Safira Kuat

1144 Kata
"Maaf ya Bu, hari ini Liana tidak masuk sekolah," ujarnya dengan penuh penyesalan. Dia bingung. Bagaimana cara menjelaskan permasalah yang sedang terjadi. "Kenapa Bu, apakah Liana sakit?" tanya guru sekolah itu. Kebetulan, dia memang wali kelas dari anaknya. Jadi, Safira langsung bertemu dengan ibu guru itu. "Tidak, jadi begini Bu. Sepulang sekolah kemarin. Anak Saya murung, dia bilang di sekolah teman-teman mengolok-olok dirinya. Maaf sebelumnya, Saya bukan terlalu memanjakan dia. Namun, anak ini tersakiti secara mental. Dia murung dan merengek tidak mau sekolah. Saya tidak bisa memaksanya." Safira sadar, kesalahan ini tidak sepenuhnya karena anak-anak. Hal itu terjadi, akibat kelalaian Haidar sendiri. "Aduh, maaf Bu. Saya tidak tahu, jika Liana mendapatkan hal seperti itu di sekolah. Mungkin, itu terjadi di jam istirahat. Karena jujur saja, selama dalam pengawasan Saya. Tidak ada hal seperti itu terjadi." " Tidak apa-apa Bu, Saya tidak menyalahkan siapapun. Kedatangan Saya kesini hanya meminta hak Liana. Agar dia mendapatkan perlindungan selama di sekolah. Karena kejadian seperti ini, memang di luar kendali kita semua. Mereka juga masih kecil, untuk mengerti perasaan temannya." "Iya Bu, baik. Saya akan mencoba mencari jalan keluarnya. Agar Liana mendapatkan kenyamannya kembali ketika bersekolah di sini. Kalau boleh tahu, kenapa bisa begitu ya Bu?" Perlahan-lahan Safira menjelaskan. Tidak secara detail, tapi cukup bisa ditangkap dengan jelas oleh lawan bicaranya. Meskipun malu, dia tetap menceritakannya. Namun, yang pasti mereka tahunya itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. Bukan yang sebenarnya terjadi. Lagipula, dia tidak mungkin membongkar aib keluarganya kepada orang lain. "Sekali lagi, saya minta maaf ya Bu. Atas ketidak nyamanan ini. Memang anak-anak tidak bisa disalahkan. Karena mereka belum begitu paham." "Iya Bu, tidak masalah. Saya memakluminya. kalau begitu, Saya permisi pulang dulu. Terima kasih, karena ibu mau menanggapi keluhan Saya." "Kami akan selalu memberikan yang terbaik. Terima kasih, karena keterbukaan. Jangan sampai ada kesalah pahamanan. Jika kita tidak saling berkomunikasi." "Iya Bu." "Salam untuk Liana di rumah ya. Kami mengharapkan dia bisa kembali bersekolah mulai esok hari." "Baik, nanti akan Saya sampaikan. Kalau begitu, Saya permisi dulu." Safira kembali ke rumah ibu dan ayahnya. "Kamu habis bayaran ke sekolahan?" Tanya Ibunya. "Enggak Bu, tadi ada urusan aja. Biasa, rapat orang tua." "Kalau tidak ada untuk bayar sekolah. Jangan sungkan minta pada kami." "Iya Ayah, tenang saja. Masih aman kok." "Badanmu kurusan sekarang, memangnya jarang makan?" Selain Abang, dia juga mempunyai Ayah yang sangat penyayang dan juga perhatian. "Enggak kok. Kemarin nimbang masih sama. Mungkin efek bajunya aja." "Jangan terlalu dibawa pusing. Masalah itu harus dihadapi, Kamu boleh minta tolong Kami kapanpun Kamu butuh. Ingat ya, Ayah gak akan pernah maafin. Kalau Kamu terluka, karena laki-laki itu." "Ayah, dia memantu kita. Jangan terlalu keras." "Tetap saja, dia masih harus banyak belajar." "Hustt. Haidar adalah pria yang sudah dipilih Safira untuk dia cintai. Kita hanya perlu mendukungnya. Lagipula, selama ini Safira kita tidak pernah mengeluh. Sepertinya Haidar sangat menjaga hatinya dengan baik. Anak ini, tumbuh menjadi wanita dewasa." Ayah Safira tidak menjawab. Lelaki itu hanya mengangguk saja. Berbanding terbalik dengan ayahnya, ibu adalah mertua yang sayang menantu. Terkadang, jika sedang menelpon pun, lebih dulu menanyakan kabar menantu, dibanding anaknya sendiri. Dulu, sempat protes, ketika mendengar jawabannya, dia sangat tersentuh. Ibunya berkata, "Ya harus nanya kabar Haidar dong, kalau Haidar baik. Dia bisa kerja, jagain keluarga dengan baik juga." Setelah itu, dia tidak lagi cemburu pada Haidar karena lebih dipentingkan oleh ibunya sendiri. "Nanti, kalau ada waktu libur. Ajak Haidar ke sini. Rasanya, sudah lama tidak melihat menantu kesayangan." "Semoga Haidar gak ada liburnya." "Lah Bapak, cemburu bilang." Ledek ibunya. Sementara Safira tersenyum saja. Lalu, dia minum teh yang sudah disediakan di meja. "Bu, hari ini masak apa? Biar Safira bantu." "Bilang aja, dia juga mau buat bawa pulang." "Ayah...," Kesalnya. Sembari merengek. Ayahnya memang sangat senang meledek anak-anaknya. Dia menganggap bahwa putra-putri mereka masih lah anak kecil. "Masak banyak. Ayo, kita mulai buat. Sekalian bikin kue. Mau gak?" "Iya boleh Bu." Mereka berdua pergi ke dapur. Kemudian mulai menyediakan kebutuhan memasak. Saat di pertengahan kegiatan. Ibunya mengatakan sesuatu yang membuat Safira terdiam sesaat. "Kamu baik-baik saja kan Nak?" "Baik Bu," jawab Safira setelah berpikir sejenak. "Jangan sungkan Nak. Jika Kamu tidak bisa cerita pada Abang dan Ayah. Masih ada Ibu. Tidak baik, memendam rasa sakit sendirian." Mungkin ini yang dinamakan insting seorang ibu. "Ibu tahu dari mana Aku ada masalah?" Hal yang paling ditakutkan Safira adalah Liana. Meskipun anaknya sudah diberitahukan agar tidak memberitahukannya masalah mereka kepada orang rumah di sini. Namun, namanya juga anak kecil. Bisa saja lupa. "Kamu terlihat tidak fokus. Membuat kue itu, harus dengan hati yang tetang. Kamu lupa ya?" "Aih... Ibu menjebakku." "Jadi, ada masalah apa? Kalian sedang kesulitan?" "Biasa Bu, namanya juga hubungan suami istri. Yang sudah lama saja bisa berantem. Apalagi Kami." "Tapi, bukan masalah serius kan?" tanya Ibunya lagi. Dia sadar betul, betapa cerewetnya sang anak. Lalu, hari ini menjadi lebih pendiam. "Tidak. Ibu tenang saja. Tahu sendiri kan Haidar orangnya gimana. Dia gak akan nyakitin Aku. Apalagi, berbuat kasar." "Iya, Kamu benar." Semudah itu ibunya percaya? Karena memang sehebat itu juga Haidar memanipulasi dirinya. Mungkin, jika dia bilang Haidar selingkuh. Tidak semuanya akan percaya. Safira menghela nafas dengan sangat pelan. Lalu, dia mencoba fokus dengan apa yang sedang di kerjakan. Hari ini, sengaja dia pergi dari rumah. Karena ingin mengalihkan perasaan sesaknya agar lebih lega. Karena di rumah ini, dia merasa tidak sendirian. Mereka masih menerimanya dengan sangat baik. Sementara itu, Haidar merasa gelisah. Perasaan yang tidak biasanya dia rasakan untuk Safira. Karena selama ini, dia selalu merasa tenang. Istrinya tidak pernah berbuat macam-macam. Namun, hari ini berbeda. Hatinya dibuat gelisah. Padahal, dia baru merasakan lega. Karena Lana sudah masuk kantor. Meskipun wanita itu terlihat acuh padanya. Dia tidak masalah. "Hufttt...," Untuk kesekian kalinya, dia menghela nafas seperti itu. Mengecek notifikasi dan tidak ada satu pesanpun masuk dari sang istri. Dia terlalu gengsi untuk bertanya lebih dulu. Safira harus tahu, bahwa haidar sekarang sedang marah dan tidak peduli. Sebenarnya, Haidar hanya penasaran saja. Kemana wanita itu pergi, dan juga dengan siapa? Banyak hal buruk yang menghinggapi pikirannya. Sampai tidak konsentrasi bekerja. "Haidar! Cepat kirimkan laporannya. Saya sudah harus merekapnya lagi." Dan atasannya yang rese itu, tidak memberinya waktu untuk beristirahat, karena bukan saatnya juga. "Haidar, dipanggil Bu Lana." Seorang staf perempuan menghampirinya dan memberikan informasi tersebut. "Iya. Nanti setelah kerjaan selesai Saya ke sana." Jika biasanya. Dia akan langsung menemui Lana, tapi kali ini tidak. Ada perasaan yang aneh dalam dirinya yang menariknya untuk sadar. Dia sudah senang, ketika melihat wanita itu baik-baik saja. Haidar segera menyelesaikan tugasnya. Di sela dia memikirkan Safira, ada Lana yang selalu terselip di dalamnya. Ini memang terlalu b******n, tapi dia belum bisa menetapkan hati dan pikirannya dengan benar. Menjatuhkan keduanya hanya untuk satu wanita terlalu sulit, karena keduanya sama-sama penting. Mereka mempunyai porsinya sendiri baginya. Beginilah jika jatuh hati pada orang yang tidak semestinya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN