Masa Tenang

2411 Kata
Varrel: Kak, transfer dong 3k. Vio mendengkus jengkel saat menerima pesan berbau tidak sedap dari adik kandungnya itu. 3K bagi Varrel adalah tiga ratus ribu rupiah, bukan tiga ribu. Dan meskipun sering membuatnya jengkel, tapi Varrel adalah salah satu alasan terbesarnya untuk tidak memiliki anak dalam waktu dekat, adik kandungnya, adik laki-laki Vio satu-satunya. Reynaldi: Mbak Vio, saya mau ketemu sama Mbak Zia hari ini, wish me luck. Ia mengutuk marah ketika memeriksa pesan masuk selanjutnya. Reynaldi, orang yang Vio beri diskon enam juta untuk pesta pernikahannya bulan depan. Enam juta rupiah demi Inang, kesehatan kuping dan ketenangan jiwanya. Dan bodohnya, Reynaldi sudah menandatangi kontrak bermaterai mereka. Yang terlambat Vio ketahui setelahnya adalah, Zia ternyata jatuh hati pada lelaki matang di rumah sakit, orang yang sudah merawatnya selama lima tahun. Luar biasa sekali ya, hidup ini. Andai saja Vio tahu lebih awal kalau alasan Zia selalu menolak lelaki-lelaki baik hati nan malang yang ia tawarkan beberapa tahun ini adalah karena dokter ubin masjid itu, Vio pasti tidak akan sudi mengeluarkan banyak tenaga dan memangkas setengah harga paket pernikahannya untuk Reynaldi. Ia hanya harus menyuruh Varrel untuk berpura-pura menjadi sesajennya tahun ini, persembahan terakhirnya untuk Inang dan Zia. Enam juta rupiah yang membuat kepala Vio berdenyut siang ini. Kenapa tidak ia berikan saja pada Varrel uang itu? Pasti adiknya akan menyembah sujud, melakukan tarian penuh syukur sambil membawa segayung air, dan mengucapkan terima kasih pada Vio tanpa henti. Kenapa harus Reynaldi yang jadi pria beruntung itu? “Halo, Al?” Vio menempelkan ponselnya di telinga ketika nama Alan muncul di display sebagai tanda panggilan masuk. “Ada apa?” sambungnya karena tidak kunjung mendapat jawaban dari sana. “Vi, Dion mau minta tolong,” ujarnya ragu-ragu. “Minta tolong apa? Kenapa dia gak ngomong sendiri sama aku?” Violeva teralihkan suara berisik dari anak-anak sekolah yang masuk ke butiknya saat ini. “Nanti dia hubungi kamu sih.” “Selamat siang.” Vio menyempatkan diri menyambut tamu-tamunya lebih dulu sebelum mereka semua diurus oleh Maya. “Ya udah suruh dia ngomong langsung aja sama aku.” Vio kembali bicara pada suaminya. “Tapi emangnya apaan sih?” “Dia cuma minta anterin aja kok, mau minta izin sama kamu.” “Oh gitu,” jawab Vio keheranan sambil memandangi bocah-bocah SMA yang akan menyewa gaun dari butiknya. Kenapa bibir anak-anak itu merah sekali? Mereka pakai apa? Dan seragamnya, ya ampun ... ketat banget! Mungkin bagian lengannya langsung robek saat mereka kompak mengangkat ketiak. “Vi?” “Eh, iya, Al. Maaf banyak tamu ke butik.” “Oh, oke maaf ya udah ganggu. Nanti Dion hubungi kamu, tanya-tanya aja ke dia jelasnya.” Vio langsung menurunkan ponsel dari telinga ketika suara Alan diiringi nada terputus terdengar, ia tidak banyak memperhatikan lagi, karena terlalu kepo pada sesuatu yang merah merona seolah mereka habis menelan bayi hidup-hidup, dan menempel di bibir para gadis remaja ini. Tanpa ragu ia mendekati Maya dan menyeretnya untuk menjauhi anak-anak itu. “Kamu tahu nggak mereka pake lipstik merek apa?” tanya Vio tanpa basa-basi. “Oh, kalau dilihat dari warna dan teksturnya sih, itu liptint deh bukan lipstik. Kenapa? Ibu kepengen? Mau coba punya Maya?” Vio melotot heran sambil menjauhkan sedikit tubuhnya dari Maya. Apa-apaan itu? Maya mau melihat Vio seperti drakula yang berkeliaran di butik mereka? “Enggak.” Dia menggeleng cuek dan meninggalkan Maya untuk kembali pada para pengunjung butik, segera menghentikan pikiran absurd-nya setelah menyadari ponsel yang ia genggam berbunyi. Dion    : Mak, gue pinjem Alan sebentar boleh, ya? Mau minta anter. Oh, ini rupanya yang dimaksud Alan barusan. Mereka berdua aneh memang, seperti bocah yang minta izin pergi pada ibu kosnya, di sini Vio adalah ibu kos itu. Vio       : Boleh, emang mau pada ke mana sih, Di? Dion    : Ada perlu doang sih. Vio      : Iya, ke mana? Gue kan nanya mau ke mana? Bukannya lo sama Dian lagi honeymoon? Lo cuti, kan? Bawa aja gih mobilnya Alan, apa mau bawa mobil gue? Dion    : Gue gak punya SIM kali, Mak. Vio      : Oh, iya gue lupa hehe. Ya, boleh sih, pergi aja. Tapi kalo lo berdua honeymoon, gak lucu aja kan husband gue jadi kambing, jadi supirnya doang. Violeva menyertakan emoticon menangis di ujung, harapannya ada ajakan basa-basi dari Dion untuknya dan meminta Vio untuk ikut juga. Sepertinya akan menyenangkan jalan-jalan berempat, Vio dan Alan mungkin bisa bulan madu kedua. Meskipun akan sangat membosankan karena Vio tidak bisa mengobrol banyak dengan Lisdian. Vio      : Di, sebelum berangkat dinner dulu yuk di rumah gue, gue masakin kalian. Dion    : Gimana nanti ya, Mak. Vio      : Kalian mau ke mana sih? Kita gak staycation di hotel aja gitu, Di? Dion    : Duh, gak tahu gue, Vi. Itu udah bukan ranah gue deh sekarang, urusan keuangan dipegang sama Lisdian. Ya ampun, Dion ... baru nikah tiga hari saja sudah begini. Memangnya uang amplop resepsi kemarin sudah habis? Masa untuk menginap di hotel dan bulan madu saja sampai harus menanyakannya dulu pada menteri keuangan yang baru menjabat beberapa hari? Vio      : Oh, gitu. Ya itu urusan lo sih ya, gue mah bodo amat hehehe. Violeva mengakhiri sesi mengobrolnya dengan Dion sampai di sana karena tampaknya teman Alan itu tidak berniat meneruskan lagi. Menjengkelkan, sama sekali tidak ada ajakan basa-basi untuknya ataupun menerima undangan makan bersama dengan sikap yang baik. Vio memutuskan untuk mengabaikan perasaan jengkel ini, membuka aplikasi dating yang biasa menemaninya sehari-hari waktu ia dan Alan sering perang dingin. Dan tidak mendapati satupun pesan masuk untuknya, Ares tidak menghubunginya lagi. Yang terakhir kemarin obrolan mereka disudahi dengan sikap kekanakan Ares pada Ayu karena tidak mau ditinggalkan. Ada-ada saja memang hidup ini, anehnya Vio juga merasa kehilangan teman mengobrolnya itu, meski ia tahu bahwa hubungannya dengan Ares adalah sebuah kesalahan.   ****   Chichken chaseur dengan saus jamur dan mashed potato adalah menu favorit Alan satu tahun belakangan. Violeva menyiapkannya sejak satu jam yang lalu karena butuh konsentrasi dan kesiapan matang untuk memasak makanan ini. Ia berbelanja bahan tambahan sepulang dari butik, barangkali Dion dan Alan berubah pikiran untuk makan bersama sebelum pergi, Vio menyiapkan sedikit lebih banyak untuk mereka. Saat d**a ayam kedua dimasak dan menghasilkan bunyi berdesis di panggangan, Vio melihat Alan muncul dengan kemeja kerjanya yang tidak dikancingkan semua. Entah kenapa dia suka sekali memperlihatkan aurat seperti itu, membuat Vio gatal-gatal ingin membuka—maksudnya, mengancingkan bajunya. “Aduh, Alan ...” Vio menyambutnya setelah mematikan api kompor dan menyongsong kedatangan lelaki itu, mulai menyentuh kancing-kancing bajunya yang terlepas. “Kok dikancingin lagi sih, Vi? Kan ini bajunya juga mau dibuka.” Violeva terkekeh. “Pake dulu, habis makan buka lagi.” “Kamu yang bukain?” Alan mengerling nakal. ”My pleaseure.” Lalu keduanya tertawa geli. Violeva kembali ke depan alat pemanggang sementara Alan, dengan sangat pengertian membantu Vio merapikan kekacauan lain di dapur mereka. Mengelap meja, menyimpan sisa bahan makanan yang berserakan ke kulkas, menyusun gelas dan piring di kabinet, sebelum akhirnya mendekati Vio dan memeluknya dari belakang. “Feeling-ku bagus banget hari ini, ternyata ini kenapa aku pengen buru-buru pulang.” Alan dan bulu-bulu wajahnya itu menempel di tengkuk Vio, membuatnya menggeliat. “Feeling kamu emang bagus kalo menyangkut makan memakan.” “Yap, apalagi memakan kamu.” Alan tertawa geli setelah mendaratkan ciumannya di leher Violeva, dan tidak ditanggapi serius oleh pasangannya itu. Vio sibuk memperhatikan daging ayam mereka yang masih berdesis di grilled, sesekali mengolesinya dengan unsalted butter dan menungguinya dengan sungguh-sungguh. Ia khawatir sekali jika daging itu kehilangan sensasi juicy-nya kalau Vio lengah sebentar saja. “Vi, kamu udah ngobrol sama Dion?” Tiba-tiba Alan mengalihkan topik, meskipun ia sendiri tengah sibuk saat ini, menyiapkan mashed potato untuk hidangan makan malam mereka. Vio menoleh padanya sesaat, Alan terlihat stres akhir-akhir ini, sehebat apa pun ia menyembunyikannya. Vio tahu itu dengan mudah, kadang Alan menatap layar ponselnya dan menghela napas, ia juga sampai masuk kantor hari minggu kemarin. Mungkin karena Dion sedang cuti, jadi beban pekerjaannya bertambah berat. “Udah, kapan jadinya kalian berangkat?” Vio menjawabnya setelah jeda lama terbentang di antara mereka. “Nggak jadi pergi kok.” Alan tiba-tiba menatapnya curiga. “Aku kira kamu nggak izinin sampai Dion bilang gitu.” “Bilang apa?” Violeva mematikan api kompornya untuk kali kedua karena sekarang ayam panggang mereka sudah matang, meniriskannya ke piring pipih kesayangan sebelum menyiramkan saus jamur di atasnya. “Gitu deh, lebay pokoknya.” Vio dan Alan saling berpandangan. “Aku nggak ngelarang kamu pergi sama dia kok.” Buru-buru Vio mengoreksi kecurigaan suaminya. “Boleh aku baca chat kalian?” Vio merasakan satu pukulan besar di kepalanya, ia tertegun untuk beberapa detik. Rasa khawatir berlebihan langsung menjalar di d**a, kalau Vio memberikan ponselnya pada Alan, apakah ada jaminan suaminya itu tidak akan membuka atau mendapati aplikasi dating Vio dengan Ares? Bagaimana kalau—secara kebetulan, seperti waktu itu, Ares mendadak mengirim pesan ketika Alan diberi izin melihat ponselnya? Bagaimana Vio harus mengatasi ini? “Kamu ... nggak percaya sama aku?” Hanya itu pertahanan yang akhirnya meluncur dari Violeva. “Bukan, Vi. Bukan gitu, Sayang. Aku cuma mau lihat, mungkin memang Dion lagi sensitif aja apa gimana, kan? Aku mau mastiin aja kok, maaf ya? Aku gak curiga sama sekali sama kamu.” “Dan kamu masih mau lihat sampai sekarang?” Vio bergerak menjauhi Alan, mencoba untuk melindungi ponselnya. “Kamu tahu gak apa itu privasi? Hal yang bahkan gak boleh diusik meski itu punya pasangan kamu sendiri.” “Vi, ada privasi sebesar apa di hp kamu sampai sebegininya?” Ya ampun, pasti kali ini Vio salah bicara. Alan justru mulai mengendus hal tidak beres di sini, padahal dia tidak pernah membahasnya. Alan tidak pernah menyembunyikan apa-apa darinya, Vio bebas melihat ponselnya. “Violeva.” “Oke, Alan.” Dengan tangan gemetar, Vio cepat-cepat membuka jendela obrolannya dengan Dion tadi siang, lalu menunjukkannya pada Alan, dan berdoa sebanyak mungkin agar Ares tidak sedang dikirim Tuhan untuk menghukumnya sekarang. Vio tidak ada waktu untuk bergerak menjauh dan menghapus aplikasi itu lebih dulu sebelum menyerahkan ponselnya pada Alan. Dalam keheningan yang mencekam—bagi Violeva tentunya, mata Alan bergerak-gerak membaca rentetan pesan itu, jarinya menggulirkan sesekali, dan biasanya Vio selalu dibuat jatuh cinta dengan bulu mata yang memayungi kelopak matanya itu, tapi tidak kali ini. Ia berdebar sampai rasanya mau mati. “Ada yang salah?”  Alan menyerahkan ponsel itu kembali, dia sudah selesai dan mungkin juga terinterupsi karena barusan notifikasi pesan dari Mina muncul—Mina adalah penyelamat kali ini, Vio harus memberinya hadiah. “Nggak ada.” Alan menggeleng, wajahnya terlihat lebih santai sekarang. Ia berdiri menyandar di meja pantry sambil melipat tangannya di d**a, membiarkan Vio mengetik balasan pesan dari Mina. “Mungkin dia memang lagi sensi aja,” sambung Alan ketika Vio kembali melakukan kontak mata. “Dion bilang apa ke kamu memangnya?” Tanpa banyak bicara, Alan menyodorkan ponsel, membiarkan Vio membukanya dan mencari obrolan terakhirnya dengan Dion hari ini. Violeva membaca rentetan pesan itu dengan perasaan dongkol setengah mati. Kenapa sih orang ini? “Aku gak ngelarang kamu pergi sama dia hari ini, Al. Aku juga gak bilang kalau dia ngerepotin kita, kan?” Kenapa Dion membuatnya seolah-olah melarang Alan dan keberatan? Padahal Vio justru menunggu kedatangan Dion dan istrinya untuk makan bersama. “Iya, aku tahu.” Alan memegang bahu istrinya lembut. “Tapi gak ada salahnya kan minta maaf duluan? Sambil bercanda gitu, Vi. Bilang sorry kalau kesinggung atau gimana.” Violeva melangkah mundur, wajahnya berubah cemberut. Alan tidak menunjukkan keberpihakan yang dominan, tapi ia bisa merasakan itu. “Gak mau, aku gak salah. Kamu baca chattingan aku sama Dion ratusan kali dan temuin salah aku di mana.” “Vi ...” Vio mundur sekali lagi saat Alan berniat menyentuhnya. “Lagi sensitif harusnya gak usah chattingan sama orang!” Vio bersikeras membela diri. “Iya, aku setuju sama kamu, Vi. Tapi kan—” “Enggak,” bantah Vio sekali lagi. “Aku gak salah.” ”Fine. Kamu yang paling bener memang.” Alan menghempaskan benda yang ada di dekatnya, kalau tidak salah itu wadah aluminium tahan panas yang sering Vio pakai untuk merebus air. Suaranya nyaring berdenting sampai Vio terperanjat kaget dan ngeri, jantungnya berdebar tiga kali lipat dari debaran normal. Ia gemetar, lalu menatap Alan dengan tatapan ngeri. “Aku keluar dulu,” ujar Alan setelah lebih menguasai diri dan berjalan melewati Vio untuk menuju pintu keluar dari rumah mereka. Apa ini? Vio bahkan tidak dibela sama sekali, ia tidak dibujuk lagi. Dan ngomong-ngomong, mereka baru saja baikan akhir-akhir ini. “Alan!” Violeva mengejarnya tanpa mau membuang waktu lebih, dan menemukan lelaki itu sudah sampai di garasi. “Mau ke mana?” tanyanya dengan menggertakkan gigi. “Aku udah masak, Al.” Pertahanannya, hanya sampai di sini. Vio juga tidak mengerti kenapa dia sangat cengeng sekarang, matanya sudah berkaca-kaca. “Nanti aku makan, aku keluar dulu sebentar.” Suara Alan terdengar normal. “Kali ini mau berapa hari?” Vio menyeka sudut matanya yang menggenang dan merapatkan rahang. “Kali ini ... mau berapa lama jauhin aku?” “Sebentar, Vi. Nanti aku pulang dan kita makan bareng.” Bohong! Vio ingin meneriakinya andai ia sanggup, tapi yang tampak di sini justru kekalahannya, kelemahannya, dan kelelahannya. Ia lelah kalau harus membayangkan bertengkar dengan Alan lagi, mendiamkannya berhari-hari, daripada begitu lebih baik Vio mati. “Al, kamu ... bisa nggak ... kalau ada masalah itu, ngomong sampai selesai? Jangan pergi, jangan tiba-tiba pulang dan kayak gak terjadi apa-apa. Jangan datang ke aku pas kamu merasa udah lebih baik aja, sementara aku? Kamu mikirin gak perasaan aku yang ditinggal begini?” “Habis ini kita ngobrol, Vi. Aku janji.” “Al, please ... ini cuma karena Dion. Tolong jangan sampai kita berantem lagi, aku capek.” Di luar dugaan, Alan melangkah mendekatinya, tapi Vio tahu kalau aura yang dikeluarkannya kali ini berbeda. Ini bukan Alan yang tadi bicara baik-baik padanya, dia terlihat kusut dan kesal. “Aku pergi sebentar,” ucapnya penuh penekanan. “Biar aku bisa berpikir dan gak ngomong hal-hal yang bakal aku sesali nanti.” “Tapi ini cuma gara-gara Dion dong, Al. Ini sepele banget gak sih? Apa aku harus minta maaf sambil sujud-sujud? Itu kan mau kamu tadi?” “Vio, chatting kamu sama Dion tadi emang gak salah, yang salah itu kamu.” Alan menaikkan telunjuknya persis di depan d**a Violeva, membuat perempuan itu sesak napas seketika, ia mendongak dan mencari tentang kebenaran yang disampaikan suaminya. “Kamu dan semua kelakuan kamu ini, terutama pemikiran kamu.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN