Lebih Sabar

1040 Kata
Safira masuk ke dalam kamar. Dia memang sengaja menghindar dari suaminya. Sudah berusaha sekuat mungkin agar tidak terpancing emosi, tapi tetap tidak bisa. Melihat wajah Haidar sama saja melihat lukanya kembali.  Namun, diam di kamar ini. Bukannya membuat dia tenang, malah sebaliknya. Mendengar Haidar berkata lapar. Dia sedikit merasa bersalah. Seandainya, mereka dalam keadaan baik-baik saja. Mana pernah dirinya menelantarkan sang suami.  Safira bangkit, lalu pergi ke dapur. Meskipun dia tahu, di sana ada sang suami yang sedang menyeduh secangkir teh.  Tanpa banyak berkata, dia mengeluarkan satu kotak kue buatannya bersama ibu. Haidar memperhatikan gerakan sang istri. Pikirannya masih melayang tentang Safira yang akan dibawa pulang.  "Kamu beneran bilang sama mereka?"  Wanita itu dengan cueknya duduk di kursi yang berhadapan dengan suaminya. Nafasnya terlihat teratur, meskipun jantungnya berpacu dengan hebat. Ingin sekali marah-marah, teriak sekencang mungkin, menghancurkan semua benda yang ada di hadapan Haidar, agar lelaki itu tahu, bahwa ada yang dia rasakan bukan hanya sekedar sakit, tapi sudah hancur berantakan. Entah butuh waktu berapa lama agar semuanya kembali seperti semula, atau mungkin tidak akan pernah bisa lagi.  Anehnya, Safira sulit sekali membenci Haidar. Segala perlakuannya saat ini adalah bentuk kemarahan. Semakin dia benci, semakin banyak kebaikan lelaki itu yang terlentas dibenaknya. Sehingga, membuatnya sangat menyayangi semua yang terlah terjadi, jika harus kandas begitu saja.  Wajar, jika dia sakit hati, bagaimanapun dia merasa ditipu. Hidup dengan lelaki yang tidak mencintainya, dan bersikap seolah menginginkan dia seperti sebuah hal yang jahat.  Dia juga banyak berpikir, mungkin memang dirinya yang banyak kekurangan, dia tidak sesempurna Lana. Wanita itu, bukan bandingannya. Sekuat apapun dia berusaha membuat Haidar jatuh cinta. Hati lelaki itu bukan untuknya. Hanya satu yang ada dibenaknya sampai saat ini.  "Apa yang Kamu harapakan dari pernikahan ini?"  Sang suami tak kunjung menjawab, malah memperhatikan setiap tetes air mata yang keluar dari mata indah sang istri. Sembari terus berpikir, mungkin selama ini dirinyalah yang tidak bersyukur. Rasa sesak karena sesal terasa begitu nyata.  "Kamu layak bahagia Mas. Aku mungkin bukan jodohmu. Atau, jodoh kita sampai di sini saja. Seandainya, Kamu memang menginginkan wanita itu untuk bersamamu...,"  "Ibu bilang apa?"  Wanita paruh baya itu, tiba-tiba saja terbayang. Dia sangat menghargai mertuanya. Karena memang beliau sangat baik padanya. Tidak pernah membeda-bedakan sedikitpun. Malah, Safira yang banyak diminta mengalah untuknya.  Dia sangat merasa bersalah, jika istrinya sudah bicara pada keluarga. Mereka pasti sangat kecewa, karena dia sudah melukai berlian yang mereka miliki.  Sebelum menikah, Safira adalah gadis yang sangat dijaga oleh keluarganya, sempat diragukan sampai akhirnya mereka yakin dan ternyata dia memang seperti dugaan yang sudah dipikirkan sebelumnya.  Sudah tidak lagi terbanyang, betapa murkanya keluarga sang istri.  "Seperti yang ada dipikiranmu."  "Aku minta maaf."  "Sudah Mas. Lebih baik Kamu sekarang pikirkan. Segera ambil keputusan. Supaya hubungan kalian tidak semakin menabung dosa. Aku akan sangat merasa bersalah, jika memang Aku di sini yang menghalangi kebersamaan kalian."  Safira ingin lebih lama berbicara. Namun, dia hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia harus berpura-pura biasa saja.  Haidar dengan sigap, memeluk sang istri yang hendak pergi.  Beberapa saat, mereka saling diam di posisi ini. Safira tidak berontak sama sekali, dia malah merasa, mungkin ini akan menjadi pelukan tertulus untuk terakhir kalinya dari sang suami. Semakin Haidar salah tingkah seperti ini, rasanya kehilangan sudah di depan mata.  Terkadang, orang yang memilih diam. Karena dia tidak mampu mengatakan hal yang akan menyakiti orang lain.  Wanita itu awalnya tidak membalas pelukan sang suami. Namun, ketika dia merasakan ada air membasahi ceruk lehernya. Perlahan, dia mengangkat tangannya itu, meskipun sangat berat. Tangannya benar-benar menggantung di udara, masih ada jarak, antara tangan dengan punggung kokoh itu.  "Aku harus gimana?"  Ini bukan lagi Safira yang bertanya, tapi Haidar. Lelaki itu bertanya dengan suara beratnya, sembari terisak. Kali ini, dia merasa sudah tidak memiliki jalan keluar atas masalah yang dibuatnya sendiri. Pelukannya pun iya kencangkan. Berharap, istrinya paham. Seberapa dalam dia tidak mau kehilangan.   Tidak ada yang dia bisa bantu. Selain menepuk pelan bahu sang suami.  "Kamu gak perlu takut, apapun keputusannya. Itu sudah yang terbaik," ujarnya sembari melepas pelukan tersebut. Tentu, dengan sedikit paksaan.  "Aku sudah meminta Lana untuk menjauh. Aku juga sudah berusaha menjauhinya. Apa itu bisa dibilang keputusan."  Dia tidak bohong, secara tidak langsung. Dia memang meminta selingkuhannya itu untuk memberikan dia waktu berpikir.  "Menjauh bukan berarti tidak bisa dekat. Kamu masih bisa menghubunginya, kalian satu kantor. Aku sudah tidak ingin mendengar bualan. Jika dulu bisa sembunyi-sembunyi, harusnya sekarang Kamu bisa lebih bebas. Jangan terlalu pikirkan ucapan orang, mereka tidak merasakan apa yang kamu rasakan."  "Aku lebih baik Kamu pukuli, mendengar perkataan seperti itu hanya membuatku semakin terluka dan merasa bersalah. Ini bukan masalah yang mudah, dan penyelesaiannya juga tidak sesimple Aku harus ninggalin Kamu demi Lana. Kita sudah memiliki dua anak. Pernikahan ini juga bukan main-main. Setidaknya, jangan menyudutkan untukku meninggalkanmu. Itu bukan pilihan. Anak-anak, Aku juga tidak mau kehilangan mereka."  "Aku bisa saja egois, dan mempertahankanmu di sini dengan alasan anak-anak. Tapi kurasa itu bukan hal yang tepat. Aku juga gak mau bertahan dengan hati yang mempertahankan orang lain."  "Aku mohon, kita bisa kok seperti dulu lagi. Aku janji, akan berusaha sebaik mungkin, supaya bisa bersama lagi-"  "Mas, sudah ya. Jangan memaksakan diri. Aku yakin, Kamu akan jah lebih bahagia nantinya. Rasa bersalah itu perlahan akan hilang kok."  "Kamu pasti risi kan sama Aku?"  Pertanyaan itu, terlontar begitu saja. Dia yakin, istrinya sudah tidak mau menerima, karena merasa bahwa dia adalah orang yang sangat hina.  "Lebih baik, sekarang Kamu makan. Aku pergi tidur dulu."  Dia sengaja tidak menjawab, karena tidak bisa berbohong. Disentuh oleh tangan yang sudah menggenggam tangan wanita lain, bukan hal yang mudah untuknya. Belum lagi, banyak hal lain yang mungkin terjadi di hubungan dua orang dewasa yang terbilang nekat itu. Menjadi alasan kuat, dirinya kesulitan menerima.  Pikirannya terus berputar dengan perkara berhenti atau lanjut. Dia sedikit lebih lega, mendengar Haidar sudah berusaha menjauhi Lana. Meskipun itu belum cukup. Namun, setidaknya masih ada harapan yang lebih baik. Safira saat ini, tidak lebih dari remaja labil yang bingung menentukan pilihan. Satu sisi, dia ingin Haidar bahagia, di sisi lain dia juga ingin bahagia bersama dengan pria itu.. perceraian bukan hal yang mudah, belum lagi dia juga memikirkan. Apa mungkin, setelah kembali. Mereka bisa seperti dulu lagi, atau lebih baik dari sebelumnya. Namun, bagaimana jika sebaliknya? Ini sangat beresiko besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN