Episode 28

2068 Kata
Agra hanya terus mengintip bersembunyi di balik batang pohon besar yang lumayan jauh dari jarak Wuri berada. Namun, meski begitu Wuri masih terlihat jelas saja dari arah belakang. Anak itu akhirnya tak kuat lagi menahan dirinya. Kedua tangannya sudah terlepas tak sanggup memegangi semen bangunan itu. Agra ternganga tegang melihatnya. "Kreak," Wuri langsung membentangkan kedua sayapnya yang begitu lebar itu. Betapa ternganganya Agra melihat keajaiban itu. Dengan secepat kilat Wuri terbang lurus ke arah anak yang sudah terjatuh. "WUSH!" Secepat kilat ia menolong menangkap anak kecil itu hingga Agra tak melihat dirinya lagi di sana saat berkedip. Agra melotot heran langsung mengucek-ngucek matanya apakah hanyalah sebuah khayalan dia atau mimpi. "Hah?" tanyanya melotot sedikit takut. Dia menampar-nampar kedua pipinya juga bergantian mencoba menyadarkan dirinya apakah dia benar melihat kejadian tadi. Anak itu terlihat memejamkan matanya menangis ketakutan di pelukan Wuri. Wuri memeluk erat lalu menurunkan pelan ke tanah. Agra yang terlihat konyol terus menampar pipi serta mengucek matanya langsung terkekeh kembali saat melihat Wuri kembali turun membawa anak kecil. Agra langsung melotot melihat ke atas dan benar anak kecil yang ada di dirinya adalah anak yang nyaris terjatuh tadi. Betapa tak menyangkanya Agra melihat semua itu bisa terjadi begitu cepat dan sempat. Bahkan, para pemadam pun mungkin sudah tak sempat untuk menangkapnya jatuh kalau mereka datang. "Huu, huu," tangis anak imut tak berdosa dengan potongan poni 2 ikat lucu di kepalanya. Wuri terlihat sangat tenang melihat ia berhasil menangkap anak kecil perempuan imut itu. Agra yang melihatnya melotot ternganga lebar terdiam seperti patung. Lalu pingsan dengan konyolnya seakan tak percaya pada semuanya. "Nak, tenang. Kamu tidak apa-apa," ucap Wuri lembut tersenyum tipis menatapnya. Anak kecil itu langsung membuka matanya mendengar suara lembut Wuri. "Mamah!" jawabnya sangat senang dan mengira Wuri adalah Mamahnya. Wuri mengerutkan alisnya tanda merasa lucu. Ia tersenyum menyeringai membelai poni tebalnya. "Hah?" gumam anak itu melongo saat melihat Wuri yang begitu cantik yang ternyata bukan Mamahnya. Wuri lalu melepaskannya pelan dan ia membiarkan saja anak kecil itu lepas darinya. Anak kecil itu langsung berdiri menatap Wuri terheran. "Tante siapa?" tanyanya polos. Wuri sepertinya memang suka menolong anak-anak. Namun, ia tak lihai dalam meakrabkan dirinya meski ia suka menolong. Wuri terlihat canggung. "Em hmm, Tante cuman orang yang di takdirkan untuk menolong kamu," jawab Wuri mengangkat kedua alisnya tersenyum menatap anak berpipi tembem itu. Wuri menolongnya karena ia memang bukan anak yang nakal. Bisa dilihat dari wajahnya yang begitu lucu menggemaskan polos itu. Ia tersenyum saat mendengar Wuri berkata begitu. Wuri semakin menyukainya. Wuri terlihat gemas mencubit pipinya lembut. "Ya sudah, kamu pulang ya?" pinta Wuri. Namun, sepertinya anak kecil itu malah menyukai dirinya. Ia memeluk Wuri dengan manisnya. Wuri langsung terdiam mengangkat alisnya tipis merasakan ia memeluknya. "Terimakasih Tante," ucapnya sangat sopan seraya tersenyum. Betapa sukanya Wuri mendengarkan perkataannya yang sangat baik itu. Wuri tertawa kecil mendengarnya seraya membalas memeluknya. "Haha, iyaa sama-sama sayang," jawab Wuri seraya mengusap pipinya lembut. Ia lalu melepaskan pelukannya memandangi Wuri tersenyum suka. "Di mana rumah kamu, biar Tante antar saja, ya?" kata Wuri memegangi bahunya. Ia mengangguk dan menuntun Wuri mengarahkan jalan pulang. Sesampainya di halaman depan rumahnya. Wuri berhenti. Wuri tersenyum padanya sekali lagi mengelus pipinya penuh kasih sayang. Wuri sepertinya juga menyukai anak perempuan kecil yang pintar itu. Ia mendongak ke arah Wuri. "Aku juga mau punya Mamah kayak Tante," ucapnya tersenyum polos terus menatap Wuri seakan berharap. Wuri terlihat salah tingkah karenanya. Ia terlihat malu dan merasa tidak bisa menjadi seorang Mamah. Ia tersenyum kikuk. "Hmm, Mamah kamu jaauh lebih baik dari Tante. Karena dia adalah manusia yang hebat yang bisa merawatmu," jawab Wuri. Wuri tersenyum padanya yang terlihat terus menatapnya sangat suka. Wuri yang merasa salah tingkah dan agak malu karenanya langsung menyihir dirinya agar ia melupakan dirinya nyaris tewas terjatuh di ketinggian dan melihat sosok Wuri bersayap. Wuri tersenyum padanya dan langsung menyihirnya dengan cahaya pernak-pernik kuning yang indah sangat indah. Kini anak itu terlihat terdiam mematung. Wuri yang memandangnya sungguh sangat lega karena berhasil menyelamatkannya. Akhirnya ia juga pergi meninggalkan tempat itu agar tidak ketahuan oleh Mamah anak perempuan imut itu. Wuri mendongak ke atas dan langsung menghilang seketika dari sana. Anak kecil itu langsung tersadar kembali saat Wuri menghilang. Ia sekarang memang melupakan kejadian yang terjadi pada dirinya barusan. Ia akhirnya berlari memasuki rumahnya tanda merasa ada apa-apa dan hanya mengingat ia baru saja bermain bersama teman-temannya. Mamahnya yang sepertinya memang wajar memiliki insting yang kuat pada anaknya terlihat berlari juga keluar menghampirinya dan langsung memeluknya. Mamahnya ternyata juga cantik meski memiliki tubuh yang lebih berisi di banding Wuri. Tak salah jika ia juga mempunyai anak yang gemoy juga pintar seperti itu. "Ya ampun Aqilla! Kamu tidak apa-apa Nak? Huhh," ucapnya sangat khawatir meraba-raba pipinya lalu langsung memeluk buah hatinya begitu cemas dan sangat bahagia menitikkan air mata. "Aku gak papa Mah, Mamah kenapa nangis?" jawabnya polos. "Uh, hmm gak, enggak papa sayang. Mamah cuman kepikiran kamu tadi main gak pulang-pulang, ya udah kita masuk ya? Mau makan? Minum s**u?" jawab Mamahnya sangat bahagia mengusap air mata di pipinya tersenyum agar anaknya tak ikut sedih. Ia terlihat hanya tersenyum polos dan mau saja menuruti Mamahnya. Akhirnya mereka masuk bersama ke rumahnya. **** Agra yang dari tadi pingsan kini baru tersadar. Dia terlihat masih linglung. Namun, ketika nyawanya sudah kembali terkumpul dia langsung melotot dan bangun. "Huh! Huh huh," dengusnya terengal mengatur nafasnya. "Huh di mana dia?" tanya Agra melihat ke depan sudah tidak terlihat Wuri lagi. "Apa jangan-jangan?!..." Dia langsung berbalik arah melihat ke belakang takut Wuri mengetahuinya. Namun, terlihat di belakang juga tidak ada orang. Dia terlihat benar-benar takut. "Ke mana dia? Hu, gua balik aja sekarang!" serunya langsung berlari ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. **** Agra semakin kepikiran dengan sosok Wuri. Dia terlihat gelisah sendiri terus memikirkan Wuri. Dia mengingat semua kebaikan yang di lakukan Wuri pada anak-anak serta lansia dan begitu tulus menolongnya. Agra juga teringat saat mereka main kejar-kejaran di taman saat Wuri membawa bola itu. Agra bingung pada perasaannya sekarang. Dia juga mengingat semua sampai dia pertama kali bertemu Wuri yang saat Wuri tak sengaja menabraknya. Betapa nyaman dan tak bosannya di ingat wajah cantik kalem manis Wuri itu. Membuat Agra semakin bingung heran pada perasaannya sendiri. "Kenapa, kenapa gue keingetan dia mulu ya? Bukannya dia makhluk aneh yang gua gak tau sebenarnya dia itu apa?" tanya Agra heran sendiri. Dia mengingat saat sayap putih Wuri terbentang lebar sangat indah bagaikan sayap bidadari begitu besar. Agra langsung menepis pikirannya menggelengkan kepalanya cepat dan pergi tidur. **** Keesokan harinya. Terlihat Wuri dan Agra tak sengaja lagi terkumpul saat mereka di undang Erdian untuk makan siang bersama. Wuri yang terlihat hanya menatapi masakan rica-rica itu merasa sangat aneh pada makanan itu. Karena baru kali ini ia melihatnya. Agra yang awalnya takut mendekati dirinya akhirnya memberanikan diri saja untuk lebih mendekatinya karena penasaran. Agra yang melihatnya bengong langsung membantunya. Dia menaruh ayam rica-rica itu ke piring Wuri tanpa sepatah katapun. Wuri langsung melirik ke arahnya yang berada di sampingnya begitu dekat. Betapa romantisnya mereka. Agra lalu membalas meliriknya dengan gaya coolnya. Wuri hanya diam mengerutkan alisnya heran menatapinya. Agra terlihat sedikit gugup juga. Namun, dia mencoba tetap biasa saja. "Ya udah makan," ucap Agra tanpa dosa lalu pergi meninggalkannya duluan pergi duduk. Wuri terkekeh lalu mengikuti arah dia melangkah sampai duduk di kursi. Wuri terlihat masih dendam pada dirinya karena waktu itu menjauhkan bola futsal darinya. Namun, Wuri berpikir bahwa memang benar itu bukan bola kehidupan yang sebenarnya. Ia lalu pergi juga mencari tempat duduk. Namun, terlihat tempat duduk yang lain juga penuh. Wuri terlihat bingung sembari berdiri. Agra yang melihat dirinya berdiri melongo sendiri seperti itu akhirnya tak tega. "Woy!" panggil Agra. Wuri menengok ke arahnya. Agra hanya mengangkat alisnya dan memiringkan kepalanya ke arah kursi yang kosong di sampingnya mengajak Wuri untuk duduk di sampingnya saja. Betapa melototnya Wuri melihat hal itu. Ia langsung mengedipkan matanya seakan tak terima. Ia terlihat tak mau. Namun, ia juga melihat kalau benar semua tempat penuh. Akhirnya ia memutuskan saja untuk duduk di samping Agra dengan terpaksa. Ia menaruh piringnya terlihat sangat kesal sembari duduk. Agra meliriknya menahan tawanya lalu melanjutkan makannya saja berpura-pura cuek. Wuri meliriknya kesal lalu memulai makannya juga terlihat sangat terpaksa. Karena Wuri memakannya sembari merasa kesal pada Agra. Akhirnya sambal rica-rica itu terlihat berantakan di samping bibirnya. Kini ia terlihat cemong. Agra yang terkekeh dengan hal itu langsung menggelembungkan pipinya menahan tawa. "PFFT!" tahannya seperti batuk karena ingin tertawa melihat Wuri yang benar-benar cemong sekarang. Wuri yang mendengar itu langsung melotot meliriknya heran. "Ada apa?" tanyanya singkat. "Ahahahaa," Agra semakin tertawa melihat samping bibirnya yang ada sambal rica-rica itu. Wuri semakin tak mengerti padanya. Akhirnya Agra mengambilkan tisu dan mengelapkannya lembut pada samping bibirnya. Wuri langsung terdiam seakan kaget merasakan hal itu. Ia benar-benar tak menyangka begitu dekat dengan lelaki ini. Lelaki ini juga sekarang terlihat selalu tulus membantunya. Wuri hanya terdiam mematung merasakan sentuhan lembut Agra mengelap bibirnya pakai tisu. Wajah lelaki tampan itu kini juga sangat dekat dengannya. Sekarang Wuri juga merasa jantungnya lebih berdetak kencang entah kenapa. Ia memandangi Agra terdiam seribu bahasa. Betapa manisnya wajah lelaki itu ia pandang seraya tersenyum manis padanya. Kini wajahnya sudah bersih dari sambal. Agra tertawa lagi ketika selesai mengelapnya. Wuri terlihat salah tingkah membuang pandangannya sekarang. Agra juga terus tersenyum memandanginya seraya membuang tisu itu ke samping meja. Agra lalu kembali makan. Wuri meliriknya dan terdiam. Ia sekarang juga seakan mulai luluh pada lelaki itu tanpa ia sadari. Ia terus terdiam menatap Agra. Namun, tiba-tiba ia juga tersenyum. "Hm," Agra terkekeh mendengar suaranya. Wuri langsung menghentikan senyumnya saat Agra meliriknya. Ia langsung membuang pandangannya tertunduk seperti wanita salah tingkah sangat malu. Agra terlihat hanya heran padanya mengangkat alisnya. Wuri kembali meliriknya dengan wajah yang tegang karena gugup sekaligus malu. Ia masih melihat Agra memandangnya. Akhirnya ia langsung berpura-pura mengambil sendok garpu dan makan terlihat kikuk. "Kenapa? Saya ganteng ya?" tanya Agra mencandainya. Wuri langsung mengerutkan alisnya dan membuang pandangannya dengan kedua tangan yang ia taruh di pahanya karena malu. Agra semakin merasa lucu pada dirinya. "Kamu itu lucu," ucap Agra menyeringai. Wuri langsung terdiam dan pelan-pelan meliriknya kembali. Agra hanya meliriknya santai sembari terus makan lalu mengendikkan bahunya tersenyum tipis seraya mengunyah. Wuri hanya terdiam memandanginya. Ia terus melihat Agra makan. Sekarang, ia terlihat merasa ada yang berbeda saat melihat Agra. "Kenapa, kenapa perasaanku jadi seperti ini sekarang?" gumamnya bingung dalam hati. Ia terlihat ikut senyum-senyum sendiri dan menyuap makan itu juga. Ia teringat saat Agra mengelapkan sambal di samping bibirnya. Entah kenapa baginya itu juga adalah hal yang unik karena ia belum pernah merasakan hal itu sebelumnya. Ia merasa Agra pandai menemaninya. Ia melirik Agra diam-diam sembari tersenyum. * Kini mereka telah selesai makan siang. Mereka berdua juga bareng keluar menemui Erdian pamit kembali ke kantor. "Pak Erdian, terimakasih banyak atas semuanya kalau begitu kami pulang dulu. Makanannya enak, semoga Istri Bapak selalu sehat dengan kandungannya sampai lahiran nanti juga selamat," ucap Agra tersenyum dengan gaya memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya seperti biasa. Ternyata Erdian membuat acara syukuran atas kehamilan Istrinya. Wuri ikut tersenyum mendengarnya. "Baik Pak Agra terimakasih atas doanya. Wuri juga ya," jawab Erdian menyalami mereka. Mereka tersenyum lalu pulang. Mereka terlihat berjalan santai keluar dari ruangan besar tadi. "Lo sama siapa pulang?" tanya Agra membuka pembicaraan. Mereka lalu berhenti sejenak. Wuri menatapnya terdiam. "Em, sendiri," jawabnya singkat terlihat malu seperti biasa. "Oh, gue ingin berbaik hati sama lo. Gue mau nawarin. Lo mau bareng gue aja? Yaa, gak papa sekalian aja," kata Agra mencibir maklum menatapnya. Agra benar-benar lelaki yang baik hati. Wuri menatapnya terdiam. Wuri sungguh tak menyangka Agra sebenarnya adalah orang yang baik. Wuri terlihat merasa bingung sekarang. Namun, juga senang. Tanpa sadar ia terlihat tersenyum tipis melamun. "Woy?" panggil Agra membuyarkannya. Wuri langsung menggeleng memejamkan matanya mencoba untuk tidak melamun lagi. "Um, kamu. Beneran mau ajak saya?" tanyanya mulai mau berbicara pada Agra. Agra terlihat merasa lucu saat ia mau berbicara lumayan banyak sekarang. "Iya, tidak apa-apa kok. Santai aja sekalian juga," jawab Agra. Wuri akhirnya tersenyum padanya. Agra langsung terdiam melihat senyuman manisnya itu. "Terimakasih," ucapnya tersenyum menutup mulutnya dan tidak menampakkan gigi rapinya lagi. Agra sempat melongo terpana padanya langsung menggeleng agar tersadar. "Emm yok," ajak Agra mencoba menepis pikirannya tadi melangkah duluan merasa kikuk seraya memegangi tekuknya. Wuri yang masih diam meliriknya tersenyum merasa lucu juga pada Agra. Ia lalu mengikuti Agra dari belakang dan mereka pulang bersama. Mereka sekarang malah semakin dekat saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN