Hiperbolis

1114 Kata

Mendapati Agam yang tersenyum-senyum i***t di teras rumah, sontak gue merapal doa. Gue memandang sekeliling dengan waswas, takut-takut kalau ada dedemit nyasar. Gue tidak mempunyai indra keenam. Jadi, percuma saja sebetulnya. Gue mendesah lega. Setidaknya insting gue mengatakan tidak ada apa-apa. Aman. Kembali melirik Agam yang masih mempertahannya senyum siput, gue mendudukkan diri di kursi kayu di sebelahnya. Sekarang gue heran. Pasti ada suatu hal yang fantastis sampai-sampai Agam tidak menyadari kehadiran cowok ganteng keturunan Dewa Yunani. Gue mendesis hiperbolis. Tangan gue melambai-lambai laksana nyiur hijau di tepi pantai di depan wajah Agam. Dia mengerjapkan matanya dua kali, kemudian mendelik tak suka seraya menepis jengah lengan gue. Namun detik berikutnya, Agam kembali mene

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN