang tidak terkontrol. "Aku tidak bisa tenang jika belum memeriksanya sendiri. Aku harus tahu dia benar-benar hamil atau tidak," kata Alexa selang beberapa menit. "Nanti Ibu akan membeli test pack." "Tidak! Sunny bisa saja berbohong tentang kehamilannya kepada kita karena takut kehilangan anaknya." Ilana yang pening melihat kelakuan Alexa menghela napas panjang seraya memijat pelipis. "Ok, fine. Setelah pulang dari butik, Ibu akan membawanya ke dokter." "Harus aku yang memeriksanya! Aku yang akan mengambil sampel darahnya untuk diperiksa." "Ya Tuhan, Alexa.... Kau itu terlalu paranoid! Sepertinya malah kau yang lebih membutuhkan seorang dokter." "Aku sendiri calon dokter. Buat apa Ibu mencarikan dokter untukku! Pokoknya harus aku yang memeriksa Sunny. Dia tidak boleh mengandung anaknya Sejun karena nanti akulah yang akan menikah dengannya!" "Terserah saja." Ilana bergegas pergi menuju pintu. Sebelum keluar dari kamar Alexa, wanita dengan rambut tersanggul rapi itu menoleh ke arah putrinya. Terdiam beberapa detik dengan sorot mata tidak terbaca, lalu begitu Alexa menyadari kalau dirinya sedang ditatap, Ilana pun berkata, "Ibu benar-benar serius dengan perkataan Ibu." "Yang mana?" "Kau harus memeriksakan diri ke psikiater karena akhir-akhir ini emosimu selalu meledak-ledak." Setelah berkata demikian, Ilana menutup pintu sedikit keras, meninggalkan Alexa yang muram karena tersinggung sebelum dia memutuskan untuk ikut keluar mengikuti ibunya. ... Fairy Boutique, Apgujeong-ro, Gangnam-gu, Seoul. Seperti kerbau yang dicocok hidung, Sunny tidak menolak ajakan ibunya untuk pergi ke suatu tempat yang menurut Sunny kemungkinan besar adalah rumah sakit. Selain untuk menghindari perdebatan dengan Alexa yang tingkah lakunya semakin sulit dia pahami, alasan mereka mengajaknya pergi juga sudah tertebak. Sunny tahu kalau Ibu dan adik angkatnya ingin membuktikan asumsi bodoh mereka mengenai apakah di rahimnya ada janin yang sedang tumbuh atau tidak sebelum terlambat—langkah antisipasi yang membuat Sunny ingin sekali memutar malas kedua matanya, tetapi dia tahan dengan memasang wajah datar tak peduli. Sunny yang sepanjang perjalanan dihibur oleh gambaran padatnya lalu lintas yang sebenarnya tidak benar-benar dia perhatikan, dikejutkan oleh suara Ilana yang tegas ketika dia berkata seraya membuka pintu mobil. "Cepat keluar." Sunny mengerjapkan mata setelah menyadari kalau mobil mereka sudah berhenti, mengernyit melihat papan nama sebuah butik gaun pengantin yang terkenal karena sering dipakai oleh para artis. "Ibu, untuk apa kita ke sini?" tanya Sunny, raut wajahnya terlihat heran. "Jangan banyak tanya. Ikut saja." Alexa menyela, tangannya sibuk bergerak membuka sabuk pengaman. Ketika dia membuka pintu, Sunny yang masih saja diam di tempatnya membuat Alexa menutup kembali pintu mobil yang baru terbuka setengah untuk membuka paksa sabuk pengaman sang kakak. "Jangan suka membuang waktu." Sunny lantas menahan tangan Alexa. "Kenapa kita ke sini?" "Kau masih bertanya? Tentu saja untuk memilih gaun pengantinmu. Baru setelah itu kita akan pergi ke rumah sakit." "Gaun pengantin?" Secepat ini? Alexa menaikkan satu alis, sorot matanya yang tajam seperti ingin merobek Sunny hingga ke tulang. "Jangan pura-pura bodoh, Kak. Kau sudah setuju untuk menikah dengan Tuan Park. Bukan hal yang aneh jika kami mengajakmu untuk fitting gaun." "Ta-tapi—" Protes Sunny yang belum tuntas teralihkan oleh suara klakson mobil yang parkir tepat di samping mobil mereka. Ilana yang menunggu di luar langsung tersenyum cerah karena yang baru saja datang ternyata calon menantunya yakni Tuan Park. "Saya tidak menyangka kalau Anda akan datang ke sini. Bukankah Anda sedang sibuk?" tanya Ilana setelah berbasa-basi menanyakan kabar sambil berjabat tangan. "Sebenernya iya. Tapi karena ini menyangkut pernikahanku, aku ingin segala sesuatunya terlihat sempurna." Pria yang mengenakan setelah suit warna navy itu melirik sekilas ke arah mobil Ilana. "Apa calon mempelaiku masih di dalam?" "Ah, iya." Ilana tersenyum canggung. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan di dalam? "Tunggu sebentar, Tuan Park. Aku akan menyuruh mereka keluar," lanjut Ilana, kesal karena mereka tak bergerak cepat meski tahu kalau Tuan Park juga ada di sini. "Alexa juga ikut?" "Iya. Alexa ikut karena Sunny memintanya untuk menemaninya." Tuan Park menanggapi Ilana dengan anggukan singkat, sedangkan Ilana berderap menuju pintu kursi penumpang. "Cepat keluar!" Ilana berdesis, memerintah sambil melotot ke arah Sunny. Melirik sinis ke arah Sunny, Alexa pun menimpali. "Kakak susah sekali diatur, Ibu. Bahkan tadi dia berniat kabur." Provokasi dari Alexa tentu saja membuat Ilana tersulut. Wanita yang mengenakan gaun terusan berwarna krem itu langsung mencengkeram pergelangan tangan Sunny, memaksanya keluar dari mobil setelah membisikkan kata-kata penuh ancaman. Satu cubitan dari Ilana di pinggang Sunny membuat gadis itu nyaris memekik. Ilana kesal melihat wajah tertekan Sunny yang tanpa senyum itu ketika mereka berhadapan dengan Tuan Park sehingga dia harus memberi Sunny peringatan dengan pelintiran kecil tetapi menyakitkan yang bisa dipastikan akan menimbulkan jejak di kulitnya. "Sunny, bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Park ramah. "Aku... baik." Sunny yang terlihat enggan melanjutkan pembicaraan meski sekedar basa-basi, berhasil menimbulkan gurat kekecewaan di wajah Tuan Park. Untuk menanggulangi kesalahan kecil tersebut, Alexa buru-buru menyapa pria yang sudah tidak lagi muda itu untuk mengalihkan perhatian. "Senang bertemu Anda lagi, Tuan Park," sapa Alexa sambil mengulurkan tangan. "Halo, Alexa. Kau semakin cantik saja." Tuan Park memuji, tangannya bertahan cukup lama di tangan Alexa. "Anda sungguh pintar memuji. Saya jadi tersanjung." "Aku hanya berkata jujur." "Anda tidak keberatan bukan jika saya menemani calon istri Tuan untuk memberikan pendapat?" "Tentu saja tidak. Justru kalau ada kau, kakakmu yang pemalu ini pasti merasa lebih nyaman." "Anda tidak perlu khawatir masalah itu, Tuan Park." "Kau memang bisa diandalkan, Alexa," puji Tuan Park sambil tertawa. "Baiklah, ayo kita masuk." ... Sunny tersenyum pahit melihat pantulan dirinya sendiri yang kini tengah mengenakan gaun pengantin off shoulder berwarna putih dengan variasi lace di bagian atas. Seperti halnya para pegawai butik yang tak henti-hentinya memuji kecantikan Sunny, Tuan Park pun tak bisa mengalihkan pandangannya dari calon istrinya yang kini tampak seperti dewi. "Wah, kau terlihat sangat cantik dengan gaun ini," kata Alexa sambil mengatupkan kedua tangan lalu menoleh ke arah ibunya, "benar 'kan, Bu?" "Tentu saja, Nak. Bagaimana pendapat Anda, Tuan Park?" Tuan Park yang nyaris tak berkedip karena terpana itu langsung menjawab pertanyaan Ilana dengan antusias. "Seperti kata kalian. Dia terlihat sangat cantik sampai aku tidak bisa berkata-kata." Tuan Park lalu beranjak dari sofa, berjalan mengelilingi Sunny dengan pengamatan yang detail sebelum berhenti di hadapannya. "Bagaimana menurutmu, Sunny? Apa kau menyukai gaun ini?" Sunny membisu, memutus pandangannya dari wajah Tuan Park demi melihat gambaran dirinya di cermin sekali lagi. Memang benar. Dari beberapa gaun yang sudah dia coba, Sunny paling menyukai yang satu ini. Tetapi fakta kalau dia tidak akan berdiri di altar bersama orang yang dia cintai, membuat binar kebahagiaan menjauh dari manik sewarna madu miliknya. Kekosongan yang menggerogoti jiwa Sunny telah melemparnya ke jurang nestapa. Sunny semakin tidak bisa merespon perkataan apa pun yang ditujukan kepadanya. Sunny juga tidak bisa menemukan satu aksara pun yang bisa dia gunakan untuk menyuarakan isi hatinya. Semua keharusan yang dibebankan kepadanya membuat gadis itu mati rasa. Dan dia terlalu pengecut untuk menolak secara terang-terangan atau mengambil langkah ekstrem lain yang menunjukkan pemberontakan, karena perasaan takut tumbuh bersamanya sejak kecil tak ubahnya rantai yang mengikat leher. "Sepertinya Kakak sangat menyukai gaunnya sampai-sampai dia tidak bisa berkata-kata." Alexa menggunting hening yang terus memanjang selagi Sunny mengunci suaranya sambil mengalungkan tangan di lengan sang kakak. Demi memperkuat dominasinya kepada Sunny, Ilana berdiri di sisi yang berlawanan dengan Alexa. Berpura-pura menunjukkan kepeduliannya dengan mengamati penampilan Sunny sambil memberikan komentar memuji, lalu ketika Ilana pindah di hadapan Sunny dan memblokir tatapannya ke cermin, wanita itu berbisik seraya menyelipkan rambut Sunny ke belakang telinga. "Jika kau terus-terusan bersikap seperti ini, Ibu benar-benar akan mengurungmu di ruang bawah tanah." Kedua mata Sunny yang sayu seketika melebar. Di seluruh bagian rumah yang ada di kediamannya, Sunny paling takut dengan ruang bawah tanah yang dulunya berfungsi sebagai gudang sebelum gudang yang berada di halaman belakang rumah dibangun. Selain karena dirinya menderita claustrophobia, di gudang itu juga pernah menjadi saksi bisu bagaimana kejamnya sang ayah saat menyiksa salah satu asisten rumah tangganya hingga meninggal gara-gara ingin menolong Sunny yang saat itu sedang dihukum. Seperti sumbu api yang melahap seutas tali, tubuh gadis itu mulai dirambati oleh tremor sedangkan suhu rendah yang menyebar di seluruh ruangan tidak bisa mengekang peluh yang terus membasahi dahi. Tubuh Sunny limbung diteror ingatan yang membuat kejadian traumatis itu tampak begitu nyata. Sunny ingat bagaimana tragisnya nasib sang asisten yang dibiarkan mati lemas tanpa makanan yang layak padahal saat itu wanita malang tersebut sedang sakit. Sunny kecil ada di sana, terkurung bersamanya di ruangan gelap nan sempit, memeluk tubuh sang asisten yang tadinya gemetar hebat menjadi berangsur-angsur tenang lalu mendingin sambil menangis sesenggukan. Awalnya Sunny kecil berpikir kalau sang asisten yang dia anggap sebagai ibu sudah tertidur karena lelah. Namun keesokan harinya setelah dia dibebaskan dari gudang, barulah dia tahu kalau satu-satunya orang yang bersikap baik kepadanya sudah tidak lagi bernyawa. Di saat Sunny berusaha melawan ingatan itu agar tidak berkelana terlalu jauh, pening yang dia rasakan justru semakin gencar memaku kepala. Tidak kuat menanggung perasaan bersalah yang telah lama terpendam di hati dan menjadi luka abadi, Sunny merasakan dunia di sekelilingnya berputar dan dia mulai kehilangan gravitasi berikut cahaya yang menerangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN