Aku sempat ragu untuk menyusul teman temanku ke kafe tempat kami berkumpul setelah Nissa berlalu dengan Anto. Ada rasa malu dan tidak enak karena aku sempat mengajak mereka berdebat. Takut aja mereka malah menyukuri aku, karena aku keras kepala dan tidak percaya pada penilaian mereka terhadap Nissa. Satu satunya hal yang mungkin aku lakukan ya mengabari Omen kalo aku tidak jadi datang. Hanya Omen yang menurutku paling tidak perduli urusan cinta cintaan, pasti tidak akan ejek aku. Menurutku begitu waktu itu, jadi aku hanya menghubungi Omen, dan bilang kalo aku berada di rumahnya. Omen akan pulang pastinya, tidak mungkin akan nongkrong lama juga, karena bundanya sendirian di rumah. “Rol?, Omennya gak ada, katanya mau kumpul di tempat Kendi kerja. Kamu gak ikutan?” tanya bunda Omen begitu m

