LEMBAR UJIAN

1099 Kata
Harinya telah tiba. Aku memainkan kerikil kecil yang berserakan dengan kaki. Sementara Mino sibuk dengan ponselnya di sebelahku. Kami menunggu Pandi di belakang sekolah.  Sudah beberapa hari terakhir ini aku selalu bersama Mino, sesekali ia juga mengantarku pulang. Pak Andra dan Bi Ruri tidak pernah bertanya hubungan apa yang kumiliki dengan Mino. Orang yang ramah akan selalu memberikan kesan positif pada orang sekitarnya. Begitulah kesan yang diberikan Mino dan juga Pandi ketika mengantarku pulang, sehingga tidak ada yang bertanya apalagi curiga. Namun, kalimat itu tidak sepenuhnya benar. Tidak ada yang tahu isi hati seseorang sebenarnya. Bahkan diri sendiri pun tidak dapat mengenali siapa dirinya yang sebenarnya. “Bagaimana kau meyakinkan Pandi?” tanyaku. Aku berhenti memainkan kerikil lalu mengangkat kepala menoleh ke samping. “Hm….Mengancam?” jawabnya ragu. Tapi raut wajahnya menunjukkan sebaliknya. Aku membelalak. “Hei,” teriakku. Mino mengangkat bahu. Terkadang sulit bagiku untuk memahami Mino. Tingkahnya, nada bicara, perangai dan raut wajahnya sangatlah acak. “Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?” katanya sambil menunjukkan smirk tipis. Kini dia menoleh padaku. “Kau akan terus bercanda seperti ini?” Raut wajahku berubah sinis karena sedari kemarin Mino selalu saja menjadikan hal ini bahan bercandaan. Padahal risikonya sangat besar jika kami ketahuan.   Dua malam yang lalu, Mino menghubungiku. Aku langsung tersenyum begitu mengangkat panggilan berharap kabar baik akan kudengar. Tapi ternyata pertanyaan Mino malah ingin menggoyahkanku. “Kau serius akan melakukan ini? Aku merasa ini bukanlah hal yang benar untuk dilakukan?” tanya Mino dari seberang sana. Nada suaranya terdengar datar. Tapi aku tau kalau dia khawatir. Dan aku tahu itu meskipun sebenarnya dia sanggup untuk melakukannya seorang diri. Masalahnya sekarang adalah kami turut melibatkan Pandi, pengawalnya. Mungkin dia mengkhawatirkan Pandi. Apa yang akan terjadi jika ayah Mino tahu nanti? Tentu masalah bisa menjadi lebih besar. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan ayah Mino, tapi aku membayangkan kalau ayahnya berbadan besar yang cukup menakutkan jika marah. Aku menghela nafas. “Hm.” Jawabku mantap tanpa ragu. Semenjak aku memutuskan untuk mengungkap segala kecurangan di sekolah, aku sudah membuang rasa ragu dan takut. Jadi tidak ada waktu untuk ragu atau berpikir panjang jika ingin melakukan sesuatu. “Baiklah, jika itu yang kau mau,” ungkap Mino. “Jadi? Kau sudah bilang sama Pandi?” tanyaku mendesak Mino. “Dia bilang bersedia.” Jawaban Mino tak sengaja membuatku langsung tersenyum bangga.  Aku tidak tahu cara apa yang dilakukan Mino untuk membujuk Pandi. Karena setauku Pandi bukan tipe pengawal yang mau merugikan apalagi membahayakan majikannya. Aku tahu persis sebenarnya Pandi sangat protektif terhadap Mino. Meskipun perangai Mino sangatlah tidak biasa dan tidak bisa ditebak, tapi Pandi tidak bisa menolak permintaan Mino. “Biar aku saja yang mengatur tanggalnya, nanti akan kukabari lagi,” kata Mino sebelum menutup panggilan. Baiklah. Akan kuserahkan semua padanya.             Dan keesokan malamnya, aku kembali dibuat bertanya-tanya, Mino mengabariku melalui panggilan telpon. Ia bilang Arin akan memberikan berkasnya di perpustakaan. Hanya saja mereka tidak akan benar-benar bertemu. Mino bilang Arin selalu menolak bertemu secara langsung jika yang membeli berkasnya bukanlah anak sekolah. Aku menebak kalau gadis itu khawatir kalau ia bisa dikenali oleh pembeli yang bisa saja kenalan orang tuanya.             “Hei!” Aku membuyarkan lamunan Mino dengan menyenggol lengan kanannya. Mino menoleh. “Apa kau yang menghubungi Arin secara langung?” tanyaku lagi. Selain bagaimana cara Mino membujuk Pandi, aku juga penasaran bagaimana Mino mengatur tanggal dan tempat untuk bertransaksi dengan Arin.             “Rahasia,” jawabnya singkat. Aku mendesis sebal melihat raut wajahnya yang tengil. “Memangnya kita bukan tim? Ini yang kau sebut tim?”             “Aku tidak pernah bilang kalau kita tim,” balasnya lagi yang semakin membuat darahku memuncak. Selalu saja ada jawabannya yang membuatku kesal. Aku menggigit bibir bawahku menahan mulut ini untuk tidak mengomel padanya. Tapi sangat sulit kutahan, akhirnya tanganku terangkat hendak memukul pundak kanannya. Namun situasi tak berpihak padaku, tepat saat itu, sebuah sedan hitam berhenti di hadapan kami. Pandi keluar dari mobil. Ia tampak gagah dalam balutan setelan jas hitamnya.             Pandi mengangguk ke arahku. Aku membalasnya dengan sedikit anggukan kepala. Kami langsung masuk mobil. Pandi membawa kami ke tempat yang sudah diatur oleh Arin. Tapi kali ini berbeda, tempatnya bukanlah di gedung tua yang berada di belakang minimarket.             “Sebenarnya aku tidak mau mengambil resiko, tapi aku akan melakukannya untuk kalian, hanya sekali ini saja!” tegas Pandi dari balik stir kemudi.             “Apa kau benar-benar diancam Mino?” pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutku begitu saja.             Pandi terkekeh. “Mino bilang begitu? Tidak. Hanya saja dia sedikit menyedihkan ketika meminta padaku dua hari lalu.” Pandi kembali terkekeh. Barangkali ia teringat kembali perangai Mino dua hari lalu setelah Mino menghubungi malam itu.             Kami sampai di sebuah gedung bertingkat berwarna coklat pastel. Pandi memarkirkan mobil di basement gedung. Suasana hangat dan tenang bisa kurasakan. Jendela besar dan tinggi memenuhi dinding gedung sehingga pencahayaan gedung sangat terang tanpa harus menyalakan lampu.             Kami menunggu di salah satu meja. Mengambil sembarang buku untuk dibaca. Sebenarnya aku tidak tahu alasan Arin ingin menemui Pandi di sebuah perpustakaan yang ramai dan terpantau CCTV. Bukankah itu akan membahayakan dirinya sendiri? Aku mengamati pandi menyusuri salah satu rak buku di depanku. Kini ia belok kiri ke rak lainnya dan menghilang dari pandanganku. Lima menit kemudian, Pandi kembali. Aku melihatnya berjalan di antara rak buku yang sama. Dia tidak menghampiri kami, tapi langsung menuju pintu keluar lalu ke basement. Kamipun bangkit dan bergegas menyusul Pandi. Kini kami bertiga sudah berada di dalam mobil. Dia menyerahkan berkas beramplop coklat kepadaku. “Cukup sekali ini saja, dan ini yang terakhir,” tegas Pandi mengingatkan sekali lagi. “Aku tahu, aku mengerti. Kau sudah mengatakannya seratus kali,” cibir Mino membalas Pandi. Aku bergegas membuka perekat amplop. Mengeluarkan tumpukan kertas di dalamnya. Benar saja. Itu adalah berkas ujian yang akan di laksanakan satu bulan lagi. LEMBAR SOAL UJIAN JULI 2021.             Tulisan itulah yang pertama kali kulihat dari halaman depan.             Pandanganku beralih menatap Mino. Begitu pula dengannya. Kami bertatapan. Mata kami seakan melakukan percakapan. Tanganku dengan cepat memasukkan kembali berkas itu ke dalam amplop. Tapi tangan Mino sudah lebih dulu menahan tanganku.             “Ayolah, kapan lagi nama kita bisa dipajang di halaman depan majalah sekolah,” goda Mino. Aku menepis tangannya. Kembali merapikan aplop berkas itu lalu memasukkannya ke dalam tas.             Sebenarnya aku bukan termasuk murid yang pintar. Tapi nilaiku juga tidak seburuk itu. Dan ini bisa menjadi kesempatan bagus bagi kami. Tapi aku memilih untuk tidak melakukan hal ini karena bisa menjadi s*****a makan tuan bagiku nanti. Aku tidak mau melakukannya hanya untuk mendapatkan sebuah pujian. Apalah arti dari pujian? Dan seberapa lamakah pujian itu bisa bertahan?   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN