"Bunda ini udah direbus habis itu di kasih bumbu ragi, benerkan bunda?" Tanya Aira takut salah.
"Iya nak bener, eh ini bunda beli kimchi. Bunda yang masak ya, kalian duduk aja."
"Oke bunda."
"Ra tangan kamu udah gak apa-apa?" Tanya Vino menghawatirkan jari Aira yang hanya tergores sedikit.
"Ini cuman goresan, jadi jangan dikhawatirkan."
"Tangan kamu kenapa?" Tanya bunda melihat tangan anaknya terluka.
"Ini tante, Aira tadi motong daging tiba-tiba aja tangannya ke gores oleh pisau jadi saya mengobatinya." Kata Vino dan Aira hanya diam, tadinya Aira mau menjawabnya tapi keburu Vino.
"Makasih ya vin, emang Aira itu gak hati-hati kalau ngelakuin sesuatu."
"Udhlah bun, ini cuma luka kecil doang." Tukas Aira.
"Iya, tapi kamu harus hati-hati."
"Iya bundaku tersayang."
Aira memeluk bunda dengan bahagia, sementara Vino hanya menonton mereka dengan senyuman. Keluarga Vino sangat sibuk dengan pekerjaan hingga tidak ada hari untuk bersama.
#
"Ini makanannya udah siap!"
"Wah! Pasti enak nih masakannya bunda."
"Ini aromanya enak tante."
"Kalau begitu, ayo di makan."
Mereka bertiga makan dengan lahap dan bercanda-canda, sampai akhirnya pukul 21.00 pun tiba.
"Tante, saya harus pulang dulu." Kata Vino pamit pulang dengan senyuman manisnya.
"Iya vin, sering-sering mampir ya."
"Iya tante, kalau saya gak sibuk."
"Tante akan menunggu, jika kau ingin dateng kemari." Perkataan bunda membuat Vino tersenyum.
Tanpa sengaja Aira menyenggol lengan bundanya, agar berhenti berbicara.
"Bun. Vino itu sibuk jadi gak sempet mampir."
"Saya bisa usahakan."
Bunda tersenyum lebar dan Aira menatapnya bingung, tentu saja Aira bingung mengapa bundanya sangat senang sekali dengan Vino.
Dringg....
"Iya Yejin, ada apa?" Tanya Vino yang sedang telponan dengan Yejin.
"Jaem lagi dimana?"
"Saya ada dirumah..."
"Rumah siapa?"
Aira yang masih menemani Vino diluar, mendengar percakapan mereka berdua.
"Saya ada dirumahnya Jihwan."
"Beneran?"
"I..ya."
"Inget ya, nanti anterin aku beli tas di mall."
"Maaf malam ini saya banyak tugas jadi diundur dulu ke mall"
"Yaudah deh gak apa-apa."
Setelahnya Vino mematikan teleponnya tak lupa ia pamit kepada Aira yang masih mematung di ambang pintu.
"Habis keluyuran kemana?" Tanya mama Vino, menatap anaknya dengan tajam.
"Maaf ma, tadi habis ke..."
"Kemana?atau kamu lama nyari rumah kamu yang mana?"
Semua itu sudah biasa dilakukan oleh Vino, karena penyakitnya belum bisa disembuhkan kata dokter yang merawat Vino, ingatannya kembali ini hanya butuh waktu. Tapi sampai saat ini dia belum bisa sembuh.
"Iya ma, Jaem ke kamar mau istirahat."
"Mama udah kasih tanda, kok kamu bisa lupa!!." Seru mama, membuat Vino terdiam sambil menunduk kepala tapi hal ini sudah biasa bagi Vino.
"Apa yang mama harus lakukan agar bisa kamu sembuh lagi." Mamanya hanya bisa bersedih di dalam kamar melihat anaknya punya penyakit seperti itu.
"Coba saja kamu tidak menemuinya, kamu tidak akan seperti ini." Geram mama saat mengingat kejadian tahun lalu.
Tok...tok...
"Masuk aja, pintunya gak dikunci."
"Apa mama liat kertas di meja belajar aku gak?" Tanya Jaewoo saat melihat mamanya menghapus air matanya dengan tisu.
"Mama gak liat."
"Jaewoo tanya sama Jaemin aja siapa tau dia liat."
"Jangan lupa kasih kotak ini buat Jaemin." Pinta mama memberikan sebuah kotak kepada Vino, entahlah di dalamnya ada apa. Jaewoo saja penasaran apa di dalamnya tapi kotak itu khusus buat Vino."
"Vin, kamu liat kertas di meja belajarku nggak?"
"Kertas apa?" Gumam Vino, mengingat-ingat apa yang tadi dia ambil di dalam kamarnya Jaewoo.
"Oh, kertas itu.."
"Kamu liat?aku mencarinya."
"Saya sudah membuangnya."
"Aishh, dimana kau membuangnya?"
Sebal Jaewoo, karena kertas yang di tulis oleh Hyemi hilang.
"Itu isinya alamat rumahnya Aira ishh." Gumamnya masih sebal dengan Vino yang seenak jidatnya ngebuang itu kertas. Vino tau itu alamat jadi dia tidak membuangnya.
"Emang kamu gak tau alamat rumahnya?"
"Nggaklah, itupun gue harus memohon dulu sama temen gue biar dikasih alamatnya. Juga handphonenya lagi di perbaiki." Keluh Jaewoo yang ingin sekali kerumahnya Aira.
"Saya tau rumahnya dimana."
"Kamu baca catatan itu?" Tanya Jaewoo membuat Vino mengangguk jujur dengan muka datarnya.
"Sherelock lokasinya vin."
"Buat apa?" Nada dingin milik Vino keluar.
"Bukan urusanmu." Jaewoo berdengus sebal, ia hanya biasa maklumi jika Vino masih punya penyakit ini.
"Jika kau tidak memberitahu juga saya tidak akan berikan."
"Aku temennya jadi terserah aku, langsung sherelock aja."
"Iya nanti saya kasih, itu kotak apa yang kau bawa?" Vino penasaran kotak apa yang di bawa oleh Jaewoo.
"Ini kotak mama kasih buat kamu, aku gak tau itu kotak apa tapi kasih alamat rumahnya Aira baru kasih." Vino mengangguk dan Jaewoo memberikan kotak berpita merah itu kepadanya.
"Thanks bro." Barulah Jaewoo keluar dari kamarnya Vino.
"Ini bukanlah hari ulang tahun, kenapa mama memberikan kotak ini?" Gumam Vino tapi rasa penasaran menghantuinya untuk membuka kotak tersebut.
"Vino!!" Panggil mamanya dari luar kamar.
"Ada apa ma?" Tanya Vino melihat ekspresi wajah mamanya yang sangat senang.
"Ayo ikut keruang keluarga." Ajak mama menggandeng anaknya itu dan berhadapan langsung dengan lelaki berjas abu-abu seperti ceo yang notabene adalah papanya Vino.
"Ayah?" Vino tak percaya jika papanya sudah balik dari Indonesia, karena papanya sangatlah orang yang super sibuk hingga tidak bisa berkumpul atau pun saling menghubungi satu sama lain sama seperti mamanya juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter.
"Kamu sudah besar, jika kau sudah lulus sekolah ayah akan pindahkan kamu ke Indonesia karena kamu akan menggantikan ayah sebagai CEO."
"Setelah Vino pikirkan lagi Vino harus berkuliah di Indonesia tapi sebelum itu saya harus mencari seseorang yang masih dipikiran saya dan masih tersimpan di dalam hati Vino, entahlah siapa dia."
"Lebih baik kau pikirkan kesehatanmu nak, kau ingin bertemu dengan perempuan itu urusan belakang kau harus sembuhkan ingatanmu. Mama ingin kamu sehat dan segera menemukan pasanganmu yang sudah lama kau belum temui." Kata mama yang ingin sekali melihat anaknya pulih kembali.
"Istirahatlah vin, apa disekolah kamu baik-baik saja?" Tanya ayah membuatnya balik menghadapnya.
"Vino baik-baik saja." Singkatnya dan pergi ke kamarnya.
"Ma, apa anak itu masih sering lupa?"
"Masih, sepertinya mama harus konsultasi dengan dokter untuk memeriksa Vino, agar ingatannya bisa pulih kembali." Jelas mama dan ayahnya mengangguk karena itu jadi keputusan mereka berdua, tapi apakah Vino akan mengingat kejadian tahun lalu juga?
"Sebenarnya saya ingin tetap di Korea karena ada Aira, saya tidak bisa lepas dengan dia. Entah mengapa saya tidak bisa meninggalkannya." Gumam Vino yang selalu teringat dengan Aira, hingga perempuan bernama Aira itu menghantui dalam tidurnya.
"Kau penyemangatku, penyelamatku dan selalu ada di hatiku."
"Aku akan menunggu kedatanganmu untuk menemuiku kembali."
Seorang perempuan manis, rambut sebahu membawa boneka panda kesukaannya itu sangat senang bersama Vino hingga sampai akhirnya mereka berdua berpisah.
###
"Aina!!" Panggil ayahnya yang masih duduk di sofa dengan balutan syal.
"Iya ayah ada apa?" Tanya Aira sambil mengambil baju-baju di dalam lemari dan menaruhnya di koper berwarna biru miliknya.
"Apa kau mau pergi menyusul mereka?"
"Tentu saja. Aina akan pergi menemui mereka, lagi pula sekolah Aina libur seminggu. Tenang saja Aina hanya menginap cuma 5 hari saja setelah itu barulah kembali kesini, ayah tidak perlu menghawatirkan putri kesayangan ayah."
"Baiklah, jika itu keputusanmu nak. Setelah kau ketemu dengan mereka pulanglah karena kau harus kuliah, mengerti."
"Iya ayah."
"Kau pergi sama pacar kamu?"
"Tidak."
"Jaga diri kamu baik-baik."
"Iya ayah, Aina juga perginya hari senin."
"Iya ayah tau, apa kau bisa bahasa Korea."
"Annyeong."
"Aina belum teralu bisa bahasa Korea ayah." Kata Dirga yang berdiri di ambang pintu.
"Apaan sih kak Dirga."
"Belajar lagi bahasa korea yang bener."
"Iya ayah juga kalau Aina ketemu sama bunda dan Aina pake bahasa Indonesia."
"Ayah hanya mengingatkanmu saja jika di sana memakai bahasa Korea atau tidak bahasa Indonesia."
"Iya ayah, aku akan belajar bahasa Korea lebih giat lagi."
"Jangan pernah lupakan apa yang pernah kau lakukan kepada lelaki itu nak." Lirih bunda, mengusap rambut putrinya yang sedang tertidur.