Ciuman Arhan

1033 Kata
Sontak saja Rifky dan Bara terlihat bingung melihat Arhan yang tiba-tiba saja menuju warung Naomi itu. "Lah tuh bocah kenapa yak?" ucap Rifky. "Awas aja kalau tuh bocil mau deketin ayang Naomi gue," ujar Bara yang merasa tak terima jika sampai sahabatnya itu juga menyukai Naomi. "Palingan si Arhan kelaperan aja dia," balas Rifky. "Bentar ya aku bikinin kamu soto dulu pakai nasi kamu tadi nggak sarapan kan?" ujar Naomi. Ia mengira Arhan mendekati dirinya karena suaminya itu merasa lapar. "Sini lu ikut gua!" perintah Arhan tegas sambil ia menggenggam tangan Naomi membuat istrinya itu terbelalak kaget. Arhan yang membawa Naomi pergi membuat semua orang di sana terlihat bingung termasuk pria yang tadi mendekati Naomi itu juga merasa terheran-heran. Saskia juga bingung dan kaget melihat Naomi dibawa kabur oleh Arhan seperti itu. "Woy mau bawa Naomi ke mana? Kami lagi kerja lagi keteteran nih!" seru Saskia namun Arhan tak menggubrisnya sedangkan Naomi berusaha hanya diam saja karena bingung. "Sini biar aku aja ya, Kak yang bantuin!" Saskia kaget melihat tiba-tiba saja Rifky mendatanginya dan tersenyum lebar ke arahnya seperti itu. "Woy sabar ya satu satu!" seru Rifky kepada para pembeli. "Tenang aja Kak Saskia cantik! Jangan panik jangan khawatir ada aku Rifky tampan mempesona luar dalam yang dateng untuk membantu Kak Saskia jualan soto, bakso dan es!" Saskia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bocah itu namun ia membiarkannya. Toh sekarang ini ia memang sedang keteteran karena Naomi dibawa lari. "Arhan pelan-pelan jalannya! Aku mau kamu bawa ke mana sih?" protes Naomi saat suaminya itu terus mengajaknya jalan menuju belakang sekolah yang sepi itu. "Mau ngapain kita ke sini? Aku lagi kerja aku lagi sibuk banget kasian tau Saskia sendirian di kantin dia pasti keteteran." Naomi memang gadis dengan hati yang sangat baik, lihat kan dia saja masih peduli dengan Saskia. "Udah lu jangan banyak omong! Ikut gua aja!" hardik Arhan. "Tapi, Arhan..." Ucapan Naomi terhenti dan ia terbelalak panik saat Arhan menyudutkan dirinya ke dinding dan mencium bibirnya dengan paksa. Dan ia tak bisa berkutik karena suaminya itu juga memeluknya dengan erat, memenjarakannya dengan badan Arhan yang atletis. Menganggap hal tersebut tidak seharusnya terjadi Naomi pun memukul-mukul d**a Arhan agar suaminya itu menghentikan aksinya yang semakin brutal. Arhan itu memang sudah sah menjadi suaminya namun apa hal tersebut pantas Arhan lakukan padanya sementara bocah itu masih setia dengan Clara? Bahkan sampai sekarang pun meski mereka sudah menikah namun Arhan sama sekali tak melepaskan Clara. Malah ia tadi melihat mereka berciuman mesra di toilet. Naomi yang merasa kesal terus memberontak hingga akhirnya Arhan melepaskannya. Ia langsung mengambil napas, meraup udara sebanyak mungkin karena sejak tadi ia kehilangan napas gara-gara ciuman brutal Arhan. "Kamu tuh apa-apan sih Arhan? Kenapa kamu lakuin ini ke aku?" tuntut Naomi meminta penjelasan dari sang suami. Arhan mendengus. "Tapi kamu suka kan? Buktinya kamu barusan menikmati juga kok," ejeknya. Naomi memerah sedikit, ia menatap ke arah lain tak berani menatap suaminya itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Arhan, ia memang sedikit menikmati ciuman sang suami namun ia juga merasa hal itu salah. Arhan itu miliknya Clara dan ia merasa tak berhak untuk menikmatinya. "Nggak lah apaan sih! Kamu itu kan pacarnya Clara kalau dia sampai tau gimana? Kamu nggak mau kan dia sakit hati liat kita?" Arhan menyeringai. Ia tahu betul jika Naomi telah berbohong padanya. "Siapa laki-laki yang tadi datengin lu?" tanya Arhan to the poin karena ia tak suka berbasa-basi. Naomi lantas menatap ke arah Arhan dan ia bingung dengan pertanyaan suaminya itu. Hah? Laki-laki yang mana maksudnya? "Laki-laki yang mana sih? Aku nggak ngerti deh." Arhan menghembuskan napas kesal. "Itu yang tadi deketin lu di kantin masa lu nggak inget sih?" kesalnya. Naomi sekarang baru ingat, ia pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Oh yang itu toh? Arhan yang melihat Naomi tersenyum seperti itu menjadi semakin kesal, ia mengira istrinya itu merasa bahagia mengingat laki-laki tidak jelas itu. Ia tak suka akan hal itu. "Itu sih Mas Saka, dia itu yang punya warung alias dia itu bos aku," ucap Naomi menjelaskan. "Oh jadi itu bos lu? Lain kali jangan deket-deket!" larang Arhan dengan tatapan tajamnya itu yang membuat Naomi menunduk takut. "Emang kenapa sih? Kan dia itu bos aku masa aku nggak boleh ngobrol sama dia? Aku sama dia kan cuma bahas soal mau jualan menu apa lagi gitu, cuman itu doang kok. Cuma sebatas itu doang obrolannya nggak ada yang lain nggak ada yang lebih." Tentu saja Naomi merasa keberatan dengan larangan Arhan yang menurutnya sangat tak masuk akal tersebut. Dia dan bosnya adalah dua orang yang saling mengenal dalam hubungan antar owner dan pekerja masa iya yang seperti itu saja dibatasi? "Tetep aja gua nggak suka! Gua nggak suka ya nggak suka!" tegas Arhan. "Tapi emangnya kenapa sih?" Arhan gugup ditanya seperti itu, ia pun tak tahu mengapa ia seperti itu hanya saja ia memang tak suka Naomi berdekatan dengan laki-laki lain. "Ya karena lu itu istri gua, kalau misalnya sampai Mama lu atau Mama gua liat lu lagi sama laki-laki lain gimana? Nggak etis kan?" setelah beralasan seperti itu Arhan pun pergi begitu saja dari hadapan Naomi. Naomi masih terdiam di tempatnya berdiri karena ia merasa sangat heran. Ponselnya berbunyi dan ia langsung tersadar dari lamunannya. Saskia calling! Ah iya Saskia, sahabatnya itu pasti sedang repot di kantin sendirian melayani para murid sekolah itu. Segera ia menjawab telepon dari sahabat karibnya itu. [ Hallo Naomi kamu di mana? Aku khawatir sama kamu tiba-tiba aja kamu dibawa kabur gitu tadi. Kamu baik-baik aja kan sekarang? ] terdengar nada khawatir dari Saskia. [ Aku bentar lagi ke situ kok, aku minta maaf soal itu. Iya aku nggak apa-apa kok. ] [ Oke deh kalau gitu, dah ya. ] Sambungan telepon berakhir, Naomi menghela napas. Ia melihat sekeliling dan ia baru sadar jika ia kini sedang berada di belakang sekolah yang sangat sepi. Suasana di tempat itu membuat bulu kuduknya berdiri, ia merinding dan segera angkat kaki dari tempat itu. "Hiiiiiii serem banget deh," ujar Naomi sambil bergidik ngeri. Tanpa ia tahu ternyata Clara berada di sana, tatapan kesalnya ia arahkan pada Naomi. "Dasar cewek gatel, udah tau Arhan punya gue malah dia embat! Awas lu ya Naomi ganjen! Lu bakalan rasain akibatnya!" ancam Clara sambil mengepalkan tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN