Rafael membaca berkas yang ada di tangannya sambil memperhatikan pembangunan yang sedang berjalan di hadapannya. Aleysha terus saja duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan oleh perusahaan yang bekerja sama dengan GEC atas peksaan dari Rafael, namun wanita itu mulai merasa tak enak hati saat CEO perusahaan yang bekerja sama dengan GEC terus saja menatap ke arahnya dengan tajam.
“Ah, maaf, bisakah kau mengambilkan berkas yang ada di mejaku di ujung sana?” pinta Ghea–CEO Harlinjaya Corp–dengan nada sangat halus.
“Oh…, ya…, tentu. Akan segera saya ambilkan,” jawab Aleysha.
“Jangan, Aleysha! Duduk kembali, di tempatmu!” perintah Rafael dengan keras.
Aleysha pun terkesiap untuk beberapa saat, lalu kembali menuruti apa yang Rafael perintahkan. Sementara Ghea menatap tak percaya pada Rafael yang memperlakukan sekretarisnya seperti seorang Ratu.
“Bukankah dia adalah sekretaris anda Pak Rafael? Sudah pekerjaannya jika dia harus mengambilkan berkas untuk atasan,” ujar Ghea.
Rafael menatap ke arah Ghea dengan tatapan dingin dan datar yang begitu menusuk. Ghea pun meneguk salivanya saat mendapati tatapan tak berperasaan seperti itu secara langsung dari Rafael Maurinho yang memang terkenal dengan kepribadiannya yang di luar dugaan. Sebelumnya, ia tak pernah berpikir akan menerima hal seperti itu secara terang-terangan. Namun kali ini, sepertinya ia harus siap untuk menghadapi secara langsung.
“Benar sekali pendapat anda,” balas Rafael, yanga mana balasan itu membuat hati Aleysha menjadi ikut tertusuk, “namun sayangnya, dia adalah sekretaris saya bukan sekretaris anda! Di mana posisinya, tidak untuk memenuhi apa yang anda perintahkan! Apakah anda paham?”
Ghea mengerejapkan kedua matanya beberapa kali untuk membuatnya sadar bahwa dirinya baru saja dimusuhi oleh Rafael Maurinho tanpa basa-basi sama sekali. Aleysha sendiri–yang awalnya kecewa–sampai ikut-ikutan terpaku atas kekasaran yang Rafael lontarkan pada Ghea. Kedua tangan Aleysha menjadi gemetar mendengar suara penuh kemarahan yang Rafael keluarkan, namun hal itu seratus persen mampu membuat nyali Ghea menciut dalam sekejap.
“I…, iya. Tentu saja saya paham maksud anda, Pak Rafael,” balas Ghea, yang tiba-tiba merasa gugup setengah mati.
Rafael pun menutup berkas yang ada di tangannya lalu bergegas berdiri untuk pergi dari hadapan Ghea. Aleysha pun segera mengekori langkah pria itu menuju ke luar area pembangunan, tempat di mana mobilnya diparkir. Dion yang sedang memeriksa ponselnya pun melihat kedatangan Rafael dengan wajahnya yang memerah luar biasa dan Aleysha yang entah kenapa memucat di belakangnya.
“Dasar perempuan tak tahu diri! Seenaknya saja menyuruh-nyuruh orang, seakan-akan dia adalah manusia yang harus dilayani oleh semua manusia! Benar-benar tak punya malu!” umpat Rafael dengan suaranya yang keras.
Dion membukakan pintu mobil untuk Rafael dengan cepat sebelum pria itu semakin meledak-ledak. Meskipun tak tahu apa alasan Rafael marah, Dion tetap lebih suka menjaga keadaan agar tetap tenang sampai jam kerja benar-benar selesai. Aleysha duduk di bagian depan seperti biasanya, Rafael kali ini tak bersuara setelah mobil meninggalkan lokasi pembangunan, pria itu sepertinya lebih memilih menatap jalanan yang mereka lewati ketimbang melanjutkan kemarahannya.
Aleysha kembali memeriksa jadwal yang ada di dalam buku catatannya untuk disampaikan pada Rafael, namun ia sedang menimbang-nimbang apakah waktunya sudah tepat untuk membicarakan jadwal selanjutnya sementara mood yang Rafael miliki masih dalam keadaan rusak total karena perkara Ghea.
“Pak Rafael,” Aleysha benar-benar mencoba.
“Hmm.”
“Saya akan memberitahu Bapak mengenai jadwal selanjutnya, jika Bapak tidak keberatan,” jelasnya.
“Hmm.”
Aleysha menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Ia tak mau Rafael tahu kalau dirinya sedang merasa serba salah akibat sikap dan mood pria itu yang sedang naik turun sejak pagi.
“Tapi jika Bapak sedang tidak ingin mendengarkan, maka saya tidak akan menyampaikannya,” tambah Aleysha.
Dion tentu saja mendelik dengan cepat setelah mendengar ancaman yang Aleysha lontarkan kepada Rafael. Meskipun seharusnya ia berkonsentrasi pada jalanan ketika sedang menyetir, Dion akhirnya lebih memilih melirik ke arah Aleysha, lalu melirik Rafael melalui kaca spion, secara bergantian.
“Ya, nanti saja sampaikan jadwalnya di kantor. Saya masih tidak mood saat ini,” balas Rafael, tenang.
Dion pun menganga diam-diam atas jawaban yang Rafael berikan pada Aleysha. Ia sungguh-sungguh tak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi pada diri Bos dan juga rekan kerja di sampingnya itu. Aleysha yang tiba-tiba berani sekali memberi ancaman pada Rafael, dan Rafael yang tiba-tiba melunak tanpa memarahi Aleysha yang mengancamnya.
“Apakah mereka berdua salah makan, pagi ini?” batin Dion.
Mobil baru saja tiba di depan gedung kantor, sosok Renata sudah terlihat dari kejauhan oleh Rafael. Wanita itu melambaikan tangannya lalu berjalan mendekat pada mereka.
“Aku ingin makan siang,” ungkap Renata.
“Assalamu’alaikum. Setidaknya ucapkanlah salam terlebih dahulu ketika kau menyapa seseorang,” sindir Rafael.
Renata pun hanya mampu menutup mulutnya sambil tersenyum malu. Dion memperhatikannya seraya berdiri di belakang Aleysha.
“Wa’alaikumsalam. Maaf, lingkungan tempatku bekerja sering membawa pengaruh yang berbeda,” balasnya.
Rafael hanya bisa menyipitkan kedua matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa saat.
“Lagipula, kau salah mendatangi tempat jika merasa kelaparan. Ini kantor, bukan restoran. Seharusnya kau ke restoran jika ingin makan siang,” balas Rafael, dingin.
Renata terkekeh melihat tingkah Adik kesayangannya, sementara Aleysha sudah gelisah karena takut kalau mood Rafael akan semakin memburuk.
“Aku ingin mengajak seseorang untuk makan siang denganku, makanya aku datang ke sini lebih dulu sebelum ke restoran,” jelasnya.
“Aku tak ingin makan siang bersamamu,” Rafael kembali membalas dengan cepat.
“Siapa yang ingin mengajakmu? Aku ke sini untuk mengajak Aleysha makan siang denganku.”
Rafael mendelik tak kentara lalu melirik sebal ke arah Renata yang masih tersenyum di tempatnya berdiri.
“Aleysha banyak pekerjaan. Dia akan makan siang denganku sambil membahas pekerjaan!”
Rafael terlihat tak ingin Renata membawa Aleysha pergi, sehingga membuat Renata bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika ia tetap memaksa membawa Aleysha bersamanya?
“Kau bisa bekerja sementara dengan Dion, dan Aleysha akan makan siang denganku. Sudah jangan banyak memberiku alasan, toh Aleysha tak perlu menyuapimu seperti bayi, ‘kan?”
Aleysha tersenyum tak enak pada Renata, namun ia benar-benar harus menolak ajakan itu sekarang juga sebelum mood Rafael semakin memburuk.
“Bu Dokter, saya rasa memang sebaiknya saya tidak pergi kemana-mana hari ini. Banyak sekali pekerjaan yang harus saya tangani bersama Pak Rafael,” ujar Aleysha, menjelaskan.
“Oh ayolah, jangan terlalu memenuhi peraturan yang Rafael buat. Kau punya kehidupan, di mana kehidupan itu terkadang harus kau nikmati meskipun hanya sekejap,” balas Renata.
Renata pun segera menarik tangan Aleysha hingga wanita itu–mau tak mau–mengikuti langkah Renata meski Rafael tak mengizinkan. Dion mendekat pada Rafael, dan hampir menyabarkannya. Namun Rafael lebih memilih mengekori langkah Kakak dan sekretarisnya untuk pergi ke sebuah restoran. Dion–lagi-lagi–merasa sangat dipenuhi dengan perasaan bingung tak menentu. Kini ia harus segera memutuskan, apakah ia akan ikut dengan mereka, atau tidak.
Rafael baru saja akan masuk ke dalam mobil, namun ia segera menoleh ke arah Dion yang masih berada di dekat mobil yang mereka pakai tadi.
“Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah secepat mungkin, sebelum kupotong gajimu!” perintah Rafael.
Dion pun segera berlari ke arah mobil milik Renata. Ia bergegas masuk ke dalam mobil itu dan duduk di samping Rafael di bagian belakang. Renata menyetir, Aleysha duduk di kursi sebelahnya. Mereka melewati perjalanan itu menuju ke sebuah restoran, namun entah restoran mana yang akan Renata pilih siang itu. Rafael memilih kembali diam seperti diperjalanan sebelumnya, sementara Dion dan Aleysha hanya bisa bertingkah kaku sekaligus serba salah dengan keadaan yang sedang terjadi.
“Kenapa kalian terus-menerus diam? Ayolah, bicarakan sesuatu. Sekali-sekali kita perlu mengungkapkan apa yang sedang kita rasakan, bukan hanya terus-terusan memendam lalu melupakan, seakan tak pernah terjadi apapun dalam hidup kita,” ujar Renata.
Rafael melirik ke arah Kakaknya sambil menyipitkan kedua matanya hingga terlihat sangat sinis, jika tak terbiasa dekat dengannya.
“Kini kau menjelma menjadi psikolog?” sindirnya–lagi.
Renata terkekeh pelan.
“Kau itu kenapa, sih? Kenapa selalu saja mengeluarkan sindiran di saat aku sedang menyarankan sesuatu? Apakah salah, jika aku ingin tahu mengenai perasaan seseorang?” tanya Renata.
Aleysha pun mengangkat tangannya, seakan-akan ia adalah siswi sebuah sekolah yang ingin bertanya pada Gurunya.
“Apa yang kau lakukan, Aleysha? Kenapa mengangkat tanganmu?” Rafael begitu terkejut saat melihat tangan kanan Aleysha yang terangkat.
“Sa…, saya…, ingin mengajukan pertanyaan, Pak. Tapi, pertanyaannya untuk Dokter Renata,” jawab Aleysha, terbata-bata.
Renata pun melirik ke arah Aleysha, lalu mengedipkan sebelah matanya pada wanita itu tanpa Rafael tahu.
“Bertanyalah, silahkan,” Renata menyambutnya.
Aleysha terdiam selama beberapa saat, seakan sedang menimbang-nimbang apa yang akan di tanyakannya pada Renata. Beberapa kali ia berusaha membuat dirinya tenang, namun rasanya ketenangan itu telah lenyap entah ke mana.
“Jika…, jika anda ada di posisi, di mana anda adalah seorang anak yang ditinggalkan oleh Ibu anda sendiri, apakah yang akan anda lakukan jika suatu saat Ibu anda kembali menemui anda?”
Hening. Selama beberapa saat suasana dalam mobil itu benar-benar mendadak hening luar biasa setelah pertanyaan dari Aleysha bergulir di tengah-tengah mereka. Renata berusaha mencerna pertanyaan itu sebelum memberikan jawaban, sementara Rafael kembali terdiam dengan ekspresi yang berbeda dari ekspresinya yang tadi. Dion memperhatikan hal itu, dan menyadari kalau Rafael sedang ikut berpikir terkait jawaban apa yang harus diberikan kepada Aleysha.
“Jika aku yang ada di posisi itu, kemungkinan besar aku tidak akan mengakuinya sebagai Ibuku, meskipun dia adalah Ibu kandungku,” jawab Renata, jujur, “namun karena itu bukanlah aku, tentu saja yang terjadi akan berbeda. Menurutku, dari sudut pandangmu yang tentu saja mungkin mengalami hal tersebut, bisa jadi kau harus mengajaknya berbicara. Mungkin kau harus bertanya padanya, tentang alasan mengapa dia meninggalkanmu. Terkadang, membicarakan masalah adalah jalan keluar untuk si masalah itu sendiri.”
Aleysha mendengarkan jawaban itu, dan terlihat seperti sedang menimbang-nimbangnya di dalam hati.
“Atau…,” tambah Rafael, “kau bisa membalas dengan mengabaikan kehadirannya lagi di dalam hidupmu. Jika dia membuangmu, artinya hidupmu tak berharga baginya. Lalu hal baik apa lagi yang kau harapkan, sehingga kau harus mengemis alasan mengenai kenapa kau ditinggalkan. Dibuang, ya dibuang. Ditinggalkan, ya ditinggalkan. Tidak ada pembicaraan yang bisa mengubah kenyataan pahit yang sudah terjadi. Karena terkadang membicarakan sesuatu masalah, hanya akan menimbulkan masalah baru lainnya yang akan membuat hidupmu tambah rumit. Jadi, berhentilah memikirkan yang tak perlu kau pikirkan.”
Renata menggigit bibirnya sambil menatap tak percaya ke arah Rafael melalui kaca spion bagian dalam. Rafael tahu akan hal itu, namun ia tetap memasang wajah datarnya.
“Wah…, sejak kapan kau beralih profesi menjadi seorang penasehat? Apa kau adalah pengacaranya sehingga bisa memberikan dia saran seenak hatimu?” Renata benar-benar mengeluarkan sarkasme dari mulutnya.
“Bagaimana dengan dirimu sendiri?” Rafael balik bertanya, “apa kau psikolog pribadinya sehingga bisa memberikan dia treatment pada batinnya? Kau tahu apa, tentang rasanya ditinggalkan, hah? Apa ada seseorang di dunia ini yang pernah meninggalkanmu sebelumnya, sehingga kau bisa menyarankan pada Aleysha untuk mencoba membicarakan masalah dengan Ibu yang telah membuangnya?”
Kedua Kakak-beradik itu kini mulai bersitegang satu sama lain, membuat Aleysha merasa menyesal karena telah mengajukan pertanyaan pada Renata. Dion tersenyum miring secara tiba-tiba sehingga membuat Rafael kini menoleh ke arahnya.
“Apa yang kau tertawakan?” bentak Rafael.
“Kalian bertengkar seperti anak kecil, tapi di dalam hati kalian masing-masing ada perasaan ingin saling melindungi di antara satu sama lain. Apa kalian menyadari itu?” ejek Dion.
Satu sarkasme lainnya bergulir di antara mereka, memberikan keheningan lain yang mengunci mulut masing-masing. Aleysha menoleh ke arah luar jendela mobil, memandangi gedung-gedung yang menjulang tinggi tanpa berusaha kembali mencerna kedua pendapat yang ia terima tadi. Rafael menatapnya dari balik sandaran kursi yang menghalangi mereka tanpa Aleysha sadari. Ia menangkap raut wajah penuh luka yang berusaha ditutupi dengan baik oleh kepolosan wanita itu sendiri. Luka telah membuatnya menjadi sosok yang tegar dan juga sabar dalam menghadapi apapun. Namun luka tetaplah luka, yang membawa rasa sakit serta perih tanpa bisa ditemukan penawarnya.
Mobil mulai berbelok ke sebuah restoran yang akhirnya dipilih oleh Renata, mereka pun segera turun dan memesan tempat untuk makan siang. Aleysha duduk di samping Renata ketika mereka telah menempati sebuah meja, Rafael berada tepat di hadapannya bersama Dion yang juga duduk di sampingnya.
“Maafkan keributan yang kami perbuat di mobil, tadi. Kami sudah terlalu biasa berdebat atau bertengkar hanya karena hal-hal remeh. Kami tidak bermaksud menyepelekan masalah yang kau tanyakan tadi,” ungkap Renata pada Aleysha dengan tulus.
Aleysha tersenyum ke arah Renata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.
“Saya mengerti, Dokter. Saya juga meminta maaf karena telah membuat keributan karena masalah pribadi saya sendiri. Seharusnya, saya tak menanyakan apapun, meskipun saya benar-benar membutuhkan jawaban untuk apa yang saya tanyakan tadi,” balas Aleysha, terlihat menyesali segalanya.
Renata pun mengusap punggungnya denga lembut, Rafael mengawasi kedua wanita di hadapannya sambil memakan daging steak yang baru saja diirisnya.
“Ke mana Ayahmu?” tanya Rafael, tiba-tiba.
Kedua wanita itu kini menoleh bersamaan ke arahnya. Dion pun ikut melirik ke arah Rafael seperti yang lainnya.
“Jangan tersinggung karena aku menanyakannya. Jujur saja, jika ada orang yang tepat untuk kau tanyakan saat ini mengenai masalahmu, tentu saja Ayahmu-lah jawabannya. Karena dia tentu lebih tahu, apa yang sebenarnya menjadi alasan Ibumu meninggalkanmu,” jelas pria itu.
Aleysha meremas kedua tangannya di bawah meja tanpa sepengetahuan siapapun. Ia berusaha menata hatinya dengan baik sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan yang Rafael ajukan untuknya.
“Ayahku, sudah meninggal sejak aku belum dilahirkan, Pak Rafael,” jawab Aleysha, tenang.
* * *