Besok adalah hari dimana Fitry akan menjadi istri orang. Tak terasa dua minggu terlewati dengan begitu cepat. Setelah obrolannya dengan kedua sahabatnya di kantin, selain disibukkan dengan tugas kuliah yang menggunung, Fitry juga disibukkan dengan melakukan beberapa hal untuk kepentingan pernikahan. Foto prewedding, fitting baju, dan atas suruhan sang ayah, Fitry berangkat ke salon kecantikan agar saat hari-H gadis itu nampak cantik.
Lalu bagaimana dengan calon suaminya? Fitry hanya bertemu dengan Setya saat melakukan foto prewedding. Ya, hanya sekali itu. Bahkan saat bertemu pun, keduanya tak ada niatan untuk saling menyapa atau sekedar basa-basi bertanya kabar.
"Hah ...." Fitry merebahkan diri di kasur empuknya sambil menghela nafas. Karena besok adalah hari pernikahannya, Fitry di larang keluar rumah. Alhasil ia hanya bisa berkeliling rumahnya yang setiap hari ia lihat dan ia kelilingi. Beruntungnya, Sidik-ayahnya-memperbolehkan Lala dan Hany untuk menemani Fitry selama masa pingitan satu hari ini.
"Guys, kalo aku kabur sekarang gimana?" ucap Fitry asal
Hany melempar kacang atom yang sedang di makannya ke arah Fitry, namun sayang itu meleset. "Mulut!" ucap Hany, "gak usah macem-macem! Kalo emang kamu gak mau, harusnya kamu ngotot bilang gak mau aja dari awal. Paksa sampe dapet. Bukan malah lari dari masalah," lanjut gadis itu lagi. Lalu kembali fokus pada film yang ia dan Lala tonton.
Fitry kembali menghela nafas pelan. Tinggal ngomong begitu memang gampang. Fitry benar-benar merasa bodoh sekarang. Ia bahkan akan menikahi orang yang hanya ia tau namanya saja.
Sebenarnya, Fitry mengenal keluarga Hermawan sejak kecil. Karena katanya, ayahnya dan ayah Setya berteman dari kecil juga. Ia juga tau Setya. Sekedar tau saja, karena seingatnya, pria itu pendiam dan tidak banyak bicara. Fitry yang dulu juga adalah gadis kecil pemalu tidak pernah berani mendekat.
"Guys, ayah sama Om Sultan itu udah temenan dari kecil. Kalo seumpama pernikahan anak-anaknya gak berjalan lancar, apa mereka bakal tetep temenan ya?" Fitry menerawang jauh. Dalam keadaan terlentang ia menatap langit-langit kamar. Lalu kembali menghela nafas panjang. Ia sedang dalam keadaan, dimana ia merasa masalahnya adalah masalah paling berat di dunia.
Hany berdecak. Lalu menghentikan film yang sedang ia tonton, dan menghampiri sang sahabat.
"Fit, pernikahan itu sakral. Bukan ajang buat main-main, atau coba-coba. Om Sigit pasti punya alasan kuat kenapa beliau jodohin kamu sama Setya," ucap Hany Berpikir positif di situasi seperti ini memang penting.
"Alasan kuat ya? Mungkin janji yang mereka buat wkatu aku baru lahir dulu kuat banget." Fitry melirik Hanu sekilas. Lalu kembali menatap langit-langit kamar dengan sendu.
"Gak papa, Fit, syukuri aja. Toh si Setya tajir, ganteng lagi," timpal Lala.
"Sumpah, La. Mending diem. Suaramu sama sekali gak ngebantu," ucap Herni. Sedang Fitry, gadis itu masih saja menatap kosong langit-langit kamar.
***
Seorang pria berdiri sambil menatap jendela dari ruang kerjanya. Berkali-kali terdengar helaan nafas pelan dari mulutnya. Rasanya ingin menangis saja. Semua yang sudah ia rencanakan seakan menguap hanya dalam satu malam karena perjodohan konyol yang ayahnya lakukan.
Tak lama, terdengar bunyi panggilan masuk dari ponselnya.
Rere dengan emoticon love di ujungnya, nama yang tertulis di kontaknya. Artis sinetron yang belakangan ini sedang di gandrungi karena kecantikan, dan sifat sopannya.
Enggan menjawab, lalaki itu kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Namun seakan tak memiliki rasa lelah, ponselnya terus saja berbunyi. Hingga akhirnya, Lelaki itu menyerah.
"Halo?" katanya pelan.
"Setya! Kamu dari mana aja? Aku nelpon kamu udah ratusan kali! Tolong dong, Setya. Aku cape. Jangan buat aku tambah cape lagi. Aku mau kita ngobrol. Aku ke kantor kamu sekarang!" ucap suara dari seberang.
Setya terkekeh pelan. Memang dia kira hanya dia yang lelah? Bahkan ia juga lelah, di hadapkan pada posisi tak bisa memilih. Namun harus membuang salah satu yang berharga untuk hidupnya. Bahkan, besok adalah hari di mana ia akan menikah, tapi sekarang lelaki itu masih di kantornya. Bukan karena sebuah keharusan. Ia hanya malas berada di rumah dan tidak melakukan apapun.
Rere adalah kekasih Setya sejak lelaki itu masih duduk di bangku perkuliahan. Ia mengenal Rere sebagai gadis yang baik. Meski kadang memang merepotkan mengingat gaya hidupnya yang mewah dan sifat egoisnya. Namun selama ini Rete selalu mengerti dirinya dan menerima Setya apa adanya. Itu sudah cukup untuk Setya.
Rencananya, tahun depan ia akan berlibur ke Korea Selatan bersama sang kekasih. Lalu tahun depannya lagi, mereka akan melakukan pernikahan. Semua jadwal liburan sudah terususun rapi, menyesuaikan jadwal padat keduanya. Namun, semua yang mereka rencanakan dan mereka harapkan harus mereka kubur dalam-dalam.
"Setya." Suara pelan dari arah pintu membuyarkan lamunan Setya. Gadis itu, Rere. Gadis yang ia cintai, yang ia harapkan sebagai pelabuhan terakhir, teman menua bersama, sebagai orang pertama yang ia lihat untuk mengawali pagi, dan masih banyak harapan-harapan lain yang sekarang terasa semu dan tak nyata.
"Setya, kalo kamu sama dia, aku sama siapa? Kita punya banyak mimpi yang harus kita wujudin sama-sama. Aku ... aku gak mampu buat bikin nyata semua mimpi kita sendirian." Rere berjalan cepat menghampiri Setya. Lalu mencengkram jas yang dikenakan lelaki itu kencang. Wajahnya basah karena air mata.
Setya hanya bisa terpejam. Ia tak tau harus berbuat apa. Mendengar suara tangis Rere semakin lama semakin memilukan di telinganya. Ia tarik gadis itu ke pelukannya.
"Kita udah bicaraain ini dari awal. Aku akan copot semua jabatanku dan memilih kamu. Tapi kamu yang melarang kan? Tolong, jangan bikin aku di posisi yang tambah sulit, Re."
Rere mendongak, menatap wajah Setya dengan mata yang berair. Gadis itu menggeleng cepat. "Gak, aku tau untuk sampai di posisi ini, kamu banyak berjuang. Aku gak mau semua perjuangan kamu sia-sia cuma gara-gara aku." Lalu ia kembali menenggelamkan wajahnya di d**a sang kekasih.
"Aku bisa berjuang dari bawah lagi. Kamu bisa nemenin aku dari awal." Setya meyakinkan. Ini masih belum terlambat, pikirnya.
"Enggak, aku gak mau. Aku bakal ninggalin kamu kalo kamu sampe copot jabatan kamu. Aku gak mau!" Rere memukul-mukul d**a Setya sebisanya. Lalu menangis lebih kencang.
Sekuat-kuatnya Setya, lelaki itu punya titik di mana ia merasa putus asa, dan sekarang, dia benar-benar ada di titik itu.
"Aku gak bisa ngelepas kamu, Re," ucapnya sendu.
Ia akan berusaha semampunya untuk kembali bersama Rere. Toh ia hanya di jadikan tumbal ayahnya untuk memperluas bisnis saja
***