EPISODE 4 - APA YANG DIINGINKAN HATI

2005 Kata
Dion memarkirkan mobil di tempat biasa. Aleysha terlihat sudah menunggu kedatangan Rafael sejak tadi di depan kantor. Kaki pria itu kembali menjejak di atas karpet merah yang tersedia setiap saat di sana. "Assalamu'alaikum Pak Rafael," sapa Aleysha. "Wa'alaikumsalam Aleysha, ambil ini!" balas Rafael sambil menyerahkan sekotak makanan pada Aleysha. Aleysha menerimanya dengan ekspresi terkejut, sementara Dion hanya bisa terkikik geli dengan respon yang Aleysha berikan terhadap Rafael. "Aku tidak ingin kau pingsan hari ini, jadi sementara aku shalat dhuha, makanlah sampai habis," perintah Rafael. Pria itu segera berlalu menuju ke arah lift, Dion segera mengambilkan sajadah dari mushala agar Rafael bisa melaksanakan shalat dhuha dengan tenang di ruangannya. Aleysha sendiri duduk di mejanya sambil menyantap makanan yang Rafael berikan. Namun hal itu tak bertahan lama, karena orang-orang dari B&Z Corp tiba tak lama kemudian. Aleysha menyambut mereka, sekaligus mengarahkan agar mereka segera menempati ruang rapat yang akan digunakan hari itu. "Mohon menunggu sebentar, Bapak Rafael sedang melaksanakan shalat dhuha terlebih dulu dan sebentar lagi akan selesai," ujar Aleysha, memberi pengertian. "Katakan padanya untuk tidak perlu terlalu religius. Melakukan ibadah pada jam seperti ini hanya akan membuat kita kehilangan banyak penghasilan," ujar Vini - pemilik B&Z Corp sekaligus mantan tunangan Rafael yang tak diketahui oleh Aleysha. Aleysha sangat tak menyangka akan mendapat kata-kata seperti itu dari calon relasi perusahaan milik Rafael. Ia merasa tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat ketika mendengar seseorang mengusik mengenai ibadah yang dilakukan oleh Bos-nya. Rafael sendiri - yang tentu sangat mengenali suara Vini - menggeram hebat di depan pintu ruang rapat, tepat di samping Dion. Ia bahkan sampai menghentikan langkahnya untuk tidak memasuki ruang rapat. "Maaf sekali Nyonya Vini, saya rasa pekerjaan tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim. Jika memang waktunya beribadah telah tiba, maka orang tersebut mempunyai hak yang besar untuk menghentikan pekerjaannya dan menyegerakan ibadahnya," Aleysha berupaya memberikan pengertian pada Vini. Vini menatapnya tak senang, wajah wanita itu terlihat mengeras karena kesal telah dibantah oleh seorang sekretaris. "Beraninya kau menceramahiku! Apa kau pikir Bosmu akan membelamu, jika dia tahu kalau kau baru saja menceramahi pimpinan dari calon relasi perusahaannya?" ejek Vini, geram. Krekkk!!! Pintu ruang rapat terbuka, menampilkan sosok Rafael dengan pesonanya yang begitu luar biasa. Pria itu mendekat ke arah Aleysha, dan membuat Vini tersenyum penuh kemenangan karena mengira kalau wanita itu akan diberi teguran karena telah mengacau. "Kenapa tidak menghabiskan sarapanmu terlebih dahulu? Bukankah aku sudah memerintahkanmu agar tidak pingsan hari ini akibat kelelahan?" tanya Rafael, sambil kembali menyodorkan kotak makanan yang tadi ditinggalkan oleh Aleysha di mejanya. Vini kecewa sekali saat melihat bagaimana sikap Rafael yang bukannya memarahi sekretarisnya, malah justru mengkhawatirkannya. Kekesalannya bertambah memuncak saat melihat bagaimana Rafael begitu peduli terhadap wanita itu, meski hanya melalui sebuah kotak makanan. "Duduklah di kursi sampingku, makan sampai habis selama rapat hari ini berlangsung! Jangan membantah!" perintah Rafael. Aleysha pun hanya bisa mengangguk patuh, lalu benar-benar duduk di kursi samping pria itu untuk memulai kembali menyantap makanannya. Vini memutar kedua bola matanya dengan sebal saat melihat Aleysha makan dengan nyaman. Ia menatap ke arah Rafael sekarang, dengan ekspresi penuh dengan protes, persis seperti dulu ketika mereka masih bersama. "Apa kau tahu, kalau sekretarismu ini baru saja menceramahi aku?" adu Vini. Aleysha mendelik selama beberapa saat, ia tak menyangka kalau Vini akan mengadukannya pada Rafael, seperti anak kecil. "Oh ya?" Rafael balik bertanya tanpa menatap ke arah Vini, "maka dari itu sebaiknya kau tak mengatakan apapun yang akan memancing sekretarisku berceramah. Dia memang selalu menceramahi siapapun orang yang menurutnya telah bersikap tidak pantas, dan itu memang tugasnya selama dia bekerja di perusahaan ini." Vini ternganga mendengar tanggapan dari Rafael mengenai apa yang telah Aleysha lakukan. Ia benar-benar tak mengerti, mengapa Rafael menjadi begitu lunak pada bawahannya. Padahal dulu, pria itu sama sekali takkan membiarkan siapapun merusak suasana yang berhubungan dengan calon relasi perusahaan. "Sejak kapan seorang sekretaris menjadi begitu berharga bagimu ketimbang calon relasi perusahaanmu?" bentak Vini. Rafael pun segera memberikan tatapan datar yang begitu menusuk ke arah Vini tanpa ragu-ragu. Srettt!!! Pria itu pun mulai merobek berkas berisi perjanjian kerja sama yang seharusnya mereka bahas. Aleysha maupun Dion terdiam seketika saat melihat apa yang Rafael lakukan dengan sangat santai. Srettt!!! "Aku tidak suka saat ada orang asing yang masuk ke kantorku, lalu dengan seenaknya mengatur-atur apa yang harus kulakukan!" tutur Rafael, dingin. Srettt!!! "Aku juga tidak suka, saat orang asing tiba-tiba mengatur-atur waktu ibadahku dan bahkan melarangku untuk beribadah! Nyawaku ada di tangan Allah, bukan di tanganmu. Jadi kau tak punya hak sama sekali untuk mengatur-atur kapan aku harus beribadah!" Srettt!!! "Terakhir..., aku tidak suka, saat orang asing berusaha menyakiti calon istriku dan bahkan mengusik ketenangan hidupnya!" Ucapan terakhir Rafael membuat semua orang yang hadir semakin terngaga akibat dari rasa terkejut. Begitupula dengan Vini ataupun Aleysha sendiri, saat itu. "Ya..., benar sekali. Aleysha Anggraini yang saat ini menjabat sebagai sekretarisku, adalah calon istri yang akan segera kunikahi dalam waktu dekat. Jadi, Nyonya Vini Indira Larasati, silahkan keluar dari kantorku dan jangan pernah kembali lagi!" tegas Rafael. Pria itu pun segera bangkit dari kursinya, ia berbalik hendak keluar dari ruang rapat itu. BRAKKK!!! Vini memukul meja dengan sangat keras, sehingga Aleysha harus memegangi dadanya akibat rasa kaget yang luar biasa. "Kenapa dulu kau tak pernah bersikap melindungi saat masih bersamaku, El??? Kenapa kau bersikap begitu baik pada wanita yang derajatnya lebih rendah dariku??? Kenapa El??? Kenapa???" Teriakan Vini yang keras dan begitu dipenuhi dengan tuntutan atas pertanyaannya terhadap Rafael, membuat Aleysha kini menutup mulutnya sendiri. Rafael pun kembali berbalik dan menatap Vini dengan ekspresi jijik luar biasa. "Kau merasa derajatmu lebih tinggi dari calon istriku? Lucu sekali, Nyonya Vini. Seingatku hubungan pertunangan kita berakhir karena aku mendapati dirimu yang tengah tidur di hotel dengan laki-laki lain!!! Katakan padaku, di mana letak derajatmu saat itu, hah???" Untuk pertama kalinya, Aleysha menyaksikan bagaimana Rafael benar-benar marah besar terhadap seseorang. Dion menarik tubuh Rafael keluar dari ruangan agar tak menjadi lebih marah lagi terhadap Vini. Aleysha pun segera membereskan semua berkas yang berserakan lalu menyusul langkah Dion ke ruangan milik Rafael. "Suruh sekuriti mengusir wanita sial itu sekarang juga!!!" perintah Rafael. Aleysha melihat Dion yang keluar dari dalam ruangan milik Rafael, Dion menatap ke arah Aleysha yang sudah memucat luar biasa karena merasa takut akan kemarahan Rafael. "Bagaimana keadaan Pak Rafael, Pak Dion?" tanya Aleysha. "Saat ini dia masih dalam kondisi marah. Sebaiknya kita biarkan saja dulu agar kemarahannya segera mereda," jawab Dion, sekaligus memberi saran. "Ini semua salah saya. Seharusnya saya mencari tahu dulu siapa pimpinan B&Z Corp yang akan menemui Pak Rafael. Saya benar-benar tak tahu kalau wanita tadi adalah mantan tunangan Pak Rafael," sesal Aleysha, yang sangat merasa bersalah. Dion menghela nafasnya dengan susah payah. "Ini bukan salahmu, jadi berhentilah menyalahkan dirimu," ujar Dion. Tiit... "Aleysha, bawakan berkas yang harus kutinjau hari ini," pinta Rafael, melalui intercom. Aleysha pun segera menekan tombol intercom di mejanya. "Baik Pak, akan segera saya bawakan," jawab Aleysha. Di lain tempat, setelah Vini dan beberapa bawahannya di usir dari GEC, Vini segera mengamuk di ruangannya sendiri akibat rasa tak terima akan perlakuan Rafael terhadapnya. "Sialan!!! Sialan kau Rafael!!! Beraninya kau mempermalukan aku di depan banyak orang seperti itu!!! Aku tidak akan memaafkanmu!!!" Teriakan Vini yang begitu histeris membuat beberapa karyawan di perusahaannya mulai berbisik-bisik di luar sana. Mereka kini tahu apa penyebab dari berakhirnya hubungan pertunangan antara Vini dan Rafael enam tahun yang lalu, dan mereka mulai banyak yang menyesal karena pernah menyalahkan Rafael sebagai penyebabnya. Namun akhirnya, kenyataan telah terkuak. Vini sendiri juga mengingat hal itu dengan jelas, dan bahkan menyesalinya. Hanya saja, ia sangat tak terima karena Rafael kini telah melupakannya dan memilih seorang wanita dari kalangan biasa untuk menjadi pendamping hidupnya. Ia tahu kalau dirinya memang telah melakukan kesalahan, tapi bukan berarti, Rafael bisa membandingkannya dengan wanita dari kasta rendah seperti sekretarisnya itu. Harga diri Vini seakan baru saja diinjak-injak, dan ia tak dapat membiarkannya. "Tunggu saja El, aku akan membuat dia membencimu sampai mati! Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka dia juga tidak boleh memilikimu!" sumpah Vini, penuh dendam. * * * Renata ternganga setelah mendengar penjelasan dari Dion yang sedang membantu Rafael menjelaskan semua hal yang terjadi di kantor pagi tadi. "Apa kau bilang???" Renata meninggikan suaranya di depan Dion. "Bu..., bukan aku yang bilang," Dion menghindari amukan Renata. Renata pun segera menoleh ke arah Rafael yang sejak tadi diam saja. Ia mendekat, seakan meminta penjelasan. "Kau sudah mendengarnya dari Dion. Ceritanya sudah sangat lengkap," ujar Rafael. "Aku tahu, El! Tapi bukan itu penjelasan yang ingin kudengar darimu! Aku ingin tahu, apakah kau serius saat mengatakan bahwa kau akan menikahi Aleysha, atau kau hanya menggunakan hal itu untuk menghindari Vini?" tanya Renata. Rafael menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat. "Apa kau pikir aku ini sebajingan laki-laki lain di luar sana?" Rafael bertanya balik, "tentu saja aku mengatakan hal itu bukan hanya untuk menghindari Vini! Aku sudah melupakan perempuan tak tahu diri itu sejak lama, Ren. Aku mengatakan bahwa aku akan menikahi Aleysha, karena hatiku menginginkan begitu," jelas Rafael. Kini Dion-lah yang dibuat ternganga oleh pengakuan yang Rafael utarakan. Ia sungguh tak menduga sama sekali kalau pria itu serius akan perkataannya tadi pagi. Entah bagaimana ekspresi Aleysha ketika tahu nanti bahwa Rafael tak main-main dengan ucapannya, Dion sungguh tak mampu membayangkan. "Lalu menurutmu, kira-kira bagaimana tanggapan Aleysha? Apakah dia akan menerima, jika pada akhirnya kau benar-benar akan menikahinya?" Renata kembali mengajukan pertanyaan. Tok..., tok..., tok...!!! Semua menatap serempak ke arah pintu yang terdengar diketuk dari luar. "Masuk," ujar Rafael. Aleysha pun masuk setelah membuka pintu ruangan itu. Di tangannya terdapat setumpuk berkas yang baru saja selesai ia kerjakan. Wanita itu meletakkan semuanya di meja milik Rafael, Renata pun memperhatikannya dengan wajah yang sepenuhnya merasa tak enak hati. "Semua berkas itu telah saya selesaikan, Bapak hanya perlu menandatanganinya saja," ujar Aleysha. Rafael pun segera membuka berkas-berkas itu dan mulai menandatangani satu persatu. Renata melambaikan tangannya pada Aleysha dan meminta wanita itu agar duduk di sampingnya. Aleysha pun tersenyum, ia menuruti apa yang Renata mau. "Begini Aleysha, aku sudah mendengar semuanya yang terjadi pagi tadi dari Dion dan juga dari Adikku sendiri," ujar Renata. Aleysha memperhatikan dengan seksama. "Dan aku, ingin meminta maaf karena Rafael telah dengan lancang menjadikanmu kambing hitam, bahkan mengatakan di depan banyak orang bahwa kau adalah calon istrinya dan dia akan menikahimu dalam waktu dekat," ungkap Renata. Aleysha pun tersenyum mendengar hal itu. "Jangan meminta maaf Bu Dokter, Pak Rafael tidak melakukan kesalahan sama sekali," balas Aleysha. Rafael pun tersenyum, ia merasa sangat percaya diri bahwa Aleysha juga pasti akan menerimanya jika ia benar-benar akan menikahi wanita itu. "Saya menganggap hal itu sebagai hal yang biasa dan hanya sekedar pertolongan. Lagipula, saya tidak punya perasaan apapun pada Pak Rafael, beliau hanya atasan saya dan saya merasa wajib menolong beliau jika sedang terdesak," tutur Aleysha, sangat rendah diri. DEG!!! Senyum di wajah Rafael pun sirna seketika setelah mendengar apa yang dituturkan oleh Aleysha. Ia sangat tak menduga dengan jawaban yang akan didapatnya dari wanita itu. Renata menangkap ekspresi terkejut pada wajah Adiknya, Dion pun yang masih berdiri di dalam ruangan itu juga sama kagetnya dengan Rafael. Aleysha pun berdiri dari sofa untuk kembali mengambil berkas yang sudah selesai Rafael tanda tangani. Wanita itu pun segera berpamitan pada Renata lalu keluar dari ruangan itu. Kini Rafael menatap ke arah Renata dan Dion bergantian. "Katakan, aku tidak ditolak, 'kan?" tanya Rafael. Dion dan Renata tersenyum meringis saat mendengar pertanyaan itu. "El, bersabarlah. Kau baru saja ditolak secara langsung oleh Aleysha," jawab Renata, tanpa ingin memberi harapan tinggi pada Adiknya. Rafael pun segera bangkit dari kursinya lalu berlari keluar ruangan. Aleysha sudah tak ada di mejanya, Rafael baru menyadari kalau jam sudah menunjukkan pukul lima sore, di mana artinya sudah waktunya pulang bagi para karyawan. Ia pun segera berlari kembali menuju lift untuk menyusul langkah Aleysha yang mungkin belum terlalu jauh. Namun sayangnya, saat ia tiba di lobi, ia melihat sosok Aleysha yang sudah menaiki taksi dan pergi dari area kantor. "Aleysha!!! Kembali sekarang juga!!!" teriak Rafael. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN