Naomi langsung pergi ke rumah sakit begitu ditelepon oleh Rifky yang mengatakan jika Arhan sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Rasa panik dan khawatir terlihat jelas di wajah cantiknya itu.
Saat ini Naomi sudah tiba di rumah sakit dan ia berjalan cepat menuju ruangan rawat Arhan. Namun saat ia telah sampai di depan pintu ruangan itu langkah kakinya terhenti. Di dalam sana ia melihat ada Clara yang sedang berciuman dengan Arhan.
Entah mengapa Naomi bisa merasakan hatinya sakit sekarang, tidak seperti di awal-awal menikah rasanya biasa saja jika ia melihat mereka bermesraan karena ia tahu jika mereka itu pasangan kekasih.
Naomi membatalkan niatnya untuk membuka pintu, ia pun hanya berdiri di depan pintu sambil tersenyum sedih.
"Ya udah mau gimana mereka itu kan pacaran jadi ya wajar kalau Clara yang duluan di sana dampingin Arhan," gumam Naomi sambil menunduk sedih.
Naomi akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di luar pintu itu.
"Loh kok Kak Naomi nggak masuk sih?" tegur Rifky dengan bingung.
Naomi tersenyum canggung. "Iya nggak apa-apa kok, di dalem masih ada Clara takutnya ganggu."
Rifky kemudian mengintip ke dalam kamar rawat Arhan dari pintu kacanya. Iya benar ternyata Clara masih ada di dalam sana.
Rifky kemudian duduk di samping Naomi, dalam hatinya ia mengganjal dan bertanya-tanya mengapa tadi ia menghubungi ke nomor Naomi dan anehnya wanita itu langsung datang. Tadi ia hanya melakukan panggilan cepat dan langsung terhubung ke nomor Naomi. Ia melirik sekilas ke arah wajah Naomi dan ia semakin heran mengapa wanita itu terlihat sangat khawatir. Apa benar ya jika Naomi dan Arhan sedang menjalani hubungan rahasia di belakang Clara? Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan pikirannya itu. Mana mungkin sih hal itu bisa terjadi? Sedangkan usia Naomi dan Arhan terpaut jauh jadi mana mungkin mereka itu pacaran. Dan yang ia tahu Arhan itu sangat mencintai Clara jadi mana mungkin sahabatnya itu bisa tega mengkhianati Clara.
"Kak Naomi, kalau boleh tau kenapa ya Kakak bisa dateng ke sini? Setahu aku kalian kan nggak saling deket ya?" tanya Rifky dengan hati-hati agar Naomi tak merasa tersinggung.
Naomi sontak saja terkejut mendengar pertanyaan dari Rifky tersebut. Ia bingung harus menjawab apa, ia kan tak mungkin jika langsung berterus terang bahwa ia itu adalah istrinya Arhan.
"Naomi? Bagaimana keadaan Arhan sekarang Nak?"
Mereka berdua menoleh dan melihat Devi juga Pak Rama yang berjalan cepat ke arah mereka dan wajah mereka berdua pun terlihat sangat panik.
"Mama Papa?" Naomi bangun dan langsung Salim pada kedua mertuanya itu.
"Hallo, Tante Devi Om Rama?" Rifky menyapa dengan ramah sambil Salim.
Devi mengangguk sambil tersenyum ramah juga.
"Mama khawatir banget pas kamu tadi nelepon Mama dan bilang kalau Arhan kecelakaan," kata Devi. "Sekarang dia udah siuman kan?"
Naomi merasa panik saat Devi mengatakan hal itu di depan Rifky. Ia takut jika Rifky akhirnya mengetahui jika mereka memang saling mengenal karena Devi menyebut diri sendiri dengan sebutan Mama. Aduh bagaimana ini? Rifky pasti nanti jadi curiga padanya. Bagaimana jika seluruh sekolah sampai tahu nantinya? Semuanya itu berkecamuk di pikiran Naomi. Ia takut akan kemungkinan besar tersebut. Ia pastinya akan segera dipecat oleh bosnya karena sudah membuat nama baik bosnya tercoreng karena dengan berbagai gosip yang akan menimpanya. Gosip tentang dirinya yang nekat menikah dengan bocah yang masih sekolah.
"Naomi kenapa kamu ngelamun begitu? Yuk kita masuk! Pasti kamu di sini terus karena masih nungguin Mama sama Papa kan? Sekarang ayo kita masuk kita liat keadaan Arhan," ajak Devi.
"I...iya Ma..." Naomi menggigit bibirnya, aduh bagaimana jika Rifky yang berada di sampingnya persis itu bisa mendengarnya?
Devi dan Rama pun masuk diikuti oleh Naomi, sedangkan Rifky yang masih duduk di luar pun bingung.
"Hah? Itu tadi gua kagak salah denger yak? Masa Tante Devi manggil Kak Naomi pakai sebutan Nak sih? Apa mereka udah kenal akrab yak? Kok gua baru tau sih? Gua padahal udah lama loh temenan sama si Arhan." Rifky yang bingung menggaruk kepalanya sendiri.
"Ah gua cuman salah denger kali." Rifky tak ingin pusing tentang hal itu. Ia pun pergi entah ke mana.
Setelah masuk ke dalam ruangan Arhan, Devi sangat murka melihat Clara berdua bersama anaknya itu.
"Ngapain kamu di sini? Gangguin Arhan anak saya aja! Sekarang cepat kamu pergi dari sini saya nggak mau liat muka kamu lagi!" usir Devi.
"Ma, please jangan gitu ke Clara," pinta Arhan lirih. Ia tak terima jika Clara diperlakukan seperti itu oleh ibunya.
"Nggak ada nggak ada! Cepetan kamu keluar dan jangan ke sini lagi!" usir Devi lagi pada Clara.
Clara terlihat sedih dan marah namun ia tak bisa berbuat apapun selain menuruti keinginan Devi. Ia pun beranjak pergi dan saat ia melewati Naomi ia menatap wanita itu dengan tatapan kesalnya sekaligus benci.
"Awas lo ya!" desis Naomi berbahaya dan Naomi terbelalak kaget mendengarnya.
Clara pun keluar dari ruangan itu dengan langkah yang menghentak.
"Gimana keadaan kamu, Nak?" tanya Devi dengan penuh kelembutan sambil duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur Arhan itu.
"Iya gimana keadaan kamu?" tanya Rama.
"Tadinya aku baik-baik aja tapi setelah kalian dateng langsung drop nih kayaknya," balas Arhan kesal.
Sungguh kata-kata Arhan yang pedas itu menusuk ke hati Naomi. Ia melihat ke arah lain tak berani menatap ke arah suaminya yang sejak tadi menatapnya dengan tatapannya yang tajam itu.
"Kamu kok ngomongnya kasar begitu sih? Mama nggak pernah loh ngajarin kamu begitu Arhan!" tegur Devi.
"Udah lah mendingan kalian pulang aja! Aku mau tidur mau istirahat!" Arhan melengos.
"Kamu ini ya bener-bener deh ngomongnya ngawur! Papa nggak pernah ngajarin kamu seperti itu!" kali ini Rama yang bicara. Ia kesal pada sang anak karena sudah berani mengatakan perkataan yang kejam seperti itu.
"Minta maaf ke Naomi!" titah Devi pada putranya.
"Ogah amat emang dia siapa sih sampai aku harus minta maaf ke dia?" balas Arhan sinis.
"Naomi itu istri kamu! Buruan kamu minta maaf ke Naomi!" perintah Devi lagi kali ini dengan tegas.
"Ngapain aku minta sama dia Ma? Dia itu yang harusnya minta maaf ke aku karena udah buat aku kayak gini! Dia yang udah buat aku celaka, Ma!" seru Arhan.
Devi dan Rama terkejut mendengar apa yang Arhan telah ucapkan tersebut.
Naomi terdiam dan ia menelan ludah gugup. Apa maksudnya Arhan berkata seperti itu?