“Rin, temenin gue ke butik ya pulang kuliah nanti.” Ririn mengernyitkan alisnya begitu mendengar sahabatnya, Irene yang tiba-tiba mengajaknya belanja. Tak lama berselang dia memutar bola matanya bosan, melihat Irene yang cengar-cengir tidak jelas di depannya. Dia tahu sahabatnya yang berprofesi sebagai model itu tengah membujuknya atau meredakan amarahnya lebih tepatnya. Kini mereka berdua tengah duduk santai di kantin kampus, dimana di atas meja telah tersaji beberapa makanan pesanan mereka. Irene yang memesan bakso, roti bakar keju dan es lemon tea. Dan Ririn yang memilih memesan martabak telor, soto ayam tanpa nasi dan jus jeruk. “Nggak,” jawab Ririn final, tak menerima bantahan. “Kok gitu sih? Lo masih marah gara-gara gue lupa beliin lo oleh-oleh ya?” “Itu nyadar, kenapa pake n

