Bab 3 Calon Suami yang Seperti Menang Lotere!

1891 Kata
Malam hari, di sebuah kafe, Risa duduk di dekat jendela menunggu pria yang katanya akan datang bertemu dengannya. Tentu saja sekedar untuk melihat rupa satu sama lain dan saling mengenal singkat. Tapi, ini sudah lewat 15 menit, pria itu belum juga muncul. Padahal, Risa sudah berdandan cetar membahana agar membuat pria itu terpikat, memberikan kesan baik dan sopan—atasan pakaiannya berupa lengan panjang putih dengan bordiran indah dan rok biru plisket sebatas betis. Rasanya, semua usahanya akan meleleh seperti es krim yang tidak enak dimakan. Malam ini, dia juga berdandan tidak biasa. Wanita itu menghela napas berat. Sangat kecewa dan sedih. “Harusnya dia yang menunggu di sini, bukan aku,” gumam Risa, mengeluh dengan wajah cemberut. Seorang pelayan yang berjalan di dekatnya memberikan senyum sopan sambil membawa pesanan meja lain, Risa hanya membalasnya dengan senyum canggung. “Ya, ampun. Dia beneran mau menikah tidak, sih?” Risa menatap layar ponsel, memeriksa pesan singkat pria itu. Foto profilnya hanya menampilkan sebuah gambar pemandangan laut dengan gedung pencakar langit di luar negeri—sepertinya tempat itu di Australia, seolah dengan begitu dia ingin pamer kalau dia adalah orang yang berada dan elit. Biasanya kalau tampan, pasti akan pamer dengan wajahnya, tapi ini malah foto pemandangan saja? Dalam hati, Risa merasa sangat dongkol mengingat perkataan ibunya: botak, gendut, dan jelek? Wajah Risa menggelap cepat, roh seperti sudah mau keluar dari tubuhnya. Selama dia menunggu, beberapa pengunjung kafe sudah hilir-mudik keluar masuk tempat itu, sementara Risa masih menunggu dengan segelas air yang sudah dituang beberapa kali oleh pelayan kafe. “Apa dia membatalkan perjodohan kami? Tidak suka menikah atas dasar kerja sama bisnis yang dipaksakan itu?” Risa yang sudah hampir menunggu selama 1 jam, akhirnya mulai menggerundel sendirian di mejanya, ditatap aneh dan penuh rasa penasaran oleh para pengunjung lainnya, sama seperti ketika berada di kantornya tadi pagi. Para pelayan kafe pun mulai bisik-bisik kasihan di sudut ruangan. “Maaf, menunggu lama,” ujar sebuah suara merdu dan sangat sopan beberapa menit kemudian. Risa yang sudah duduk bersandar di kaca, nyaris tertidur, akhirnya tertegun kaget, spontan berdiri dan berteriak kencang, “MAAF, PAK! MINGGU DEPAN, SAYA AKAN SEGERA AJUKAN LAPORANNYA!” Suara gelak tawa indah terdengar di telinga Risa, membuat wanita ini tertegun kaget dengan sosok pria di depannya. Sebagian orang di sana juga tertawa dengan tingkah konyolnya, tapi Risa malah terhipnotis oleh suara tawa pendatang baru itu. “Tadi ada rapat mendadak, dan ponsel saya kehabisan baterai. Maaf sudah menunggu lama. Saya pikir, Anda tidak akan pergi tanpa penjelasan. Untunglah tebakan saya benar.” Risa membeku di kedua kakinya, mata tak berkedip. Tidak tahu harus berkata apa. Di depan Risa, sudah berdiri seorang pria tinggi berjas abu-abu metalik, berambut hitam medium dan berkacamata tipis. Pembawaannya sangat intelek dan dewasa. Oh! Sangat tampan, ya, Tuhan! “Halo, salam kenal. Anda pasti Risa Abdullah. Nama saya adalah Adnan Budiraharja,” sapanya dengan mata melengkung indah bak bulan sabit, tangan kanan terjulur untuk menyalami Risa. ‘Ta-tampaaan...! Kyaaa...! Apakah seperti ini rasanya menang lotere?’ batin Risa dengan hati girang. Tapi, di luar, raut wajahnya sedikit kaku dan canggung. “Se-senang bertemu dengan Anda, Pak Adnan,” balas Risa, menyambut tangan pria itu. “Panggil saja Adnan. Sebentar lagi, kita bukan orang asing, bukan...?” tegurnya pelan, tersenyum ramah, lalu melanjutkan dengan nada mesra dan akrab, “... Risa.” Hati Risa melambung tinggi! Jantung berdegup kencang! Kedua pipinya merona indah! Matanya membesar oleh rasa bahagia yang meledak-meledak! Dia terlihat salah tingkah dengan menyisipkan anak-anak rambut di balik daun telinganya. Bahkan, senyumnya tampak malu-malu bagaikan anak perempuan yang baru kali pertama jatuh cinta. Apakah kisah cintanya akan berubah drastis kali ini? Risa sangat bersemangat! “Be-begitu, ya?” balasnya sembari tertawa canggung. Adnan tersenyum lembut, lalu memberikan gesture untuk duduk, “mari, pasti sudah lapar, bukan? Mau pesan apa? Biar saya yang membayar semuanya. Jangan sungkan-sungkan.” Risa menelan ludah gugup. Calon suaminya ini terlalu sempurna! Bagaimana mungkin nasib begitu baik padanya kali ini? Apakah ini namanya setelah semua hal buruk berlalu, hal baik akhirnya muncul? Kedua mata Risa berbinar indah berkaca-kaca melihat sosok calon suami berkacamatanya itu. Sangat sopan, tampan, dan senyumnya begitu manis! Astaga! Hatinya meleleh bukan main! “Apakah ada yang aneh di wajah saya?” tanya Adnan dengan pembawaan tenang dan dewasa, punggung tangan kanannya dengan canggung menyeka sebelah pipinya. Tampak lebih anggun dan tampan hanya dengan gerakan kecil seperti itu. Risa dengan cepat menggelengkan kepala! “Anda sungguh ingin menikah dengan saya? Kalau tidak suka, dan merasa terbebani, saya tidak keberatan membatalkan perjodohan ini!” Entah kenapa Risa malah mengatakan hal konyol. Mungkin karena rasa bersalah di hati nuraninya kalau pria itu akan mendapatkan wanita di bawah standar. Jika dibandingkan di antara mereka berdua, Risa merasa seperti wanita yang terlalu sangat beruntung untuk bisa bersanding dengan pria luar biasa itu. Adnan terkekeh kecil, sangat sopan dan indah, membuat jantung Risa berdebar bagaikan bom yang siap meledak. Kedua tangan di pangkuannya saling jalin menjalin, sangat gugup dan gelisah. Dia bukannya tidak setuju dengan Adnan sebagai calon suaminya. Pria itu bahkan adalah tipe pria idaman semua wanita. Risa yakin itu. Tapi, bersamanya? Kalau setelah menikah nanti, lalu ternyata pria itu memiliki wanita idaman lain? Bukankah pasti akan sangat menyakitkan?! “Risa... Risa... kamu ini bicara apa? Tentu saja aku ingin menikah denganmu.” Wanita berwajah manis tertegun mendengar gaya bahasa informal tersebut, mata sedikit membesar oleh rasa antusias. “Apa... tidak boleh bercakap biasa? Terlalu cepat, ya?” lanjutnya dengan sedikit ragu-ragu, kening bertaut kecil. Risa yang sudah terpesona dengan calon suami luar biasanya, lagi-lagi menggelengkan kepala cepat. “Silakan jika Adnan tidak keberatan,” jawab Risa gugup, lalu melanjutkan, “apa sungguh... Anda ingin menikah dengan saya?” “Tentu saja.” Mata indah di balik kacamata itu tersenyum memikat. Risa terpana sekali lagi! “Ta-tapi ini adalah perjodohan karena masalah bisnis. Apakah tidak apa-apa? Seandainya Anda punya wanita yang disukai, saya tidak masalah jika ini batal. Sungguh!” Suara Risa memekik sedikit, terlihat sangat salah tingkah dan bersalah. Pria berkacamata tertawa pelan, tenang dan bijaksana. “Tidak. Saya tidak punya wanita sama sekali. Yang disukai pun juga tidak ada. High quality jomblo sama seperti Risa. Pak Abdullah telah menceritakan kepada saya soal kisah cinta Risa selama ini. Kedengarannya sangat menarik.” ‘Aduh... ayah itu... bisa-bisanya menceritakan hal memalukan begitu kepada calon suami yang tidak aku ketahui sama sekali!’ batin Risa dengan perasaan tidak nyaman, mata menghindari pandangan memikat pria di depannya. Malu-malu, tapi senang Adnan tahu kekurangannya. “Kalau begitu, kita pesan makanan dulu. Nanti bicaranya kita lanjutkan saja. Bagaimana?” saran Adnan ramah. Risa hanya bisa mengangguk patuh, karena visual calon suaminya benar-benar di atas standarnya! Selama makan malam yang diselipi dengan sesi bincang dan berkenalan satu sama lain, hati Risa sungguh berbunga-bunga sampai lupa semuanya. Akhirnya! Setelah selama ini kesialan cintanya hampir 12 tahun melekat dalam hidupnya, sepertinya Tuhan sudah berbelas kasih dengan mendatangkan Jackpot setinggi langit untuknya! “Jika tidak keberatan, aku ingin mengantarmu pulang. Bagaimana?” tawar Adnan ketika mereka akhirnya selesai makan. Itu artinya juga pembicaraan penuh tawa dan canda keduanya harus berhenti begitu saja. Perkenalan hari ini untuk kali pertama tidak begitu buruk! Risa sangat bahagia! Setidaknya, dia tahu kalau pria di depannya ternyata memang luar biasa sama seperti apa yang ayahnya katakan, bukan hanya sekedar umpan untuknya semata. Tapi, kenapa tidak bilang sejak awal kalau dia setampan itu? Apakah ini kejutan untuknya? Pulang nanti dia harus berbaik-baik kepada ayahnya! Hehehe! Dengan kedua pipi merona malu-malu, Risa menjawab, “jika Adnan tidak repot, boleh saja. Terima kasih sebelumnya.” “Senang mendengarnya,” ucap Adnan sembari berdiri dari kursinya, berjalan ke arah Risa dan mengecup punggung tangannya dengan gaya yang begitu gentleman, mata terpejam anggun. Jantung Risa meledak oleh perlakuan romantis sang pria, kedua bola mata berputar dengan perasaan malu-malu menyerangnya. ‘Kyaaa...! Tuhan...! Terima kasih banyak atas anugerah ini...!’ teriak Risa dalam hati, guling-guling dalam khayalannya dengan kebahagian hebat yang telah menghampiri hidupnya. Ketika mereka berdua telah berjalan menuju pintu keluar, di sudut kafe, sejak tadi, seorang pria dengan mantel cokelat mengawasi pasangan tersebut secara diam-diam. “Benar. Pria itu memang yang ditemui olehnya, Tuan muda. Adnan Budiraharja. Baik. Akan saya selidiki lebih lanjut seperti apa dia selama ini,” ucap pria bermantel melalui headsfree, menurunkan sebuah map cokelat di depan wajahnya yang ternyata hanyalah sebuah kamuflase agar terlihat sok sibuk di mata orang lain. *** Di seberang telepon, di ruang kerja pribadinya, Shouhei yang mendengar semua laporan kegiatan pertemuan singkat Risa dengan calon suaminya dari awal sampai akhir, tampak tidak baik-baik saja. Rahang indahnya mengeras sempurna, mata dingin gelapnya melintas cahaya tipis menakutkan seolah-olah akan menelan seseorang hidup-hidup. Aura kegelapan dari pria berwajah dingin itu menguar hebat dari seluruh sisi tubuhnya. Suhu udara di ruangan tiba-tiba menurun drastis. Bahkan, sekretaris pria berkacamata di depannya seolah tercekik merasakan perubahan suasana hatinya yang sangat ekstrem. “Tuan muda?” tegur sang sekretaris takut-takut. Dia sedang menunggu laporan untuk selesai ditandatangani, tapi begitu bosnya mendapat telepon, sepertinya dia langsung kehilangan fokus dan tampak ingin membalik meja dengan wajah menakutkan. “Ada apa?!” bentaknya menggeram rendah dengan suara berbahaya. Mata berkilat penuh ancaman. “Maaf, Tuan muda. Tapi, laporannya harus ditandatangani malam ini juga,” balasnya cepat, berusaha bersikap profesional. Mau tidak mau, dia harus mulai terbiasa dengan sikap baru bosnya sekarang. Shouhei yang sadar hampir kehilangan kendali, menghela napas berat sambil memejamkan mata kuat-kuat Bersandar lelah memijat sebelah keningnya frustrasi, dan berkata setengah bergumam, “maaf membentakmu. Biarkan aku istirahat setengah jam dulu. Aku ingin menenangkan pikiranku.” “Tidak apa-apa, Tuan muda. Kalau begitu, selamat beristirahat!” Sepeninggal sang sekretaris, Shouhei yang suasana hatinya memburuk penuh kecemburuan dan amarah, segera membuka laci dan meraih sebuah foto lama. Itu adalah foto Risa Abdullah semasa SMA. Dari sudut pengambilannya, jelas diambil secara diam-diam di saat jam makan siang di sebuah kantin sekolah. Begitu melihatnya baik-baik, seulas senyum lembut terbit di bibir tipis pria yang tengah duduk bersandar elegan ini. Dia memejamkan mata erat sambil memeluk foto Risa di dadanya, penuh cinta dan kerinduan. Wajah dingin menakutkan Shouhei perlahan meluruh, sangat tampan dan memikat. Tidak seperti sebelumnya yang sudah mirip badai salju hadir di ruangan tersebut. “Risa Abdullah... kamu adalah milikku. Selain aku, tidak ada pria yang boleh memilikimu di dunia ini. Semua pria yang berani merebutmu dariku, pasti akan aku hancurkan satu per satu....” gumamnya posesi ekstrem, setengah menggeram lembut dengan mata masih terpejam erat. Dalam hati, Shouhei tidak akan gegabah seperti dulu lagi. Sebuah rencana licik dan jahat telah dipikirkannya sedemikian rupa agar bisa mengurung Risa di sisinya untuk selamanya. Kali ini, tidak akan ada yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan wanita yang sangat dicintainya itu. Tidak seorang pun! Termasuk keluarganya sendiri! “Aku bisa membuatmu jatuh cinta tergila-gila kepadaku hanya dalam waktu 3 hari. Mau bertaruh?” “Apa?! Dasar gila! Aku tidak akan pernah mencintaimu! Kamu dengar?! Tidak akan pernah, Shouhei Shiraishi! Teruslah bermimpi!” Suara bentakan marah Risa bergaung kuat dalam ingatan Shouhei. Memotong kenangan tidak menyenangkan itu, sudut bibir Shouhei tertarik dingin dan licik menatap foto Risa di tangannya. “Benarkah kamu tidak akan pernah mencintaiku, Risa Abdullah? Sayang sekali, kamu tidak ada pilihan lain,” gumamnya arogan dan percaya diri, nada ancamannya terdengar sangat posesif, sangat berbahaya. Mata dingin gelapnya tiba-tiba memancarkan kilatan obsesi mengerikan. Obsesi yang diam-diam telah dipendam olehnya selama bertahun-tahun terhadap Risa Abdullah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN