Bab 5 Kecemburuan Shouhei yang Berbahaya

2062 Kata
Didesak dengan pesona pria berkacamata tipis itu, keduanya akhirnya membeli gelang tersebut dan kembali makan malam bersama. Pria berkemeja biru gelap tersebut menatap Risa yang makan dengan perlahan di depannya. “Kamu tidak suka?” Sang wanita menegakkan kepala. “Suka, kok. Sangat enak. Dagingnya benar-benar lembut.” Pria di depannya memiliki sikap yang sangat romantis, selain pintar dan begitu tampan. Bagaimana bisa dia makan seperti orang kesurupan? Malulah! Padahal dagingnya benar-benar bikin saliva Risa nyaris menetes-netes. Tapi, dia malah harus menjaga sikap di saat seperti ini. Bikin sakit hati saja! Dalam hati, Risa menangis kesal dan frustrasi! “Lantas, kenapa makannya hanya sedikit?” “Eng... itu... sayang sekali kalau kita harus berpisah dengan cepat,” cicitnya malu-malu, mata menghindari tatapan sang pria. Yah, sejujurnya bukan itu alasan utamanya. Selain menjaga image, dia kepikiran dengan perkataan Vera tadi siang. Adnan Budiraharja memang pria yang benar-benar sempurna. Sudah dua kali mereka bertemu, dan perlakuannya benar-benar bikin hati meleleh. Siapa sangka kalau Adnan akan membelikannya sebuah gelang seharga 10 juta yang kini terpasang indah di pergelangan tangan kirinya? Sekalipun harganya tidak begitu hebat di mata orang kaya, tetap saja mengeluarkan uang secara suka rela untuk wanita asing yang baru dikenalnya dalam waktu singkat merupakan hal yang luar biasa bagi seorang pria, bukan? Risa Abdullah merasa sangat istimewa! Pria itu bertopang dagu dalam pose yang sangat seksi, menatapnya dengan wajah menggoda. Senyumnya membuat Risa hampir meroket ke angkasa! “Setelah menikah, kita akan terus bersama. Kenapa harus pusing dengan perpisahan pendek ini?” Risa memerah di sekujur tubuh. ‘Vera! Bisa-bisanya kamu menuduh calon suami sempurnaku ini memiliki sisi gelap! Tidak termaafkan!’ batin Risa dengan hati memanas, karena sudah tenggelam dalam rayuan maut Adnan. Pria itu tersenyum indah dengan mata melengkung bulan sabitnya. Tampan dan lembut di saat yang sama, seolah-olah dia sedang bersinar menyinari seluruh dunia. “Lihat, hari ini kita bahkan memakai baju berwarna sama. Bukankah ini namanya takdir?” Risa menggigit bibir, jantungnya sudah tidak karuan seperti orang yang berada di ujung sakaratul maut. Pria ini benar-benar membuat Risa merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia! Atau seperti itulah menurutnya saat ini. Selepas acara makan malam, Adnan kembali mengantar Risa ke rumahnya, dan kali ini disambut oleh sang ibu yang kaget melihat ketampanan super gila yang didengarnya dari sang anak kemarin malam. “Oh! Jadi, namanya Adnan, ya?” “Iya, Tante. Salam kenal.” Pria berkacamata itu dengan manis menyalami ibu Risa yang terkagum-kagum dengan visual calon menantu yang ditentangnya mati-matian. Langsung malu mengingat perkataan buruknya soal botak, gendut, dan jelek. ‘Risa! Aku setuju sekali dengan perjodohan ini! Ikat kakinya kuat-kuat, Nak! Benar-benar pria yang sempurna!’ batin ibu Risa dengan penuh semangat, masih terbengong melihat calon menantunya yang begitu luar biasa. Risa tersenyum kaku dan malu-malu melihat reaksi ibunya yang sedikit bikin salah tingkah. Dia pun menyikut ibunya, dan percakapan kecil pun terjadi di antara ketiganya sebelum pria itu akhirnya harus pamit dengan alasan besok ada urusan penting di luar kota. “Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok,” ujar Adnan dengan senyum memikat ketika diantar ke depan mobil. “Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, ya!” Adnan melirik ke arah teras mansion sejenak, lalu memajukan tubuhnya dan berbisik di telinga sang wanita, sangat mesra dan romantis ketika sang calon ibu mertuanya sibuk mengusir kucing liar yang tiba-tiba lewat di depannya, “aku mencintaimu, Risa.” Risa memerah sekujur tubuh untuk kesekian kalinya hari ini. Tidakkah ini terlalu cepat mengatakan kalimat menakjubkan itu? “A-a-aku juga, Adnan,” balas Risa gugup, menundukkan kepala cepat, benar-benar mabuk kepayang. Adnan mengusap puncak kepalanya sejenak, kemudian membungkuk hormat ke arah ibu Risa yang kini mulai berdeham cepat, memberi kode untuk tidak macam-macam. “Ingat! Jangan ngebut, ya! Kabari aku kalau sudah sampai!” rajuk Risa dengan wajah cemberut, berlari menuju teras mansion dengan kedua pipi merona manis. “Assalamualaikum!” teriak Adnan sopan, melambaikan tangan dengan anggun. “Waalaikumussalam,” balas kedua wanita tersebut, nyaris bersamaan. Ibu dan anak itu pun melambaikan tangan menatap kepergian mobil Adnan, tersenyum dengan wajah penuh kegembiraan. “Katanya tidak setuju?” sindir Risa cepat, melirik ibunya dengan tatapan meremehkan. “Aduh! Kalau setampan dan sebaik itu, ibu juga setujulah! Ibu mana yang gila menolak pria seperti itu untuk dijadikan menantu?” Ibu Risa terbahak senang sembari berjalan masuk ke dalam mansion, sangat bangga dan puas. Risa mendengus kecil lalu masuk mengikuti ibunya. *** Di jalan, di mobil Adnan Budiraharja, terjadi percakapan yang cukup licik dan jahat. “Hey, Ad! Tumben kamu tidak datang malam ini?” ledek seorang pria dari pembesar suara di ponsel yang tergeletak di kursi sebelah pengemudi. Dari ponsel itu, terdengar musik yang sangat berisik, seperti sebuah musik di klub malam. “Aku sedikit sibuk hari ini,” balas Adnan malas sembari melonggarkan dasi hitamnya, menyetir dengan santai. Pembawaan pria ini yang semula ramah, tiba-tiba menjadi dingin dan ogah-ogahan. Lawan bicaranya tiba-tiba tertawa keras, berkata mengejek, “jangan bilang kamu benar-benar akan menikah dengan wanita pilihan ayahmu itu?!” “Berisik,” gerung Adnan rendah, membelokkan mobilnya dengan kening bertaut jengkel. “Ayo! Cepatlah ke mari! Di sini ada banyak wanita baru! Semuanya cantik-cantik! Kamu pasti akan langsung terhibur setelah bersandiwara sok baik begitu! Sungguh menggelikan!” Pria di telepon tertawa kembali. “Tunggu aku 15 menit lagi.” Dengan balasan seperti itu, ponsel pun dimatikan oleh pria berkacamata ini. Senyum di bibirnya terlihat sangat licik dan matanya berubah dingin. Kacamata yang menghiasi wajahnya dibuka, tampak seperti pria bermata normal, gelagatnya tidak seperti orang yang bermata minus. Ya! Kacamata itu sebenarnya hanyalah hiasan agar dia terkesan intelek semata. Benar-benar hanya untuk menipu orang lain selama ini! “Pernikahan? Aku mencintaimu? Yang benar saja. Konyol sekali,” dengus Adnan dengan nada menghina, ekspresi wajahnya ditekuk mengerikan. Senyum jahatnya sangat lebar dan gelap. Segala ketampanan, keramahan, dan sifat manisnya hilang dalam sekejap mata. *** Tokyo, 1 jam setelah acara makan malam Risa dan Adnan. Sebuah percakapan lain terjadi di sebuah ruangan super luas. “Jadi... bagaimana keputusan Anda, Tuan muda?” tanya seorang pria muda dalam setelan jas hitam, wajah terlihat serius. Shouhei baru saja keluar dari kolam renang. Tubuh indah dengan otot-otot perut memukau berkilau oleh tetesan air yang berseluncur di sana. Suara gemericik air di ruangan besar itu menggema memenuhi udara. Hanya pria ini satu-satunya yang menikmati fasilitas kolam renang itu di malam hari. Handuk ditawarkan kepadanya, diraih dengan gaya dingin yang elegan. “Apakah mereka telah menetapkan tanggal pernikahan?” Pria dengan wajah dingin dan tenang ini berjalan ke kursi pantai, meraih sebuah jubah mandi, memakainya dan mulai membaca laporan yang baru saja dibawakan oleh sekretaris muda tersebut. Dia adalah sekretaris lain dengan tugas yang lebih rumit dan pribadi. Berbeda dengan sekretaris berkacamata sebelumnya. Di tangan Shouhei bukanlah laporan perusahaan, atau pun terkait bisnis lainnya, melainkan laporan dari detektif yang baru saja selesai menyelidiki calon suami dari wanita yang sangat dicintainya. “Menurut informasi dari orang dalam yang saya terima, kedua ayah mereka akan menentukan tanggal pernikahan bulan depan. Sepertinya pernikahan mereka tidak secepat yang kita pikirkan.” Shouhei menatap isi laporan. Di dalamnya terdapat beberapa foto yang diambil secara diam-diam. Semua menampilkan keburukan dari tingkah Adnan Budiraharja yang ditutupnya rapat-rapat dari calon istrinya. Shouhei mendengus penuh hina. “Berani sekali dia ingin mempermainkan wanitaku,” gumamnya dengan nada penuh sifat posesif, mata dingin dan tajamnya bercahaya mematikan. “Seperti yang Anda lihat, Tuan muda. Calon suami Risa Abdullah tampaknya adalah pria penganut dunia malam. Dia selalu bergonta-ganti wanita dan mabuk-mabukkan. Seorang player sejati.” Shouhei menatap foto-foto itu satu per satu, menatapnya dengan tatapan remeh. “Kelakuannya benar-benar membuatku jijik. Periksa semua anak perusahaan keluarganya. Berikan laporannya dalam waktu 24 jam.” Shouhei berdiri dari duduknya, mengusap rambut yang basah dengan handuk, dan melemparkan map ke arah sang sekretaris, “hal busuk begini, sebaiknya buang saja ke tempat sampah.” “Eng... Tuan muda?” Sang sekretaris muda menatap bingung Shouhei yang sudah berjalan menjauh darinya, map tadi dipeluk kuat-kuat. “Anda tidak mau menyimpannya?” lanjut sang sekretaris, berjalan cepat menyusulnya. “Untuk apa?” balas Shouhei malas. “Anda tidak ingin memperlihatkannya kepada nona Risa?” Shouhei berhenti, berbalik dengan bertopang dagu sambil menatap map dalam pelukan sang sekretaris. Posenya bagaikan seorang supermodel internasional. “Kamu yakin Risa sudah mulai menyukainya?” Wajah Shouhei tampak menimbang sesuatu. Sang sekretaris mengangguk cepat, “seperti yang Tuan muda lihat di ponsel Anda beberapa saat lalu. Nona Risa tampak menikmati makan malamnya, dan diantar pulang untuk kedua kalinya. Detektif itu juga bilang bahwa Adnan Budiraharja membelikan nona Risa sebuah gelang seharga 10 juta.” Nadi di pelipis Shouhei seolah ingin meledak begitu saja. Dia tidak suka Adnan Budiraharja mempermainkan Risa dengan segala tipu dayanya. Shouhei berenang malam-malam begini, karena hatinya panas melihat sebuah foto di mana Risa tengah dibisikkan sesuatu oleh pria itu sampai terlihat salah tingkah dan malu-malu. Jika tidak berenang, takutnya akan langsung datang ke kediaman keluarga Adnan dan mencekiknya hingga mati! “Bagaimana, Tuan muda? Apa yang akan kita lakukan?” tanya sang sekretaris pucat. Shouhei terdiam berpikir, mata dingin menawannya tampak membayangkan sebuah skenario menarik. “Segera urus kepindahanku ke Indonesia.” “Pi-pi-pindah?” gagap sang sekretaris, merasakan hal buruk. “Kenapa? Aku tidak akan memecatmu. Kamu bisa bahasa Indonesia dengan fasih seperti sekarang, kan? Jadi, kamu akan tetap ikut denganku.” Sebelah pundak pria muda itu ditepuk berat olehnya, tersenyum dingin. “Ma-ma-maksudnya, kita akan pindah ke perusahaan nona Risa?” Shouhei yang telah berjalan kembali, kemudian berbalik lagi, “ya? Apa yang salah? Itu adalah perusahaanku juga.” Sudut bibir Shouhei tertarik dingin, wajah sangat puas. Sang sekretaris menelan ludah berat. Pria ini, pria di depannya ini adalah pria yang telah dilayaninya selama bertahun-tahun. Demi mengikat wanita yang dicintainya, dia melakukan banyak cara agar bisa menggiring sang wanita untuk bekerja di perusahaannya secara alami, dan tentu saja sama sekali tidak diketahui oleh wanita polos itu. Semuanya dilakukan semata-mata agar bisa mengawasinya dari dekat, meski terpisah oleh lautan berkilo-kilo meter jauhnya. “Pria yang dimabuk cinta seperti tuan muda benar-benar mengerikan,” keluhnya dengan helaan napas berat. Bertambah lagi pekerjaan beratnya bulan ini! Kening sang sekretaris bertaut lemah, tapi senyum kecil tersungging di bibirnya. Sementara itu, Risa yang menjadi objek pembicaraan kedua pria yang jauh dari bayangan dan imajinasinya, sudah tertidur dengan air liur menghiasi salah satu sudut bibirnya. Pose tidurnya benar-benar berantakan: tubuh menghadap langit-langit, tapi dalam posisi miring. Kedua tangan dan kakinya serampangan. Selimut setengah terbuka di atas piyama merah muda yang dikenakannya, dan gelang pemberian Adnan terpasang indah di pergelangan tangan kanannya. “Aku juga mencintaimu, Adnan... muach...” igau Risa dengan wajah tersenyum-senyum bodoh, menggaruk leher yang tiba-tiba digigit nyamuk, lalu memiringkan tubuhnya memeluk guling. Di alam mimpi, Risa sudah menjadi istri dari seorang Adnan Budiraharja dengan segala cinta untuknya. Begitu indah, begitu romantis. Setiap hari hanya ada kebahagiaan dan hal-hal romantis. Tapi, mimpi hanyalah mimpi. Tidak semua bisa menjadi kenyataan, dan ini segera akan dipelajari keras oleh Risa bahwa plot twist dalam hidup itu benar-benar ada. Di saat yang sama, di sebuah klub malam elit, di ruangan VVIP yang penuh dengan kesenangan pria dan wanita, Adnan sibuk tertawa dan tersenyum-senyum nakal kepada dua wanita yang menemaninya. Sedangkan pria di sebelahnya, meledek Adnan dengan nada penuh gurauan. “Kasihan sekali wanita yang akan kamu nikahi itu,” ucapnya sembari tertawa jahat. “Benar-benar tidak punya hati kamu ini, Adnan!” Adnan tersenyum licik, mata menyipit dingin. “Dia saja yang bodoh. Biarkan tenggelam dalam imajinasinya. Katanya, dia selalu sial dalam hal percintaan. Dia mungkin mengira telah mendapatkan malaikat, sayangnya malah mendapatkan iblis sepertiku. Bukan begitu, Cantik?” godanya kepada wanita cantik di sebelah kiri, dan disambut dengan wajah malu-malu sang wanita, memukul pelan dadanya, sangat manja. “Genit, ah, Adnan. Kami jadi cemburu, kan?” “Benar. Kalau sudah menikah, kamu pasti tidak akan datang main ke sini lagi, kan?” rajuk wanita lainnya. “Siapa bilang? Aku akan tetap datang seperti biasanya. Tidak ada yang akan berubah,” balas Adnan dengan nada mendengus remeh. “Dasar suami kurang ajar!” ledek pria sebelumnya, lalu terbahak sangat keras diikuti yang lainnya di ruangan itu. Senyum Adnan sekarang benar-benar sangat berbeda dengan yang ditampilkannya di hadapan Risa selama ini, licik dan sangat jahat. Siapa yang akan menduga bahwa pria tampan berkacamata yang terlihat tenang, elit, dan dewasa, ternyata aslinya adalah seorang playboy super yang tidak peduli dengan kesetiaan cinta dan kesucian pernikahan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN