Episode 26

2066 Kata
Wuri bahagia memeluk erat bola yang ia kira adalah bola kehidupan miliknya. Namun, ia merasa ada yang berbeda dari bola yang ia peluk. Ia melepas bola itu dari pelukannya lalu mengerutkan alisnya menatapi heran bola yang ada di tangannya. "Kenapa, kenapa kok bola kehidupan terlihat lebih besar sekarang?" tanyanya bertanya sendiri seraya terus menatapi bola berwarna putih polos itu terheran. Agra yang terus memperhatikannya merasa aneh dengan tingkahnya lalu mencoba mendekatinya hingg membuat dirinya kepo dan penasaran. Wuri terlihat terus memperhatikan bola kehidupan itu merasa bengong. Agra terlihat berlari kecil ke arahnya. "Woy!" panggil Agra. Wuri terkekeh dan betapa melorotnya ia saat melihat Agra menghampirinya. "Elu?, ngapain lu di sini juga," tanya Agra melongo mengerutkan alisnya membalas tatapannya seraya berkacak pinggang merasa heran. Wuri terlihat melotot gugup ke arahnya. Ia melangkah mundur teratur menghindari Agra seraya menyembunyikan bola futsal itu di belakang dengan kedua tangannya. Agra yang dari tadi merasa aneh pada tingkahnya semakin melangkah ke depan mendekatinya dan membuatnya semakin merasa gugup. "Heh, kamu ngapain ngumpetin bola futsal itu di belakang? Kamu mau main futsal juga ya?" tanya Agra menyeringai merasa lucu menyipitkan matanya ke Wuri. Wuri terus melotot menatapnya seakan merasa terancam. "HA!" teriaknya seraya menyodorkan bola futsal itu ke depan Agra. Wajahnya juga terlihat serius seperti ingin menyerang Agra. Agra semakin ternganga melongo langsung terdiam mematung melihat bola itu nyaris menabok wajahnya. Agra ternganga bengong menatap bola itu dan melirik ke arah Wuri melongo. Wuri yang masih terlihat merasa hebat sampai ter engal kecil langsung melongo juga saat melihat bola futsal itu tak bereaksi apa-apa saat ia sodorkan ke Agra. "Hah?" tanyanya polos langsung menarik bola itu. Ia membelalakkan matanya sungguh tak percaya dengan semua yang terjadi. Agra hanya terus ternganga terdiam seraya mengedipkan matanya terlihat masih bingung dengan tingkah aneh Wuri sejak tadi. Dia terlihat begitu tak mengerti dengan sosok seperti Wuri. "Haduhh kenapa tidak berfungsi sih? Ayolah bola! Bola kehidupan keluarkanlah kekuatanmu, ugh! Ugh," bisiknya terlihat gelisah sendiri menatapi bola mengerutkan alis seraya menepuk-nepuk bola itu konyol di mata Agra. Agra terlihat semakin melongo dengan tingkahnya. "Huhhh," dengus Agra lelah melihat dirinya. Wuri yang tersadar dengan hal itu langsung menatapnya kesal. "Kenapa makhluk menyebalkan ini selalu saja bertemu denganku. Dia selalu saja menggangguku," gerutu Wuri dalam hati kesal menatap Agra dan masih memegangi erat bola futsal. "Tingkah lo itu aneh banget ya, lu ngapainnn," ucap Agra menatapnya lesu sangat merasa heran. "Balikin gak," kata Agra mengulurkan tangannya mencoba mengambil kembali bola itu. Wuri langsung melotot mendengarnya. Ia kembali menatapi bola yang masih ia kira bola kehidupannya meski ia sudah tahu bahwa ukuran bola futsal lebih besar dari bola kehidupan. "Enggak!" tolak Wuri menjauhkan bolanya dari Agra. "Apaan sih, balikin!" kesal Agra malah mencoba merebut bola itu. Kini mereka saling berebut bola. "Enggak lepasin!" teriak Wuri menjerit. "Lu mau apain sih bolanya ini tu bukan mainan cewek!" gerutu Agra terus mencoba merebutnya. Mereka semakin bergelut mempertahankan bola itu. Wuri semakin geram padanya dan langsung mengigit tangannya kuat hingga Agra berteriak. "AW AAGH!!" jerit Agra sungguh tak menyangka. Dia langsung melepaskan bolanya mengibas-ngibaskan tangan kesakitan. Wuri langsung membawa kabur bola itu berlari cepat. "Woy! Jangan kabur! Sini lo!" teriak Agra terkekeh dan sekarang mengejar Wuri juga melupakan sakitnya. Kini mereka terlihat seperti bermain kejar-kejaran di taman yang tanahnya begitu bersih di penuhi rerumputan hijau yang datar. Dengan lincahnya Wuri berlari seraya sesekali menengok ke belakang melihat Agra. Betapa terbelalak matanya saat melihat Agra malah mengejarnya. Wuri mengerutkan alisnya sungguh tak mengerti dan karena ia terus melotot melihat ke belakang memperhatikan Agra. Akhirnya tanpa ia sadari ia sekarang tertabrak pohon di depannya lumayan keras sampai ia tersungkur tak berdaya memegangi dahinya. Agra langsung berhenti melotot kaget ke arahnya. "Aww," jerit Wuri kesakitan sudah terduduk hampir rebahan memegangi dahinya. "Weh!" teriak Agra kaget. Agra langsung berlari menghampirinya. Wuri kini berhasil di kejar Agra. Namun, karena Agra melihatnya sudah terjedot kesakitan sampai terduduk begitu. Agra mengurungkan niat untuk memarahi dan merebut bola darinya karena gemas dan merasa heran. "Lu gak papa?" tanya Agra ikut khawatir. Wuri terlihat masih kesakitan dan mulai melepaskan jidatnya. Betapa terangkatnya kedua alis Agra saat melihat jidat Wuri lumayan benjol. Agra menahan tawanya sampai kedua pipinya menggelembung. Wuri langsung terkekeh mengerutkan alisnya heran memiringkan kepalanya sedikit. "Ahhahahaa!!" Agra tak bisa menahan tawanya. Betapa jengkelnya Wuri saat dirinya malah menertawakannya. Wuri terlihat cemberut dan memukul tanah kesal menatap Agra. Bibirnya ia manyunkan tanda benar-benar kesal. Namun, ia malah terlihat semakin cantik sekarang. Agra terus tertawa meliriknya. Wuri seketika terdiam melihat Agra senyum lebar Agra yang sangat manis. Ia juga merasa tak sadar pada dirinya. Ia seakan terhipnotis dengan senyuman manis lelaki tampan itu. "Ahahaa, maaf-maaf. Oke bentar ya, tunggu di sini," kata Agra menyuruhnya untuk diam saja di sana. Dia langsung berdiri berlari mencari obat merah untuk Wuri. Wuri terlihat masih diam di sana seraya mendongak ke arah Agra sangat kesal. Namun, sepertinya ia memang benar-benar diam di sana dan terlihat hanya mengalihkan posisinya menyender ke batang pohon. Ternyata ia masih merasa pusing akibat terjedot batang pohon tadi. Ia lalu memejamkan matanya mencoba menenangkan sakitnya dulu. Tak lama Agra pun datang kembali dan benar membawa obat merah untuk Wuri. Wuri yang awalnya terpejam tenang langsung terbelalak saat melihat Agra kembali. Agra terlihat canggung membawa obat merah itu seakan merasa gugup pada Wuri. Wuri membangunkan dirinya dari sandaran di batang pohon menatapnya seakan risih. "Mau apa kamu," ucap Wuri mengerutkan alisnya menatap Agra seraya menggeser tubuhnya menjauh dari Agra. "Huhhh, gue cuman mau bantuin lo. Ini, sini," jawab Agra mendengus lelah seraya memperlihatkan obat merah itu pada dirinya. Wuri hanya melongo karena tak pernah melihat obat merah sebelumnya. Wuri terlihat melotot ternganga dan langsung menggeleng tanda tak mau. "Enggak," jawabnya terlihat merasa aneh pada obat itu. Agra semakin heran pada dirinya dan menilai Wuri memang orang yang aneh. "Ya elah. Gue mau obatin luka lo pakai ini. Ini tu obat merah obat luka. Lu gak tau obat luka," gerutu Agra merasa kesal pada dirinya. Wuri hanya mengerutkan alisnya terus menatap obat itu. "Benjol di jidat lo itu lumayan memar loh terlihat tergores berdarah. Jadi gue beliin ini biar lukanya gak infeksi dan segera di tangani. Ya udah ni pakai sendiri kalau lo risih sama gue," ucap Agra mengerutkan alisnya malas seraya mengulurkan obat merah itu ke arah Wuri. Wuri kini tersadar bahwa Agra memang tak ingin mencelakai ataupun mengganggu dirinya. Justru Agra menolongnya. Ia terlihat terdiam menatap obat merah di tangan Agra, ia lalu menatap Agra masih bengong. Agra membalas tatapannya dan mengangkat kedua alisnya tanda benar mau mengasih obat itu padanya. Akhirnya dengan ragu Wuri mengambil obat itu dari tangannya. Entah kenapa mereka sekarang malah menjadi semakin dekat karena pertemuan yang absurd tak di sengaja. Wuri memegangi obat merah itu terus menatapnya terheran. Agra hanya melihatnya maklum sudah malas. Wuri kembali meliriknya seakan malu juga masih merasa kesal. "Cepet pakai aja langsung," perintah Agra seraya berjongkok melipat kedua tangan di lututnya memperhatikan Wuri agar segera mengobati lukanya. Wuri terlihat merasa resah mengerutkan alisnya polos seraya memanyunkan bibirnya tipis. Ia terlihat masih tak paham bagaimana cara memakainya. Namun, ia begitu malu dan takut kalau Agra semakin merasa kesal padanya. Dengan polosnya ia terlihat kesulitan membuka botol kecil obat merah itu dan tidak tau di mana tutupnya. Agra hanya memijat dahinya menutupi wajahnya melihat tingkah aneh Wuri. Akhirnya dia rebut kembali obat merah itu dari tangannya sampai Wuri ternganga melotot terkejut. Betapa romantisnya saat Agra membukakan tutup botol kecil obat merah itu sembari meliriknya sedikit sebal. Wuri kini hanya terdiam melongo menatapinya. Agra lalu mendekatkan dirinya dan mengobati luka di jidat Wuri. "Awgh," jerit Wuri menahan sakitnya. Agra memang lelaki yang baik hati. Dia terlihat hati-hati mengobati luka Wuri. Wuri terlihat membuka matanya pelan dan terdiam saat menatap Agra begitu dekat pada dirinya. Wajar karena baru pertama kalinya ia bisa sedekat itu dengan orang. Agra yang sudah selesai membalur sempurna luka Wuri dengan obat merah itu. Kini juga membalas tatapan Wuri dan baru tersadar dia bahwa dia begitu tulus dan dekat dengan wanita cantik itu. Agra langsung membelalakkan matanya juga terdiam. Kini mereka terlihat saling bertatapan terdiam seakan hanyut oleh suasana. Agra mengedipkan matanya seakan tak percaya pada yang terjadi. Wuri juga masih terdiam hanya mengedipkan mata lembut seakan masih melongo. Kini Wuri sudah melupakan sakitnya. Agra yang menyadarkan dirinya agar tidak membuat Wuri risih lagi karena dia terlalu dekat langsung mengundurkan dirinya menjauh dari Wuri. "Ya, udah kok luka kamu saya obatin," kata Agra merasa kikuk sembari duduk meliriknya. Wuri hanya diam tak menjawab sepatah katapun. Ia masih merasa bingung dengan apa yang ia rasakan tadi. Agra membuang pandangannya merasa canggung. Wuri hanya terus menatapnya heran terdiam dan sekarang ia juga menundukkan pandangannya merasa kebingungan. Agra seketika terkekeh saat melihat bola futsal tadi ada di sampingnya. Agra menyeringai merasa lucu melihat bola itu. Dia lalu mengambilnya. Wuri langsung melotot saat melihat Agra sudah memegangi bola futsal itu. "Kenapa sih lo jadi mau bawa ini bola? Hahaha," tanya Agra merasa konyol pada Wuri. Wuri langsung mengubah raut wajahnya yang awalnya terdiam kini melotot padanya. "Sini balikin..." "Eits, gak boleh. Ini itu punya mereka. Jadi gak boleh di bawa pulang. Kamu suka futsal juga jadi mau bawa-bawa bola ini?" tanya Agra menjauhkan bola itu dari tangannya Wuri yang mencoba meraihnya sangat heran pada dirinya. Wuri sekarang hanya diam bingung mau berkata apa. Karena ia tak mungkin menceritakan tujuannya pada orang yang baru saja ia kenal seperti Agra. Agra terus menatapnya mengerutkan alisnya merasa heran. "Aku gak mungkin beritahu dia kalau itu adalah bola kehidupan yang aku cari selama ini," gumam Wuri dalam hati masih mengira itu bola kehidupan. "Enggak, cepat kasih ke saya!" jawab Wuri mencoba merebut bola itu dari tangan Agra. Agra meninggikan tangannya agar Wuri tak sampai meraih. Betapa lucunya mereka sekarang malah bergelut kembali memperebutkan bola. "Apaan sih lo itu aneh banget kok kek pengen banget dapetin nih bola! Ini tu cuman bola biasaa gak bola asli piala dunia," celetuk Agra heran padanya. Wuri semakin jengkel pada dirinya. "Oke, kalau lu mau lu beli sendiri jangan ambil punya orang oke?" kata Agra menasehatinya lalu berdiri meninggalkannya tanpa dosa membawa bola itu kembali ke lapangan futsal. Wuri membelalakkan mata serta mulutnya melihat Agra menjauh darinya. Ia terlihat panik mengeru alisnya ternganga seakan tak rela. "Hey tunggu jangan kau bawa pergi!" teriak Wuri ikut berdiri mencoba mengejar Agra. Namun, Agra ikut berlari menghindarinya. "Woy!" teriak Wuri ikut berlari mengejarnya. Kini mereka terlihat saling berlari kembali dan bergantian Agra yang sekarang membawa bolanya. Saat sudah sampai ke taman Agra langsung melempar bola itu ke dalam lapangan. Wuri langsung terhenti melotot terhenti melihat bola itu sekarang susah di ambil kembali karena di halangi pagar kawat rapat. Ia menghentakkan kakinya kesal melirik ke arah Agra tanda jengkel. Agra terlihat merasa menang meliriknya tersenyum miring merasa puas. Wuri membuang pandangannya sembari mendengus kesal menatap kembali bola yang sudah berada di dalam lapangan itu. Ia terlihat juga sudah malas mengeluarkan kekuatannya di sana karena ia takut kalau Agra berteriak panik saat melihat kekuatannya dan seluruh manusia menjadi heboh. "Ahahahaa," tawa Agra sangat puas sampai melompat kecil tanda senang berhasil mengembalikan bola melirik Wuri meledeknya. Betapa kesalnya Wuri. Ia memanyunkan bibirnya imut sangat kesal ke arah Agra seraya mengepal kedua tangannya sangat geram. "Wlee," ledek Agra malah menjulurkan lidahnya pada Wuri. Wuri semakin geram karenanya. "HUUH!" ketus Wuri jengkel menghentakkan kakinya membuang pandangannya dari Agra sampai-sampai kedua kepalan tangannya mengeluarkan cahaya biru. Namun, ia mencoba menarik nafasnya agar dirinya tidak hilang kendali. Ia melirik Agra lagi begitu geram sampai tersengal. Agra terlihat hanya tersenyum meliriknya terus meledek. "Bukannya manajer itu bisa membeli bola sekalian banyak?" ledek Agra sangat kesal padanya. Wuri hanya terus memanyunkan bibirnya tersengal lalu berbalik arah langsung pergi meninggalkan Agra dengan langkah seperti orang sedang ngambek. Agra kini terdiam melongo melihat tingkahnya itu. Betapa lucunya Wuri terlihat dari belakang ia melangkah karena ngambek dengan Agra. Agra merasa lucu melihat langkahnya yang seperti orang konyol sedang marah. "Huhh, aneh banget tingkah tu cewek. Ada-ada aja cewek kayak dia aneh banget kek gitu," ucap Agra merasa heran seraya terus menatapnya yang sudah terlihat jauh meninggalkan Agra. Agra menggelengkan kepalanya sangat merasa bingung pada Wuri karena baru kali ini dia menemukan wanita bertingkah aneh membawa kabur bola seperti itu dan menyodorkan bola padanya seperti anak kecil yang menghayal mengeluarkan kekuatan dari bola itu tanpa dia tahu diri Wuri yang sebenarnya. Dia tertawa merasa konyol sendiri mengingat Wuri. Dia lalu ikut pergi dan pulang dari taman karena hari juga sudah beranjak malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN