Agra terlihat masih syok membelalakkan matanya tak bergerak terus gemetar dengan apa yang dilihatnya barusan. Setelah asap dari api tadi memudar. Bayangan Zanna terlihat berdiri dan sekarang matanya seakan memantulkan cahaya kuning
Agra semakin takut dengan Zanna sosok apakah Zanna sebenarnya.
"Hehhh haa!!! Ka-ka-kamu makhluk apa haah!!" Agra menjerit ketakutan sampai-sampai dia berkata gagap saking takutnya. Namun, saat asap itu telah benar-benar hilang. Mata Zanna kembali normal layaknya manusia. Ia berjalan pelan mendekati Agra. Agra terdiam.
Zanna menatap tajam ke arahnya. Zanna lalu berbalik meninggalkannya lagi. Agra yang meski ketakutan setengah mati itu sepertinya masih penasaran dengan sosok siapa Zanna sebenarnya. Agra terus mencoba mengikutinya kembali meski semua tubuhnya kini gemetaran hebat. Zanna yang kelihatannya sadar dengan hal itu melirik Agra diam-diam. Ia terlihat benar-benar kesal sekarang.
"Manusia ini memang keras kepala," gumam Zanna dalam hati merasa sangat terganggu.
Zanna berhenti tiba-tiba. Membuat Agra yang terus berjalan mengikutinya kaget dan berhenti mendadak juga sampai dia hampir hilang keseimbangan. Agra pun ketahuan sekarang. Kini Agra seakan mati berdiri.
"Ehhee, sorry," ucap Agra nyengir polos seraya mengangkat kedua tangannya.
"Aku, aku benar-benar gak ada niat jahat kok. Aku cuman...."
Zanna langsung mengubah matanya menjadi wujud aslinya. Betapa melotot kagetnya Agra melihat semua itu. Kini dia teringat dengan Rendy dan Aldo katakan waktu dia ingin membawa Zanna kemarin. Ternyata benar Zanna bukanlah manusia dan ia sepertinya adalah makhluk yang mengerikan dan berbahaya. Agra kini semakin gemetar ketakutan kedua kakinya bergetar hebat.
"M-m-m-m-maaf a-a-a-aku gak mau..." Agra begitu ketakutan.
Zanna terus menatapnya dengan tatapan mengerikan. Mata ularnya sungguh tajam dan benyala terang seakan ingin memangsa Agra.
"Kamu mau tau kan? Siapa sebenarnya aku?" tanya Zanna yang seakan semakin mendekatinya. Agra kini terduduk lemas terhempas ke tanah. Dia menjerit dan langsung mundur begitu takut menatapi Zanna.
"Ampun-ampun saya benar-benar gak ada niat jahat! Saya cuman CEO perusahaan real estate! Saya cuman nolong kamu kok kemaren sumpah!" teriak Agra terus menjelaskan padanya.
Zanna terlihat masih tak percaya karena ia sekarang ingat cerita Ibunya dahulu bahwa manusia pernah membantai mereka sampai habis tak punya hati. Zanna sekarang mengira bahwa Agra mempunyai niat jahat seperti itu pada dirinya dan hanya mengira Agra menolongnya untuk ada tujuan saja. Terlihat Zanna semakin terlihat marah. Wajahnya terus melotot ke arah Agra seakan geram. Tanpa di sangka-sangka Zanna mengubah wujudnya menjadi wujud aslinya. Sungguh kaget setengah mati Agra melihat semua itu. Agra ternganga lebar.
"SI-SI-SILUMAN!!" teriak Agra. Agra sungguh ternganga dia diam tak bergerak sama sekali saking syoknya. Zanna lalu melilit tubuhnya kuat hingga Agra kesakitan. Kini setengah tubuhnya ia rubah lagi seperti manusia hanya kakinya saja yang melilit Agra berwujud ular.
"Ampun-ampun woy!! Haaa beneran saya gak ada niat jahat sama kamu! Toloonglah percaya saya gak bakal celakain kamu kamu malah celakain saya!" teriak Agra ketakutan dan menangis. Zanna tak menghiraukannya dan semakin melilit erat tubuh Agra hingga Agra sesak nafas sekarang.
"Kamu bohong kan! Kamu nolong aku karena kamu memang ingin tahu asal-usul ku dan akan membantai seluruh hidup kami seperti dulu!" teriak Zanna geram langsung menghempaskan Agra keras ke tanah. Kini Agra terluka. Dia sekarang sudah sekarat.
Agra mencoba memegangi kepalanya yang terlihat mengeluarkan darah sedikit di dahi akibat terhempas. Agra lalu melirik ke arahnya dengan tatapan sempoyongan yang sudah tak fokus karena pusing.
Zanna lalu merayap mendekatinya. Ia mengangkat Agra begitu kuat.
"Kamu salah, aku benar-benar gak tau soal itu uhuk!" jawab Agra dengan nada sekarat lalu batuk mengeluarkan darah sedikit. Zanna kini terdiam seakan terpikir.
"Huhh, aku benar-benar gak tau soal itu," ucap Agra mencoba meyakinkannya agar percaya tetapi dengan nada yang pasrah sekarang.
Zanna yang terus memandangi bola mata Agra yang sudah sayu itu akhirnya terdiam dan merasa Agra memang benar-benar menolongnya tulus dan tidak berniat jahat sama sekali. Akhirnya niat ingin menghabisi Agra ia pendam dan tak jadi ia lakukan. Ia melepaskan Agra dan membiarkan Agra terhempas ke tanah.
Kini Agra terlihat pingsan karena terhempas dan dililit Zanna beberapa kali. Kini Zanna seakan merasa bersalah dengan dirinya. Zanna kembali mengubah ekornya menjadi kaki seperti manusia. Kini ia berlari mendekati Agra yang terlihat pingsan.
"Kamu, kamu gak papa?" tanya Zanna terlihat khawatir sekarang. Ia benar-benar merasa bersalah sekarang. Ia lalu menepuk-nepuk pipi Agra tetapi Agra memang pingsan sekarang. Ia lalu panik sendiri sekarang. Tiba-tiba matanya terbelalak saat mendengar ada suara orang ingin melewati tempat itu. Ia begitu panik dan menatapi Agra berpikir. Ia takut ketahuan manusia lainnya dan akan menimbulkan keributan.
"Apa? Siapa itu? Apa itu manusia juga? Aku harus sembunyi dan membawa manusia ini agar tak ketahuan dengan manusia lainnya karena aku sudah mencelakainya!" ucap Zanna ketakutan.
"Hahaa iya bener dah asik banget itu..."
Laki-laki yang awalnya begitu asyik berbincang tertawa dengan teman di sampingnya langsung terdiam saat melewati tempat itu.
"Kenapa bro?" tanya temannya.
Laki-laki itu melihat sebercak darah bekas Agra tadi di lantai beton tempat itu. Dia sedikit bergidik.
"Gak papa, yok lanjut," jawabnya mencoba menutupi rasa takutnya. Mereka lalu kembali melangkah pergi.
Zanna bersembunyi di balik dinding bangunan tak jauh dari tempat itu. Dinding itu menutupi keberadaan mereka dari orang-orang tadi. Zanna terlihat lega sekarang karena ia sempat membawa Agra bersembunyi di sana. Ia terlihat sangat kasihan sekarang pada laki-laki itu. Ia terus memandangi wajah Agra yang masih tak sadarkan diri itu.
"Kelihatannya dia memang manusia yang baik... Dan tidak mempunyai niat jahat sama aku. Dia juga sudah menolongku waktu itu," ucap Zanna berpikir terus memandangi wajah Agra.
"Aku harus bawa dia ke tempat yang tenang jauh dari sini. Biar aku bisa obatin lukanya dan dia kembali sadar," katanya seraya menengok sekeliling.
Ia lalu mulai berdiam dan memejamkan matanya. Ia lalu mengubah wujudnya kembali menjadi ular besar. Ia lalu melilit Agra lagi dan memperkecil wujudnya serta Agra. Ternyata kekuatannya bisa mengecilkan semua apapun yang ia bawa juga dirinya. Ia lalu merayap entah ke mana.
.
Ia lumayan jauh membawa Agra ke tempat yang sunyi jauh dari keramaian. Tempat itu seperti lapangan hijau yang begitu tenang. Ia menaruh Agra di sebuah gubuk yang ada di sana. Ia lalu mengambilkan sebuah ramuan untuknya entah apa. Sebelum ia minumkan ramuan itu ke Agra. Ia terlihat memejamkan matanya memegangi ramuan itu. Terlihat ramuan itu berbinar-binar entah kenapa. Setelah sinar binar-binar itu hilang. Ia membuka matanya melihat ramuan itu. Ia lalu pelan-pelan mencoba meminumkan obat dari wadah tradisional itu pada Agra yang masih tak sadarkan diri.
Ia memangku kepala Agra lembut dan pelan-pelan meminumkan ramuan itu ke mulut Agra. Sepertinya Agra setengah tersadar dan malah mau meneguk ramuan itu entah kenapa. Zanna terdiam sekarang dan merasa sedikit lega. Ia lalu membiarkan saja Agra tertidur dan menaruh kepala Agra pelan-pelan ke lantai gubuk itu.
Ia menatapi Agra murung. Karena terlihat merasa bersalah ia pergi meninggalkan Agra entah ke mana. Sepertinya ia tak meninggalkan Agra lama.
.
Agra yang sudah di beri ramuan tadi oleh Zanna sekarang terlihat sudah tersadar. Jemarinya mulai bergerak pelan. Matanya juga berkedip pelan. Dia lalu menggeliat dan terbangun dari pingsannya. Sekarang luka serta darah yang keluar dari mulutnya tsdi terlihat benar-benar hilang. Dirinya seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya. Mata Agra kini terbuka. Saat tersadar dia langsung melotot dan duduk terbangun melihat tempat aneh itu.
"Gue di mana nih?" tanyanya heran mendongak bingung melihat-lihat sekeliling.
Agra terlihat mencoba mengingat sebelum dia ke sini.
"Ahh! Lupa lagi kenapa ya gue bisa sampai ke sini? Perasaan tadi..."
Dia memegangi kepalanya terus mengingat dengan apa yang terjadi. Setelah mengingat semuanya. Dia langsung melotot membelalakkan matanya.
"Astaga siluman ular!" ucapnya teringat hal itu.
"Apa jangan-jangan wanita siluman ular itu yang sudah bawa gue ke sini?" tanyanya panik sendiri.
Dia lalu tersadar dan melihat ke semua bagian tubuhnya. Dia meraba tubuhnya dan sudah tak merasakan sakit lagi.
"Loh, bukannya tadi guee... pingsan dan terluka?" tanyanya sangat heran seraya meraba-raba pipi dan bagian wajahnya yang lain.
Namun, saat dia terlihat kebingungan dan panik sendiri. Dia terkekeh, Zanna terlihat berdiri dari kejauhan. Agra kini semakin takut melihatnya.
"M-m-mau apa lagi kamu," kata Agra gagap seraya mundur ketakutan.
Zanna terlihat iba sekarang dan mencoba melangkah mendekatinya.
"Huuh oke-oke fine! Gue gak bakal ganggu lo lagi, gue pergi sekarang!" teriak Agra takut mengodeinya agar tak mendekat dengan kedua tangannya.
Zanna terlihat menggeleng. Agra langsung mencoba kabur turun dari tempat itu gemetaran.
"Tunggu!" teriak Zanna.
Agra langsung terdiam tak jadi kabur. Dia melirik Zanna melotot gugup.
Zanna mencoba mendekatinya pelan-pelan dengan raut wajah yang terlihat bersalah. Agra kini mengerutkan alisnya dan mengundurkan posisinya menghindari Zanna masih takut.
Kini Zanna berada tepat di hadapannya. Agra menatap wajah cantik jelita siluman itu. Memang parasnya tak biasa. Kecantikannya seakan tidak seperti manusia pada umumnya. Agra menatap wajah cantik yang sempurna itu. Juga badannya yang begitu putih, mulus serta ramping bagaikan model. Memang wanita sempurna dari luar. Agra terkesima sebentar melihat semua itu sampai dia teringat kembali bahwa Zanna adalah siluman. Dia akhirnya tak jadi terkesima dengan kecantikan dan keelokan Zanna itu.
"Kamu, kamu tenang aja. Aku gak bakal celakai kamu lagi kok," ucap Zanna mengerutkan alisnya sedih.
Agra ternganga melongo mengerutkan kedua alisnya.
Zanna terlihat memang mencoba mendekatinya sekarang. Zanna mengangguk kecil meyakinkannya. Agra lalu membuang pandangannya ke bawah mencoba rileks juga dan pelan-pelan mengubah posisinya seperti semula. Agra kini tak berani menatap matanya.
Zanna terlihat juga merasa gugup sekarang karena baru kali ini ia berinteraksi dengan manusia sedekat dan sebaik ini.
"Gue minta maaf, karena terus maksa dan ngikutin lo. Gua cuman gak mau lo kenapa-kenapa karena kalau manusia. Cewek itu harus di jaga karena... takutnya di ikutin preman jahat," ucap Agra mencoba menjelaskan padanya.
Zanna langsung menatap ke matanya. Zanna sekarang seakan merasa bahwa Agra memang manusia yang baik.
"Preman?" tanya Zanna sepertinya ia masih belum banyak tau dengan sebutan di kehidupan manusia.
Agra kini juga terlihat sedikit tenang dengan sikap Zanna yang memang sekarang tak berbahaya dan marah lagi seperti tadi. Agra menarik nafasnya mencoba menenangkan dirinya.
Agra lalu mengangkat kedua alisnya dan mengangguk.
"Iya, preman itu adalah manusia yang berperilaku jahat. Dia suka mencelakai orang apalagi cewek kayak kamu," jawab Agra memberitahunya. Zanna terdiam mendengar semua itu. Ia menunduk.
Agra semakin penasaran dengan dirinya sekarang.
"Maaf, kalau gak salah. Nama kamu Zanna kan?" tanya Agra hati-hati.
Zanna menengok ke arahnya. Ia sekarang mau tersenyum dan tak menyangka Zanna mengangguk. Agra tak percaya dengan hal itu.
"Ah hee, oke. Kenalin, kalau nama gue Agra," ucap Agra nyengir polos seraya mengulurkan tangannya tanpa dosa ke Zanna. Zanna menatapi tangan itu. Ia lalu menengok ke arah Agra.
Agra mencoba terus ramah padanya meski hatinya masih merasa takut pada Zanna.
Zanna sekarang terlihat lebih nyaman dan tak merasa was-was lagi pada Agra. Ia mau tersenyum dan membalas menuruti Agra. Agra tersenyum senang melihatnya.
"Hmm, kamu. Kamu yang kembali ngobatin luka aku? Aku merasa pulih kembali sekarang loh," kata Agra terus mencoba bersikap baik padanya. Zanna kini hanya tersenyum melihatnya. Agra yang melihat senyuman menawan itu seakan salah tingkah karenanya.
"Makasih ya, kamu ternyata makhluk yang baik," kata Agra. Zanna terdiam mendengar itu.
"Ehmm, kalau kamu jadi manusia. Jujur, kamu itu cewek yang sangat cantik Zanna," beritahu Agra. Zanna semakin terdiam menatapi Agra.
"Ehm maaf aku genit ya hmm maaf. Aku cuman kasih tau aja kok," kata Agra. Zanna hanya diam. Agra semakin takut sekarang karena itu tapi ternyata tak di sangka Zanna tersenyum mendengarnya.
"Terimakasih," jawabnya. Agra sungguh tak menyangka.
"Kamu paham?" tanya Agra mencondongkan wajahnya tanpa dosa pada Zanna. Zanna melotot padanya.
Agra terlihat tersenyum melotot tanpa dosa di hadapannya. Zanna hanya melotot heran mengerutkan alisnya. Agra pun tersadar dengan tingkah konyolnya itu. Dia lalu menjauhkan wajahnya dari Zanna dan kembali duduk bersila seperti tadi.
Zanna kini menunduk diam. Sepertinya dia juga bingung karena canggung.
"Emm Zanna. Kamu jangan merasa takut lagi ya sama aku? Aku benar-benar tidak berniat jahat sama kamu yang ada, aku yang takut banget sama kamu. Karena aku cuman manusia biasa, gak kayak kamu. Punya kekuatan yang luar biasa seperti itu," jelas Agra berterus terang. Zanna kini menatapinya membelalakkan matanya. Kini ia semakin percaya bahwa Agra memang manusia yang memiliki hati yang baik tidak mencelakainya dan hanya ingin berteman dengannya.
Zanna kembali tersenyum karenanya.
"Iya, kamu juga jangan takut lagi sama aku ya. Aku cuman trauma, karena dulu, orangtuaku di bunuh oleh manusia," jawab Zanna. Betapa terbelalaknya Agra mendengar hal itu. Kini dia mencoba duduk mendekati Zanna. Manusia itu sekarang sudah tak merasa takut lagi pada Zanna.