Siang itu, Maya meletakkan pot tanaman kecil di meja dengan perlahan. Kembali duduk tegap, Maya tersenyum manis pada wanita paruh baya yang duduk di single sofa. Amanda melirik tanaman hiasan itu kemudian Maya. Lalu membuang wajahnya. “Maya tidak tahu tanaman apa yang Mama suka,” Amanda dengan sangat cepat menoleh lagi, kali ini wajah marahnya memiliki jejak kaget yang nyata. Kemudian alisnya mengkerut. “Tapi tenang saja, Maya tidak membelinya secara acak, Ma.” Alis Amanda semakin mengkerut. Setelah minum bersama Nadin tadi malam dan telah mengucapkan hal bodoh, anak nakal yang datang ke rumahnya ini menjadi semakin berani. Dia bahkan dengan santainya memanggil Amanda dengan sebutan itu. Amanda mendengus dan membuang wajahnya. Padahal sakit kepalanya dari pagi sudah hilang dan sekara

