Hahhhh...
Fitri menghela nafas panjang setelah semua barangnya selesai di kemas. Lalu gadis itu mengambil sebuah spidol hitam. Menulisi kardus dengan isi di dalamnya. Setelah itu, gadis itu mengambil lakban, dan melakban semua kardus. Ia menyelesaikan semua pekerjaannya sesingkat mungkin. Fitri hanya membawa apa yang perlu ia bawa. Karena hanya dalam 3 tahun, ia harus berkemas lagi. Ini melelahkan.
"Butuh bantuan?" tanya Setya yang entah dari mana.
Fitri memutar bola mata malas. Sudah selesai baru mau membantu. "Enggak, makasih," jawabnya sambil tersenyum manis.
Setya berkedip, mendapat senyum yang begitu tiba-tiba membuat lelaki itu loading sebentar. "Oh, oke."
Besok, Setya akan membawa Fitri pindah ke rumah mereka. Rumah mereka selama tiga tahun kedepan. Setya tak mengharapkan intraksi lebih antara dirinya dan Fitri. Setya malah berharap ayahnya atau ayah Fitri meminta mereka bercerai sebelum 3 tahun. Ya, siapa tau kan?
Malam ini, keduanya kembali tidur di kamar yang sama. Tentu saja dengan Setya tidur di lantai dan Fitri di atas ranjang. Belajar dari malam sebelumnya, siang tadi saat semua orang sibuk, Fitri menyelundupkan kasur lantai yang ada di kamar tamu. Agar Setya tak bisa beralasan dingin dan naik ke atas lagi.
Gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Setya sedang bekerja dengan laptopnya dengan meminjam meja belajar milik Fitri. Sedang Fitri, gadis itu mandi dari setengah jam yang lalu. Fitri benar-benar tidak bisa menghemat air.
Ponsel Setya berdering, Rere, dengan hati berwarna merah di ujungnya yang menelpon. Setya tersenyum. Lalu menerima panggilan tersebut.
"Setya, aku kangen," ucap suara di sebrang. Setua terkekeh menyimpan pekerjaannya, lalu menutup laptopnya.
"Aku juga kangen. Gimana kabar kamu hari ini?"
"Hahh ... cape. Soalnya udah dua hari kita gak ketemu. Kan aku butuh kamu buat ngisi energi. Kamunya gak ada, energiku juga gak keisi."
Setya kembali terkekeh. Tak menyadari bahwa Fitri sudah menatapnya lebih dari satu menit di depan pintu kamar mandi.
"Setelah urusanku beres, nanti kita ketemu. Jangan lupa buat makan, selain butuh aku, kamu juga butuh makan."
Fitri memberikan tatapan mengejek. Pasangan jaman sekarang memang alay-alay. Beruntungnya Fitri tidak sealay itu. Karena punya pasangan pun tidak. Gadis itu terkekeh dalam hati. Kasian banget hidupnya.
Fitri berjalan ke arah ranjang. Merebahkan diri sambil memainkan ponsel. Tak perduli dengan apa yang di lakukan Setya di meja belajarnya. Asal tidak menggangunya, Fitri juga tidak perduli.
Gadis itu membuka grup chat yang sudah dua hari ini tidak ia buka.
Lala: Gimana nih malam pertamanya duhai pengantin baru?
Hany: Kira-kira, kapan kita dapet keponakan?
Lala: Dua bulan lagi leh ugha kayaknya.
Hany: APA?! Jadi kamu nikah cepet karena hamidun, Fitri?
Lala: Mama kecewa sama kamu! Mama kecewa!
Fitri menghela nafas panjang. Drama apa lagi yang sedang kedua sahabatnya lakukan ini.
Fitri: Maaf, bikin mama kecewa. Tapi anak cacing ini tidak berhenti menendang dan berbunyi. Dia juga suka mencuri nutrisi. Jadi mungkin tiga hari lagi bakal Fitri lahirkan ke dunia.
Para pecinta drama di jadikan satu dalam ikatan persahabatan maka pasti berakhir begini. Dramanya mengalir sampai jauh. Entah itu drama berkelas ataupun tidak.
Latarnya ponselnya tiba-tiba berubah, menampilkan ikon panggilan video grup. Fitri mengangkat, lalu terlihat wajah kedua sahabatnya di layar.
"Masih di kamar kamu? Aku pikir udah pindah rumah," ucap Lala yang sedikit agak tersendat-sendat. Sepertinya jaringan di tempatnya buruk.
Firi menggeleng. "Besok baru pindah. Hari ini beres-beres yang mau di bawa pindah."
"Emang bawa apa aja sih? Rumah suami kan pasti udah lengkap."
"Baju dong. Tugas kuliah, sama teman-teman baikku." Gadis itu menunjukkan, Chimi–boneka karakter Bt21–kepada Lala.
"Enggak di bungkua pake kardus?"
Fitri menggeleng. "Cuma bawa beberapa aja." Ia menoleh ke arah Setya yang masih asik dengan ponselnya. "Biar bisa nambah koleksi lagi di rumah baru."
"Ide brilian. Aku di beliin satu sabi lah kan."
Fitri mendengus, Hani itu paling dewasa, tapi kadang suka cosplay jadi childish.
"Husbandmu mana?" tanya Lala.
Fitri mendekatkan mulutnya pada ponsel, lalu melirik Setya yang tertawa. Mungkin suara di sebrang lucu.
"Lagi nelpon pacarnya?"
"Hah?!"
Fitri menghela nafas lega sambil mengelus dadanya. Untung saja ponselnya tak ia tempelkan telinga, dan untung saja volumenya ia kecilkan.
"K-kok bisa?" Suara Lala terputus-putus. Entah memang ia yang berbicara terbata, atau memang jaringannya masih belum bagus.
"Cutiku masih 2 hari lagi," jawab Fitri. Kedua sahabatnya paham, itu artinya, Fitri akan bercerita saat ia kembali ke kampus.
"Ya udah deh, izin pamit mau nonton drakor." Hany melambaikan tangan, lalu memberi kecupan jauh. Tak lama sambungannya terputus. Bangun selalu kesiangan, tapi begadang terus di jalankan.
"Fit, udah nonton Run Bts episode terbaru?" Suara Lala jelas sekarang. Sepertinya jaringan di sana membaik.
Fitri menggeleng. "Belum. Emang udah ada?"
"Udah, update hari ini. Jam tujuh malem tadi."
"Otw yutup kalo gitu. Aku matiin ya, bay." Fitri melambaikan tangan lalu mematikan panggilan.
Gadis itu berlari ke kopernya. Fitri mengambil beberapa camilan dari dalam sana. Menonton Run Bts tentu tidak lengkap tanpa cemilan.
Fitri kembali ke ranjangnya. Duduk bersandar sambil memangku laptopnya. Membuka bungkus camilannya, dan mendekatkan air minumnya yang ada di atas meja. Memang tiada yang lebih membahagiakan dibanding melihat 7 bujang tampan sambil ngemil dan rebahan.
Dulu, Fitri selalu berdoa agar jodohnya seperti Jungkook atau Jungkook. Pria manis dengan beribu talenta, juga kebaikan. Rendah hati juga tidak sombong. Namun seiring berjalannya waktu, Fitri mulai sadar. Itu mustahil terjadi. Orang seperti Jungkook itu seribu satu. Jodohnya juga tentu saja bukan dari kalangan kentang macam dirinya.
Lalu sekarang ia tertampar kenyataan. Menikah dengan seorang yang tidak disukainya, hanya karena janji yang di ucapkan ayahnya saat ia kecil dulu, dan mendapat surat kontrak tak jelas di malam pertama. Beruntungnya, Setya adalah orang kata yang masih punya rasa tanggung jawab.
"Kamu nyimpen makanan sebanyak itu di dalam koper?"
Fitri mendongak menatap Setya yang melipat tangannya di d**a sambil menatapnya tajam. Baru saja di pikirkan, orangnya sudah di depan mata.
"He'em, kenapa? Gasuka?"
Setya menghela nafas panjang."Bukan gitu. beli di sana juga kan nanti ada."
Fitri tak perduli. "Rasanya beda."
"Hah?"
"Ck!" Fitri berdecak. "Udah sana, ngapain sih di sini, ganggu aja!"
Setya lagi-lagi menghela nafas panjang sebelum memutuskan untuk kembali duduk di meja rias. Siapa sangka gadis kalem itu begitu mengerikan.
"Ah, Fit, besok kita berangkat jam 8 pagi."
"Oke," jawab Fitri tanpa mau repot mengangkat kepala.
Setya hanya berharap, walaupun tidak bisa menjadi suami secara utuh, ia bisa menjadi kakak untuk Fitri.
***
Jadi ini suami istri yang terjebak kakak adek zone?:)
makin dekat denganku yuk. ig: sitimays13