“Tergantung gimana cara kamu ngelamar aku.” Reiki mendongak, menatap Irene dengan kedua matanya yang kembali melebar. “Maksudnya?” “Kita nikah tanpa ada lamaran. Aku belum pernah ngerasain gimana dilamar cowok. Kamu juga belum pernah kan ngerasain gimana gugupnya nunggu jawaban cewek yang kamu lamar?” “Jadi maksud kamu, aku harus ...” “Ya, ayo lamar aku. Kita tetap cerai atau gak, tergantung dari lamaran kamu ini. Bisa gak kamu yakinin aku kalau kamu bener-bener pengen aku tetep jadi istri kamu?” Reiki menghela napas panjang seraya memejamkan kedua matanya. Tak menyangka dirinya harus mengalami situasi seperti ini saat sudah memiliki istri. Konyol memang tapi dia harus mengabulkan keinginan Irene ini jika dia tak ingin kehilangan wanita itu. Reiki membuka matanya. Menatap Irene

