Ponsel di dashboard terus saja bunyi. Aku sengaja acuhin. Biar aja. Toh aku tahu, itu pasti Mas Abhi. Sejak dia tahu aku sudah berangkat pagi-pagi sekali bawa mobil sendiri, Mas Abhi terus telepon dan ngirim pesan chat. Padahal harusnya sekarang dia juga dalam perjalanan, karena ada jadwal operasi pagi. Cuma operasi kecil memang, tapi tetap saja penting. Sampai di kantor, aku malah dikagetin dengan keberadaan Mas Abhi di lobi. "Mas ngapain di sini?" tanyaku setelah kami berdiri berhadapan. "Kamu kenapa nggak angkat telepon dari Mas?" "Aku lagi nyetir, bahaya tahu nyetir sambil telepon!" Mas Abhi terdiam, mungkin baru sadar kalau omonganku ada benarnya. "Mas bukannya ada operasi pagi ini?" "Kunci mobilmu mana?" "Hah??" Tangannya tetap terulur di depanku meski aku lagi melongo me

