Maya tampak tersentak sebelum bersemu tipis. Tidak mendapatkan jawaban sudah cukup bagi Vincent memahami bahwa Maya tahu itu. Dia mendecakkan lidahnya kemudian berjalan menuju Maya. “M, kamu terlalu berani, kamu tahu? Bagaimana jika ada orang asing yang usil mengngkat pakaianmu.” “Please, Pak Evans. Sejak kapan lobi apartemen ini bisa dimasuki orang gila yang usil?” “Kebanyakan pria kaya yang mabuk bisa menjadi orang gila yang usil.” Maya kalah. Dia tidak dapat berkata-kata selain menatap Vincent. “Dengar, M. Jika kamu bersamaku, aku tidak mempermasalahkan itu. Ini, kamu turun ke bawah sendirian di negara asing. Dan hanya Tuhan yang tahu entah berapa banyak pria yang satu lift bersamamu, melirikmu dan memiliki fantasi membayangkan apa yang bisa mereka lakukan dengan sesuatu di balik ka

