2. Toxic

1544 Kata
Tatapan tajam dari Jonathan yang seolah ingin mencabik Sunny hingga menjadi serpihan-serpihan tak berarti, membuat jantung gadis itu berdetak begitu keras, seakan-akan bagian vital yang menopang kehidupannya akan meledak lalu merobohkan susunan tulang rusuk yang memenjarakannya. Napas Sunny tersekat ditelan keterkejutan, manik sewarna madunya terbelalak dipenuhi rasa takut, sementara sang ayah angkat masih saja memaku tatapannya dengan kesinisan yang begitu pekat. Membuka mulut ternyata membutuhkan lebih banyak usaha dari yang Sunny kira, tatkala perasaan takut membuat lumpuh seluruh otot dan sendi yang menyusun rangka tubuhnya. Bosan didekap hening dan gatal ingin memberikan peringatan keras pada anak yang tidak mau menurut lagi tidak tahu diri itu, Jonathan tiba-tiba berucap. "Apa pembicaraan kita tadi malam tidak cukup jelas bagimu?" Pertanyaan itu terdengar seperti ancaman, kedua alisnya menukik seiring ketajaman nada suaranya. "A-Ayah...." Suara Sunny terbata, terlalu kalut untuk fokus menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya barusan, selagi benak sibuk meniti pertanyaan kenapa dan bagaimana Jonathan bisa berada di dalam kamarnya, ketika semua penghuni rumah masih berkubang dalam pelukan mimpi sedangkan kamarnya sendiri pun dia yakini sudah dikunci. "Kenapa Ayah bisa masuk ke sini?" Jonathan mendengus, menganggap pertanyaan Sunny sebagai metode pengalihan topik. Hal itu membuat murka mereguk seluruh sisa kesabarannya, hingga tangan pria itu terpacu untuk membanting ponsel yang berada dalam genggaman dengan kekuatan yang tak ditahan-tahan. Alat komunikasi canggih itu pun retak, mati, dan beberapa komponennya terlepas setelah beradu dengan kerasnya lantai. Sunny yang tak bisa berbuat apa-apa hanya mampu menutup mulut dengan kedua tangan agar pekikan nelangsa tidak meluncur dari sana, ketika suara berisik memilukan dari satu-satunya benda yang bisa menghubungkan suaranya dengan Sejun, melesat tajam menelusuri saluran pendengaran lalu menginterpretasikannya ke otak sebagai bentuk kemurkaan dari Jonathan yang tidak seharusnya dia pancing keluar, lalu diteruskan ke hati yang langsung memantik kesadaran bahwa hambatan baru yang membuat langkahnya semakin sulit baru saja tercipta. Usai tatapan miris yang tertuju ke arah ponselnya berganti, Sunny nekat membalas tatapan Jonathan dengan kobaran amarah, sementara sorot kesedihan di mata gadis itu bersembunyi di belakang aura kebencian yang berapi-api. Pembangkangan tanpa suara itu tidak bisa diterima oleh Jonathan hingga dia merasa perlu memberikan pelajaran kepada anak angkatnya yang tersayang. Segera, laki-laki itu mencengkeram pergelangan tangan Sunny dengan pegangan yang kuat, kemudian menariknya hingga gadis rapuh itu berdiri sembari terhuyung. Belum lagi keseimbangan dia dapatkan, tangan besar Jonathan yang terangkat tinggi-tinggi melesat cepat menerjang pipi Sunny hingga kepala gadis itu tersentak tanpa daya ke samping sebelum tubuh mungilnya jatuh tersungkur seperti pohon tumbang. Jejak kemerahan bekas tangan Jonathan terlukis di pipi gadis yang malang itu, sedangkan luka yang tercipta di sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah segar. Seakan belum puas, pria yang mengaku sebagai ayah jika anak angkatnya bersikap jinak, lalu berubah menjadi seorang penyiksa yang kejam ketika keinginannya tak dipenuhi, dengan cepat memposisikan dirinya di depan Sunny, menarik dagu anak angkatnya sampai tertengadah. "Berani sekali kau menatapku dengan cara seperti itu? Dengar, rumah ini rumahku. Aku berhak masuk ke ruangan mana pun yang aku mau tanpa harus meminta izin terlebih dahulu kepadamu." Ketika cengkeraman Jonathan di dagu Sunny semakin kuat, gadis itu meringis, merintih kesakitan. "Sa-sakit, Ayah. Aku... aku minta maaf. Ini salahku. Semua salahku. Maaf jika aku membangkang. Tolong jangan pukul aku lagi." Seluruh tubuh Sunny gemetaran, air matanya meleleh, suaranya yang mengiba terdengar menyayat hati. Suara kekehan dari ayah angkatnya sesaat setelah Sunny berkata demikian entah kenapa terasa jauh lebih mengerikan. Susah payah Sunny menelan salivanya sendiri ketika kepanikan memenuhi nadi sedangkan aliran darahnya naik ke kepala. Dari sorot mata Jonathan yang datar, terlihat jelas kalau jiwa keras yang dimiliki oleh pria itu sama sekali tidak tersentuh oleh tangis meminta belas kasih yang meluncur dari Sunny walau hanya seujung kuku. Sekali lagi, Jonathan mengangkat tangannya ke udara, bersiap melayangkan serangan susulan kepada Sunny yang tidak mungkin bisa membalas karena perbedaan kekuatan. Tindakan defensif membuat Sunny berpaling cepat ke samping, melindungi kepalanya dengan kedua tangan seraya memekik pilu. "Ampun, Ayah! Tolong, jangan pukul aku! Aku mengaku salah. Tidak seharusnya aku bersikap kurang ajar kepadamu!" Dengan posisi tangan yang masih bertahan dalam sikap mengancam, Jonathan memandangi Sunny yang sudah seperti kucing kecil kehujanan sambil tersenyum masam. "Apa kau benar-benar sudah menyadari kesalahanmu?" Sunny kesulitan menghentikan tangis yang seolah begitu keras kepala dan tak mau berhenti mengucur. Malahan yang ada, desakan untuk meledak-ledak kian menjadi-jadi sampai-sampai gadis itu harus menggigit ujung lidahnya sebagai jalan alternatif untuk membendung raungan sakit hati yang selama ini tak pernah bisa dia utarakan. Setelah jeda waktu yang tak terlalu lama, Sunny menganggukkan kepala dengan hati hancur. "I-iya. Aku... aku sudah menyadari semua kesalahanku. Di-di rumah ini, aku harus tahu diri. " Sunny nyaris tersedak oleh kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya, sementara kedua tangan gadis itu sibuk meremas sisi gaun tidur yang dia kenakan. "Aku harus selalu berterima kasih kepada kalian, aku harus menuruti semua perintah kalian, dan aku... sama sekali tidak boleh membangkang apa pun alasannya." Sunny mendikte dengan lancar kata-kata yang sudah didoktrinkan kepadanya dari kecil hingga dewasa. Entah sudah berapa kali Sunny larut dalam gulungan duka tatkala dirinya terpaksa mengakui sesuatu yang bukan kesalahannya, lagi dan lagi. Mereka selalu saja menempatkan dirinya di posisi tak dapat berkutik. Memojokkannya setiap kali sebuah kemalangan datang menimpa mereka, hingga Sunny tidak memiliki pilihan lain selain mendesiskan kalimat, iya aku salah, iya aku yang bodoh, semua ini terjadi akibat perbuatanku, dan kata-kata lain yang serupa dengan itu ketika semua telunjuk tertuju ke arahnya. Bertahun-tahun menjadi kambing hitam atas setiap kericuhan yang terjadi di keluarga Lee membuat Sunny mati rasa. Dia ingin kabur. Namun sayangnya hal tersebut tidak bisa dia lakukan, karena setiap kali mereka melukainya entah itu melalui kekerasan fisik atau hujaman kata-kata menyakitkan, mereka pulalah yang datang membawakan obat untuknya sambil tersenyum manis seolah-olah tidak memiliki salah apa-apa. Detik-detik yang dia habiskan untuk menunggu berakhirnya ancaman dari ayah angkatnya sendiri, seperti jerat tali di leher yang ditarik sedikit demi sedikit guna memutus aliran napas di kerongkongan. Jonathan sama sekali tidak membuka suara, tidak pula melepaskan cengkeramannya yang menyakitkan dari rahang Sunny, hanya menatap penuh nilai kepadanya. Setelah hampir mati di bawah tatapan Jonathan yang seperti hendak menelannya hidup-hidup, akhirnya Sunny bisa membuka sedikit lebih lebar katup yang membuat oksigen masuk secara tersendat ke paru-paru ketika Jonathan menganggukkan kepala seraya berkata, "Bagus. Memang sudah seharusnya kau bersikap patuh seperti ini." Jonathan lantas menegakkan punggung setelah melepas cekalannya di rahang Sunny dengan cara menyentak. "Selama kau masih hidup, kau tidak boleh melupakan dua hal. Yang pertama balas budi, yang kedua tahu diri. Kau harus mengingat poin-poin yang aku sebutkan tadi dengan baik, dan jangan pernah mencoba membantahku karena kau seharusnya sudah mati dari dulu jika saja aku dan istriku tidak memungutmu dari panti asuhan di waktu yang tepat." Jonathan menjeda sejenak kalimatnya hanya untuk menikmati raut wajah Sunny yang mendadak pucat seperti mayat. Seringai tipis tersebar di bibir pria itu, perasaan puas dan pongah menyerang kalbunya yang hitam, dan Jonathan kembali melanjutkan rangkaian kalimat menyakitkan lain yang dia tahu sangat jitu menjatuhkan Sunny hingga ke dasar palung. "Bahkan orang tuamu saja tidak menginginkan kehadiranmu di dunia sampai mereka membuangmu ke panti asuhan. Tapi kami yang kau tahu tidak memiliki hubungan darah denganmu barang setetes pun, sudi merawatmu, memenuhi semua kebutuhanmu, menyekolahkanmu di sekolah terbaik hingga kau bisa tumbuh seperti sekarang. Bukankah sangat kurang ajar jika kau mementingkan kebahagiaanmu sendiri di saat kami sedang kesusahan?" Hentikan! Aku tidak mau dengar lagi! Dalam diam, sesak mengikat Sunny dengan jerat tak terurai. Rasanya begitu mencekik, begitu menyiksa, hingga napasnya kembali tersengal sedangkan sekujur tubuhnya dilanda tremor yang lebih mengguncang dari yang sudah-sudah. Perkataan Jonathan membuat gadis itu menunduk dalam, seolah-olah ada sebuah batu besar yang jatuh tepat di belakang kepalanya. Menurut cerita dari kedua orang tua angkatnya, hanya berselang dua hari setelah Sunny dibawa pulang untuk dijadikan anak angkat oleh Jonathan dan Ilana karena saat itu mereka tidak kunjung memiliki buah hati, panti asuhan tersebut mengalami tragedi naas yang merenggut nyawa seluruh penghuninya yang kebanyakan berisi wanita dan anak-anak. Berita tentang pasien rumah sakit jiwa yang kabur ke panti asuhan tempat di mana Sunny tinggal selama beberapa minggu, lalu menembaki seluruh penghuni yang ada di sana tanpa pikir panjang dan tanpa pandang bulu karena menduga anak dari selingkuhan suaminya dititipkan di sana, menjadi headline news paling panas dan paling santer diberitakan di semua media baik cetak maupun elektronik selama lebih dari dua bulan hingga Sunny sama sekali tidak kesulitan mencari kebenaran akan perkataan dari ayah dan ibunya. Tak hanya itu, fakta bahwa Alexa pernah mengalami kecelakaan sampai dia terbaring koma gara-gara menyelamatkan Sunny sewaktu mereka belum dewasa, menjadi utang budi lain yang harus Sunny bayar dengan mengalah tanpa kecuali selain kepatuhan absolut kepada orang tuanya. Dulu Sunny bersyukur karena dirinya sudah dibawa pergi dari panti sebelum peristiwa mengenaskan itu terjadi, karena bagaimanapun, memiliki orang tua jauh lebih baik daripada hidup sebatang kara. Seiring berjalannya waktu, lambat laun anggapan Sunny telah berganti dengan pengandaian seperti, jika saja waktu itu aku mati bersama anak-anak panti lain, apakah hidupku di atas sana akan jauh lebih baik? Dan, jika saja Alexa tidak menyelamatkan aku dari kecelakaan ketika mereka berdua sedang asyik bermain, apakah keadaan ini bisa berubah? Pikiran tersebut semakin berkembang menjadi penyesalan akan hidup, serta kesadaran bahwa kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan adalah lahir ke muka bumi. "Cepatlah tidur. Nanti siang calon suamimu akan datang berkunjung. Jangan sampai kau terlihat jelek di matanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN